Netral English Netral Mandarin
09:39wib
Sebanyak 75,6 persen warga menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Joko Widodo secara umum dalam survei yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto minta lakukan peningkatan kapasitas tempat tidur untuk pasien Covid-19 di rumah sakit sebesar 30-40 persen.
Jokowi Lembek di Tahun 2019, Tahun Ini Sangat Keras pada Kelompok Radikal, DS: Ampun Gann, Disapu Bersih

Rabu, 05-Mei-2021 15:58

Denny Siregar
Foto : Istimewa
Denny Siregar
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar membandingkan bagaimana Presiden Joko Widodo menyikapi radikalisme antara tahun 2019 dan tahun 2021. 

Menurut Denny, pada tahun 2019, Jokoi terlihat lemah banget alias lembek terhadap kelompok radikal. Namun di tahun 2021, Jokowi sangat keras.

"2019. 'Den, Presiden lu lemah banget sama kelompok radikal…" cuit Denny Rabu 5 Mei 2021.

Ia kemudian bandingkan dengan tahun 2021. 

"2021. 'Ampun, gann... Disapu bersih...," kata Denny.

Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu mengatakan aksi teror yang terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu sangat mengejutkan. 

Dia juga kembali menegaskan bahwa tidak ada tempat untuk terorisme di Tanah Air. Hal itu disampaikan Jokowi saat membuka Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). 

Presiden menilai, tindakan terorisme lahir dari cara pandang yang keliru dan paham yang salah. Pemahaman tersebut akhirnya bertentangan dengan nilai luhur, nilai agama. 

"Jelas-jelas merupakan kejahatan besar terhadap kemanusiaan yang mengancam kerukunan berbangsa dan bernegara," kata Jokowi pada pembukaan Musker PKB, Kamis (8/4/2021). 

Dia pun berpesan agar seluruh pihak turut bekerjasama dalam menangkal paham radikalisme guna mencegah hadirnya terorisme. 

Jokowi berharap PKB turut berperan dalam menebarkan moderasi beragama dan menjunjung tinggi toleransi.

“Sebagai partai yang ahlussunnah wal jamaah saya yakin PKB tidak akan kendor untuk menyemai nilai-nilai moderasi, tawassuth, tawazun, keseimbangan, dan menebarkan moderasi beragama, menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan antarsesama, sehingga radikalisme dan terorisme tidak ada lagi di Indonesia,” ujarnya. 

Jokowi menegaskan, selama ini pemerintah juga terus berkomitmen menghidupkan moderasi beragama dalam kehidupan bermasyarakat. 

“Eksklusifitas dan ketertutupan tidak sesuai dengan Bhinneka Tunggal Ika. Pemerintah tegas tidak akan berkompromi pada tindakan intoleransi yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

Dalam pidato tersebut Jokowi berpesan kepada para alim ulama PKB agar konsisten pada perintah Pendiri Nadhlatul Ulama KH. Hasyim Ashari, bahwa sikap nasionalisme dan taat agama tidak bertentangan, justru saling menopang.

“Saya percaya PKB hari ini, ke depan, dan seterusnya akan terus mewarisi semangat yang mulia tersebut, terus memperkuat fondasi keagamaan dan kebangsaan untuk mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr [negeri yang baik],” ujar Jokowi seperti dilansir Bisnis.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli