Netral English Netral Mandarin
11:18wib
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mengaku siap maju menjadi calon presiden (capres) di Pilpres 2024. Presiden Joko Widodo ingin agar pelaksanaan penyuntikan booster vaksin Covid-19 dilakukan mulai awal 2022.
Lieus Sembilan Prioritas Pembangunan Lima Tahun Jokowi Tak Terpenuhi

Sabtu, 04-September-2021 14:50

Lieus Sungkarisma
Foto : Istimewa
Lieus Sungkarisma
20

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tokoh Tionghoa yang juga mantan pendukung dan loyalis Jokowi, Lieus Sungkharisma menilai Sembilan Prioritas Pembangunan dalam lima tahun Presiden Jokowi yang digembar-gemborkan saat kampanye Pilpres 2014 tak ada yang terealisasi.

Bahkan di era periode kedua kepemimpinan Jokowi (2019-2024), dimana Jokowi kini berduet dengan Ma’ruf Amin (pada periode 2014-2019 Jokowi berdut dengan Jusuf Kalla), program nawacita tersebut nyaris tak pernah tersentuh.

"Begitu saya baca (lagi) Nawacita, kayaknya gak ada yang dipenuhi," kata Lieus dalam wawancara dengan Fadli Zon yang diunggah ke akun YouTube Lieus Sungkharisma seperti dikutip Sabtu (4/9/2021).

Ia mencontohkan tentang revolusi mental, Lieus memastikan tak ada perubahan mental dalam individu-individu bangsa Indonesia, malah makin parah.

Lieus menunjuk buktinya, yakni praktik korupsi di Indonesia. Kata dia, Jokowi pernah berjanji akan menerbitkan peraturan pengganti presiden (Perppu) untuk memperkuat KPK.

"Tapi orang yang sudah puluhan tahun nangkepin (koruptor) bisa nggak lulus (tes wawasan kebangsaan). Ngeri! Kok jadi begini," ujarnya.

Seperti diketahui, sepanjang 2014-2019 Nawacita digembar-gemborkan merupakan bagian dari visi dan misi Jokowi-JK, yang digaungkan sejak masa kampanye hingga masa jabatan pasangan itu selesai di 2019.

Dengan Nawacita, Jokowi-JK berharap Indonesia mampu berubah dan menjadi negara yang berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Sembilan prioritas Nawacita bahkan disebut-sebut mengilhami dan masuk menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang menjadi penuntun kebijakan pemerintahan Jokowi-JK selama lima tahun, sehingga menjadi pondasi pembangunan yang kuat di masa datang atau di masa setelah masa jabatan pasangan itu selesai, yang kini dilanjutkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin untuk periode 2019-2024. 

Jokowi dan para pendukungnya meyakini bahwa Nawacita bukan sekedar janji, namun petunjuk ke mana pembangunan akan diarahkan. 

"Tidak hanya dalam bidang ekonomi, visi Nawa Cita juga menyangkut prioritas pembangunan dalam bidang yang lain, seperti kebudayaan, pendidikan, dan pertahanan keamanan," demikian seperti dikutip dari laman kominfo.go.id.

Berikut kesembilan program dalam Nawacita tersebut:

1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang tepercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.

2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan tepercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.

3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan tepercaya.

5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat pada tahun 2019.

6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.

7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

9. Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.

Soal korupsi yang disinggung Lieus merupakan program yang keempat. Sementara soal revolusi mental merupakan program kedelapan.

Untuk program yang lain, kita dapat melakukan analisis kritis dengan cara membandingkan program itu dengan fakta yang terjadi saat ini.

Untuk program kesembilan misalnya yang berbunyi “Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga”, di era periode pemerintahan Jokowi (2019-2024) terlihat semakin jauh panggang dari api. Indikasinya adalah penangkapan terhadap aktivis dan ulama yang berada posisi berseberangan atau oposisi, seperti penangkapan terhadap aktivis Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat dan Habib Rizieq Shihab (HRS).

Nama yang terakhir bahkan harus rela kehilangan enam pendukungnya karena dibunuh oknum polisi di Jalan Tol Jakarta-Cikampek pada Desember 2020.

Dalam video hasil wawancara dengan Fadli Zon, Lieus mengaku pernah mendukung Jokowi karena ketika Jokowi masih menjadi walikota Solo, Jokowi mengundang pedagang kaki lima sampai lebih dari 50 kali sebelum menggusurnya, sehingga dia tertarik.

Lieus bahkan mengaku, sejak Jokowi masih di Solo itulah dia menjadi pendukungnya.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Sulha Handayani