Netral English Netral Mandarin
13:43wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Penting Caranya

Jumat, 15-Oktober-2021 07:11

Dedi Mahardi, Author dan Inspirator
Foto : Dokumen Pribadi
Dedi Mahardi, Author dan Inspirator
5

“Jangan hanya melihat wajah sumringah ketika memanen, tetapi lihat juga wajah lelah ketika menanam," (dm)

 

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Agama, aturan, adab dan etika serta budaya adalah perangkat yang dibuat untuk mengatur atau menata cara manusia berinteraksi dengan sesama manusia atau cara manusia menjalani kehidupannya. 

Oleh karenanya cara atau proses tersebut adalah sesuatu yang sangat penting untuk selalu menjadi pedoman dan pegangan bagi setiap orang dalam bertindak dan berbuat serta berusaha. 

Baca Juga :

Tujuan atau niat baik sebaik apapun jika dikerjakan dengan cara yang tidak baik maka hasilnya bisa tidak baik. Seperti halnya seseorang yang ingin memberi sesuatu kepada orang lain tetapi dengan cara melemparkan kemukanya atau cara tidak baik lainnya.

Namun sekarang ini sepertinya banyak orang tidak peduli lagi dengan cara atau proses bahkan banyak orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu atau menjalankan kehidupannya. 

Anekdot “sekarang ini untuk mendapatkan yang haram saja susah apalagi yang halal” sepertinya sudah benar-benar menjadi pegangan bagi sebagian orang. 

Sehingga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara mayoritas orang sudah tidak lagi melihat bagaimana seseorang menjadi sukses dan kaya raya atau menjadi pejabat tinggi. 

Baca Juga :

Dan tidak menjadi aneh juga jika kemudian tiba-tiba banyak pejabat tinggi yang baru menjabat beberapa waktu lalu ditangkap karena korupsi. 

Begitu juga dengan pengusaha yang tiba menjadi sangat kaya raya lalu ternyata memiliki usaha illegal atau terlibat korupsi atau kolusi dengan pejabat tinggi. 

Perubahan tata nilai diatas didorong pula oleh ketidakpedulian mayoritas rakyat bangsa ini terhadap cara atau proses, dan hanya peduli dengan hasil atau keadaan sehari-harinya. 

Siapa saja yang tiba-tiba menjadi sangat kaya dan sukses atau menjadi tinggi posisinya akan langsung menjadi idola atau public figure yang dikagumi oleh banyak orang. 

Apalagi jika sang idola juga sering pamer kemewahan berupa benda atau fasilitas dan lain sebagainya yang disiarkan oleh media masa atau sosial media. 

Sehingga tidak heran jika sekarang acara televisi yang tinggi rating jumlah penontonnya adalah acara pamer kemewahan tersebut. 

Akibatnya yang kaya makin kaya dengan segala cara dan yang miskin semakin miskin karena malas tidak mau belajar atau memperbaiki cara hidupnya serta tidak mau berusaha keras dengan cara yang sesuai aturan agama dan aturan hukum.

Jika seseorang tersebut menjadi kaya raya atau menjadi pejabat itu melalui proses yang baik atau halal tentu akan sangat baik untuk menjadi teladan bagi mereka yang juga ingin sukses. 

Namun jika tidak, tentu mereka akan mengarang cerita yang seolah-olah baik dan hebat bagaimana cara mereka meraih apa yang mereka nikmati sekarang. 

Namun ibarat sebuah film atau cerita fiksi, tentu saja semua rekayasa cerita tersebut tergantung kemauan sang sutradara. 

Makanya negeri ini sekarang menjadi “TUNA TELADAN” karena sulit sekali atau bisa dikatakan bisa dihitung dengan jari orang yang bisa dijadikan teladan di negeri ini. 

Karena sosok teladan tersebut bukan saja orang yang taat aturan atau hukum tetapi juga orang-orang yang punya berkarakter atau tahu diri dan malu hati. 

Mereka tidak lagi berada pada tataran salah atau benar tetapi berada pada tataran pantas atau tidak pantas, apa kata orang kalau saya sampai melakukan ini dan itu.

Tetapi sekarang jika ada yang mempertanyakan suatu kejanggalan maka mereka akan menjawab aturan membolehkan atau aturan tidak melarang dan lain sebagainya. 

Mereka yang merangkap jabatan atau menjadi pimpinan pada beberapa institusi sekaligus atau para anggota dewan yang membuat aturan fasilitas berlimpah dan mewah buat mereka sendiri tanpa peduli dengan kondisi rakyat yang mereka wakili.

Bicara proses atau cara ini, saya jadi ingat cerita waktu kecil di kampung dulu. Yang jika ada orang mendadak jadi kaya raya maka orang kampung tidak langsung mengaguminya tetapi akan dilihat dulu prosesnya. 

Jika orang tersebut menjadi kaya karena menjual tanah warisan maka orang kampung bukannya kagum, tetapi akan mencibir atau mengolok-olok. 

Misalnya orang yang menjual harta pusaka lalu uangnya dipakai untuk membeli sepeda motor maka akan dikatakan “itu orang sedang menunggangi neneknya”. 

Begitu juga jika yang mendadak kaya tersebut adalah perantau yang memamerkan kekayaannya dikampung, maka biasanya oleh orang kampung akan dicari tahu dari mana kekayaan perantau tersebut. 

Walaupun terlihat terlalu mencampuri urusan orang lain, namun budaya tersebut paling efektif untuk jadi kontrol masyarakat atau kontrol sosial terhadap pentingnya proses atau cara. 

Demikian, semoga tulisan singkat ini menginspirasi pembacanya untuk kembali kepada nilai-nilai luhur dan mulia sebagai anak manusia… Amiiin ya rabbal alamin.

Jakarta, 15 Oktober 2021

Penulis: Dedi Mahardi 

Inspirator-Author

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli