Netral English Netral Mandarin
21:50wib
Aparat dari satuan TNI dan Polri akan menjadi koordinator dalam pelaksanaan tracing (pelacakan) Covid-19 dalam Pemberlakuan Pembatasan Sosial Masyarakat (PPKM) yang kembali diperpanjang. Presiden Joko Widodo memberi kelonggaran selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 diperpanjang mulai 26 Juli hingga 2 Agustus 2021.
Dua Masjid Ini Berdiri Kokoh, Saksi Tsunami di Aceh

Senin, 03-Mei-2021 17:45

Masjid Baiturrahman di Banda Aceh.
Foto : Travel Aceh
Masjid Baiturrahman di Banda Aceh.
23

BANDA ACEH, NETRALNEWS.COM - Masih ingat kejadian tsunami di Aceh pada 2004? Air bah meluluhlantahkan berbagai bangunan kokoh. Namun, dua masjid ini justru menjadi tempat berlindung para korban tsunami.

Masjid Raya Baiturrahman


Jika ada sebuah tempat yang harus Anda kunjungi saat bertandang ke Banda Aceh, itu adalah Masjid Raya Baiturrahman. Inilah situs bersejarah yang telah ada sejak era kejayaan Kesultanan Aceh dan bertahan hingga saat ini. Masjid ini telah melalui berbagai hal, mulai dari tragedi pembakaran oleh kolonial Belanda tahun 1873 hingga hantaman tsunami di akhir 2004.

Masjid Raya Baiturrahman pertama kali dibangun di era Kesultanan Aceh. Bagian atap masjid ini dibuat sesuai dengan ciri khas masjid-masjid di Indonesia pada masa itu, atap limas bersusun empat.

Masjid ini berdiri pada tahun 1606-1636, tepatnya pada saat pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Masjid ini awalnya dibangun dengan tujuan untuk dijadikan sebagai pusat pengajaran ilmu agama yang ada di Nusantara.

Dilansir dari laman IndonesiaKaya, di Masjid ini terdapat dua versi sejarah mengenai riwayat pembangunan masjid ini. Sebagian sumber menyebutkan masjid ini didirikan pada 1292 M oleh Sultan Alauddin Johan Mahmudsyah. Sementara, sumber yang lain menyebutkan masjid ini didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada 1612 M.

Dalam perjalanannya, masjid ini pernah dibumihanguskan oleh Belanda saat serangan ke Koetaradja (Banda Aceh) pada 10 April 1873. Runtuhnya bangunan masjid memicu meletusnya perlawanan masyarakat Aceh. 

Mereka berjuang mempertahankan masjid hingga darah penghabisan. Pada pertempuran tersebut, pihak Belanda kehilangan seorang panglima mereka, Major General Johan Harmen Rudolf Köhler pada 14 April 1873.

Bangunan masjid lalu dibangun ulang oleh pihak Belanda atas perintah Jenderal Van Der Heijden. Pembangunan ulang masjid ini merupakan bagian dari upaya meredakan resistensi rakyat Aceh terhadap pendudukan Belanda. 

Proses pembangunan ulang Majid Raya Baiturrahman berlangsung pada 1879-1881 M. Arsitektur bangunan yang baru dibuat oleh de Bruchi yang mengadaptasi gaya Moghul (India).

Tempat wisata Aceh, berupa Masjid besar ini memiliki interior dan eksterior yang memiliki gaya Kesultanan Turki Ustamani yang sangat khas. Bangunan masjid ini didominasi dengan warna putih dengan kubah hitam yang berukuran besar dan terdapat 7 menara yang mengelilinginya.

Masjid ini mampu menampung hingga 1900 jamaah di dalamnya. Bagian luar dari masjid ini dihiasi dengan kolam serta air mancur yang ada di halaman masjid Baiturrahman ini. Tamannya yang dipenuhi rumput rumput berwarna hijau segar, membuat pemandangan masjid ini tampak begitu sejuk dan asri.

Masjid ini mulai dibangun ketika kerajaan Aceh dipimpin Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Tetapi, ada yang menyebutkan pembangunannya dilakukan pada masa sebelumnya. Sultan Iskandar Muda hanya melakukan perbaikan saja.

Di samping sebagai tempat ibadah, masjid ini juga difungsikan sebagai benteng pertahanan, seperti yang dilakukan Sultan Alaidin Mahmud Syah (1870-1874).

Di masjid ini sering pula diadakan musyawarah besar membicarakan strategi penyerangan dan kemungkinan serangan Kompeni Belanda terhadap Kerajaan Aceh Darussalam.

Masjid RahmatullahKetika terjadi Tsunami, seluruh bangunan hancur dan terhempas hingga ratusan meter ke arah daratan. Hanya sekitar 700 warga yang selamat, sedangkan ribuan lainnya menemui takdirnya ketika itu.

Dari semua kehancuran yang terjadi, ajaibnya Masjid Rahmatullah yang berjarak hanya sekitar 500 meter dari bibir pantai tetap berdiri dengan kokoh. Meskipun beberapa sisi bangunan masjid rusak, akan tetapi sebagian besar tetap utuh dan selamat.

Hal ini pun mengundang perhatian jurnalis dan fotografer lokal maupun internasional untuk mengabadikannya. Beberapa foto dari berbagai sudut, khususnya foto udara menunjukkan bagaimana keseluruhan kampung di sekitar masjid ini benar-benar rata dengan tanah.

Seiring datangnya bantuan dari dunia internasional, kondisi Aceh yang telah porak poranda perlahan kembali ditata. Tak terkecuali di daerah sekitar pantai Lampuuk. Masjid Rahmatullah pun mengalami renovasi dan diperbesar. Sepasang menara kembar pun ditambahkan dalam arsitektur baru masjid yang menjadikan tampilan masjid yang baru ini menjadi tambah indah.

Meskipun bangunan Masjid Rahmatullah yang baru menjadi lebih megah dari sebelumnya, Beberapa sisi masjid bagian belakang tetap dipertahankan seperti kondisi aslinya yang rusak akibat Tsunami. 

Hal ini dilakukan sebagai pengingat dan peringatan bagi masyarakat mengenai bahaya bencana Tsunami di masa yang akan datang.

Menyaksikan pemandangan 'Kampung Turki' di tengah bentangan alam Lampuuk dari puncak menaranya, membuat kita tergetar membayangkan kejadian beberapa tahun yang lalu saat ribuan jiwa yang melayang dalam tragedi Tsunami.

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Sesmawati