Netral English Netral Mandarin
banner paskah
21:01wib
Indonesia Corruption Watch menilai pengelolaan internal Komisi Pemberantasan Korupsi sudah bobrok. Kapal selam KRI Nenggala-402 yang hilang kontak saat melakukan latihan di perairan Bali karam di kedalaman 600-700 meter.
Ini Reaksi Terhadap Vaksin Covid-19 yang Paling Dikhawatirkan

Rabu, 03-Februari-2021 17:40

Reaksi terhadap vaksin yang paling diikhawatirkan memang anafilaksis atau alergi berat.
Foto : Vaccine
Reaksi terhadap vaksin yang paling diikhawatirkan memang anafilaksis atau alergi berat.
2

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan, reaksi terhadap vaksin yang paling diikhawatirkan memang anafilaksis atau alergi berat.

"Reaksi ini mungkin mematikan jika dibiarkan. Tapi apabila langsung ditangani dan dirawat, tidak akan mematikan dan tidak meninggalkan kerusakan permanen," kata dia, Rabu (3/1/2021).

Sejauh ini, sebagian besar kejadian anafilaksis terjadi dalam waktu 30 menit setelah menerima vaksin. Dari 21 laporan kasus yang teridentifikasi, lima pasiennya diketahui alergi makanan dan tiga di antaranya memiliki riwayat alergi obat.

Prinsipnya, semua orang yang akan mendapatkan vaksin jenis apapun harus dipantau di tempat. Setidaknya dipantau selama 15 menit.

Sementara, untuk orang dengan alergi, harus diamati setidaknya selama 30 menit selesai disuntik. Ini untuk berjaga adanya kemungkinan alergi parah.

Maka dari itu, bila masyarakat mengalami reaksi alergi kategori parah usai divaksin, maka, segera dapatkan perawatan medis dan jangan ditunda-tunda.

Lantas apa defisini orang yang alami reaksi alergi parah? Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC punya batasannya. Yaitu jika seseorang memerlukan pengobatan dengan Epinephrine atau harus dibawa ke rumah sakit.

"Epinephrine adalah obat yang digunakan dalam keadaan gawat darurat untuk mengobati reaksi alergi berat. Biasanya obat ini dipakai untuk alergi parah akibat sengatan serangga, makanan, obat-obatan maupun zat lain," jelas dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani