Netral English Netral Mandarin
11:29wib
Barcelona mengonfirmasi bahwa mereka akan berpisah dengan megabintang Lionel Messi karena tidak menandatangani kontrak baru. Valentino Rossi pada Kamis di Austria telah membulatkan tekad untuk menutup kariernya di MotoGP dalam 25 tahun terakhir ini setelah musim 2021 usai.
Ketua Satgas Covid-19 IDI Ungkap Kekuatan Varian Baru Corona E484K

Kamis, 08-April-2021 16:00

Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban
Foto : Istimewa
Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban turut angkat bicara tentang varian baru Virus Corona E484K yang menjadi perhatian para ahli. 

Kata Prof Zubairi, E484K ini dianggap membantu virus corona menghindari antibodi sehingga lebih mudah menginfeksi penyintas Covid-19 dan orang yang sudah divaksinasi.

Varian bahkan E484K dijuluki double mutant atau mutan ganda. Pasalnya, E484K ini mengandung tidak hanya satu, tetapi dua mutasi mengkhawatirkan dalam komposisi genetiknya yang telah diidentifikasi U.S. Centers for Disease Control and Prevention. 

"Dalam sebuah pengujian di laboratorium, E484K terbukti membantu virus korona menghindari antibodi yang dihasilkan oleh infeksi sebelumnya, sehingga membuatnya kurang rentan terhadap obat antibodi, termasuk vaksin," jelas Prof Zubairi, dikutip dari cuitannya, Kamis (8/4/2021). 

Prof Zubairi jelaskan, E484K ini adalah mutasi varian P.1, yang diketahui memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi pada anak muda. Setidaknya, ada tiga varian yang kini jadi perhatian para ahli. 

"Yaitu, B117 yang berasal dari Inggris, B1351 di Afrika Selatan, dan yang terbaru yakni P1 di Brasil," tegas dia. 

E484K ini juga sudah ada dalam variant of concern (VOC)-nya WHO per 1 April 2021, dan juga VOC nya "Center of Disease Control (CDC)" Amerika Serikat per 24 Maret 2021. Di Indonesia, E484K sudah terdeteksi sejak Februari 2021 di Jakarta saat pemeriksaan oleh Lembaga Eijkman. 

"Karena E484K ini kurang rentan terhadap antibodi, maka akan ada dampaknya pada efikasi vaksin. Tapi, saya masih menunggu hasil studi lanjutan dan bagaimana efeknya terhadap vaksin yang selama ini beredar," jelas dia. 

Prof Zubairi lantas imbau, yang pasti tetap pakai masker, cuci tangan memakai sabun dan air mengalir, serta menjaga jarak. 

"Bismillah kita bisa melewati pandemi Covid-19 ini dengan benar, dan semoga penjelasan ini tidak dianggap fear mongering," kata dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli