Netral English Netral Mandarin
06:21wib
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mengaku siap maju menjadi calon presiden (capres) di Pilpres 2024. Presiden Joko Widodo ingin agar pelaksanaan penyuntikan booster vaksin Covid-19 dilakukan mulai awal 2022.
Melalui Pendekatan Budaya, Warga Papua Hidup Harmonis

Rabu, 18-Agustus-2021 20:41

Webinar internasional bertajuk Religions Education and the challenge of harmony In papua-indonesia and cape-town-south Africa: A comparison
Foto : YouTube
Webinar internasional bertajuk Religions Education and the challenge of harmony In papua-indonesia and cape-town-south Africa: A comparison
36

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Agama merupakan bagian penting pada sistem sosio-kultural masyarakat yang didasarkan pada prinsip ”satu tungku tiga batu”, yaitu “batu” pemerintah, adat, dan agama. “Tiga batu” juga biasa diasosiasikan dengan tiga agama; Islam, Kristen, dan Katolik.

Setidaknya itu prinsip yang selalu dipegang masyarakat Papua. Dan untuk menjaga prinsip ini pola pendidikan yang diterapkan menjadi jalan penting bagi keberlangsungannya, terutama dalam membangun harmonisasi kehidupan.

Melalui pendidikan, nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraaan atas dasar kemanusiaan diwariskan dan diajarkan kepada para generasi baru di Papua. 

Hal ini disarikan dari webinar internasional bertajuk "Religions Education and the challenge of harmony In papua-indonesia and cape-town-south Africa: A comparison" yang menghadrikan tokoh papua dan cendekiawan Afrika Selatan.  

Mengapa disandingkan dengan Afrika Selatan? Menurut cendekiawan Afrika Selatan, Prof Nuraan Davids, Afrika Selatan memiliki hubungan sejarah dengan Indonesia dimana banyak imigran yang masuk dari berbagai negara salah satunya dari Indonesia.

Sejak masa Apartheid, pendidikan muslim telah berkembang dengan dua jalur, yaitu pendidikan di masjid-masjid dan di sekolah muslim. Perkembangan tersebut terus terjadi di masa Post Apartheid dan masa reformasi.

Ia juga mengapresiasi harmonisasi di Papua. Menurutnya, harmoni di Papua, Komunitas muslim di Afrika Selatan khususnya di Cape Town mengambil contoh positif dari komunitas muslim di Indonesia karena sejarah yang sangat dekat.

Komunitas Muslim dan Kristen berbaur dengan baik, dan adanya kesadaran untuk menciptakan dialog antar agama. Pernikahan antar agama juga memperkuat ikatan antara agama yang berbeda.

"Pendidikan agama memiliki peran krusial dalam menyediakan jembatan antara identitas seorang muslim dengan seorang warga negara Afrika Selatan. Prinsip-prinsip fiqih kewarganegaraan termasuk keadilan, partisipasi, penghargaan, tanggung jawab dan akuntabilitas, sangat penting untuk menjaga keharmonisan," kata Professor of Philosophy of Education in the Department of Picy Studies at Stellenbosch University, South Africa tersebut.

"Guru memiliki peran dalam membentuk warga negara yang produktif dan bertanggung jawab. Identitas guru yang beragam merupakan akan memperluas perspektif siswa. Semakin beragam identitas guru semakin meningkatkan keharmonisan. Pendidikan agama sangat penting meningkatkan harmonisasi kebergaman," lanjutnya.

Begitupun di Papua. Menurut Ketua PWNU Papua Dr. H Toni Wanggai, Islam telah ada di Papua sejak abad 15 melalui interkasi dengan Kerajaan Tidore. Kemudian pada abad 16 terbentuk kerajaan-kerajaan Islam yang terletak di Raja Ampat.

Menurutnya, hubungan Islam dan Kristen di Papua sangat harmonis yang berlangsung sejak 200 tahun yang lalu, dimana Sultan Tidore mengantar misionaris Kristen dari Jerman Otto dan Greisler di Papua pada 1855.

Pendekatan budaya yang dilakukan oleh misionaris melalui pendekatan budaya, diantaranya menerjemahkan Alkitab kedalam Bahasa daerah, mengakibatkan Krsiten lebih cepat berkembang. 

"Harmoni di pemerintahan Papua juga tergambar dalam istilah 1 tungku 3 batu, dimana 3 batu tersebut merupakan perwakilan islam, Kristen dan katolik. Pembagian kekuasaan dilakukan dengan dasar tersebut dengan Gubernur Kristen, Wakil Muslim, Sekda Katolik atau sebaliknya," jelas anggota MRP (Majelis Rakyat Papua) tersebut. 

Pendekatan kultural tersebut terus diwariskan melalui berbagai jalur khususnya pendidikan. Dikatakan Antropolog Ikhsan Tanggok, Toleransi dan harmoni antar agama di Papua terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan institusi Pendidikan seperti sekolah dan universitas.

Ada tiga institusi Pendidikan Islam yang memiliki peran penting dalam menciptakan harmoni dan toleransi di Papua, yaitu Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Yapis. 

"Papua memiliki tradisi yang kental dengan toleransi, salah satunya adalah Bakar Batu. Tradisi bakar batu memiliki arti yang dalam, yaitu sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan dan symbol dari solidaritas yang kuat. Bakar batu juga dapat digunakan sebagai media damai antara kelompok yang berperang. Rakyat Fakfak Papua Barat memiliki filosofi yang diperkenalkan oleh leluhur mereka yaitu satu tungku tiga batu. Tungku adalah symbol kehidupan, sementara tiga batu adalah symbol ‘kamu’, ‘saya’, dan ‘dia’ yang berbeda agama, etnis, status sosial dalam satu wadah persaudaraan," ujarnya.

"Simbol harmoni yang lain yaitu Masjid Patimburak, di Desa Patimburak, Fakfak, Papua Barat. Masjid Patimburak dibangun oleh Raja Pertuanan Wertuar pada 1870. Arsitektur masjid ini sangat unik karena merupakan kombinasi dari masjid dan gereja. Masjid ini dibangun oleh tiga kelompok agama, yaitu Islam, Katolik dan Protestan," sambung guru besar UIN Jakarta tersebut.

Dari paparan para narasumber dalam Webinar tersebut, peneliti Indonesia Moslem Crisis Center, Maria Ulfa, MA, mengatakan, dirinya kian yakin bahwa masyarakat Papua Indonesia dan Cape Town Afrika Selatan hidup penuh kedamaian dan toleransi serta memiliki pola pendidikan dan tradisi dalam menyelesaikan konflik dengan kearifan lokal.

"Gagasan toleransi beragama bukanlah hal yang sulit, karena ajaran dari masing masing agama mengajarkan tentang saling mengakui dan menghormati pihak lain, Perbedaan dalam sisi bahasa, budaya agama bahkan etnis dapat diterima," pungkasnya 

Kegiatan Webinar International dihadiri narasumber antara lain Prof. Nuraan Davids PhD, (Professor of Philosophy of Education in the Department of Poliicy Studies at Stellenbosch University, South Africa), Dr. Tony Wanggai (Ketua PWNU Papua, Anggota Majelis Rakyat Papua –MRP) dan Prof. Dr. Ichsan Tanggok (Professor of Antrophology at UIN Jakarta ), serta dipandu oleh Maria Ulfa, MA, M.Hum (peneliti Indoesian Muslim Crisis Center dan Dosen UIN Jakarta).

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Nazaruli