Netral English Netral Mandarin
banner paskah
18:55wib
Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Kebijakan ini diperpanjang selama 14 hari, terhitung sejak 20 April. Komite Eksekutif UEFA meresmikan format baru untuk kompetisi Liga Champions yang akan mulai digunakan pada musim 2024/2025.
Pembelaan Tsamara Amany pada Pandji Soal NU dan Muhammadiyah

Kamis, 21-January-2021 20:16

Politisi Muda dari Partai PSI Tsamara Amany
Foto : Istimewa
Politisi Muda dari Partai PSI Tsamara Amany
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politisi Muda dari Partai PSI Tsamara Amany angkat bicara terkait viralnya video Komika Pandji Pragiwaksono di Platform Youtube.

Video dan nama Pandji menjadi buah bibir, karena pernah membahas soal pembubaran Front Pembela Islam (FPI). Selain itu Pandji juga diklaim telah menyinggung Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. 

"Lho, sama seperti Pandji boleh mengkritik/menentang dong. Namanya juga freedom of speech. Pandji punya hak berpendapat, saya & orang lain juga punya hak yang sama," kata Tsamara, dikutip dari cuitannya, Kamis (21/1/2021).

Menurut wanita berambut pirang ini, tidak semua poin yang disampaikan Pandji salah. Ada beberapa otokritik seperti persoalan sosial yang menurut Tsamara ada benarnya juga. 

"Kritik saya adalah menyimpulkan NU & Muhamadiyah itu elitis adl kesalahan. Keduanya besar karena mengakar," tegas Tsamara.

Sebelumnya Tsamara mempertanyakan, alasan Kiai NU dibilang jauh dari masyarakat. Pasalnya dulu waktu Tsamara ke Rembang, pintu rumah Gus Mus dan Gus Yahya terbuka lebar. 

"Di rumah Gus Mus, sedia makan terus. Mulai dari makanan besar sampai snack untuk pengunjung. Yang datang diajak ngobrol & didengarkan, siapa pun itu," jelas Tsamara.

Waktu mampir ke Pesantren Buntet juga sama, siapa pun yang datang selalu disuguhi, diajak ngobrol, dan didengarkan oleh keluarga pengasuh pesantren. 

Maka dari itu Tsamara selalu salut dan kangen pergi ke pesantren-pesantren NU karena kehangatan yang diberikan oleh mereka. "Luar biasa," sambung dia.

Menurutnya alasan NU bisa jadi besar itu karena pesantren, bukan hanya rumah bagi para santri, tapi jadi rujukan bagi warga kampung. Tak heran pesantren selalu dekat pemukiman warga. 

"Kiai itu jd panutan. Nggak berjarak dengan warga. Makanya agak aneh sih kalau disebut elitis," tegas dia.

Menurutnya melihat NU/Muhamadiyah jangan hanya dari organisasi pusat. Keduanya itu mengakar dan perlu dipahami relasi para kiai dan warga. 

"Saya yakin lebih dekat dari relasi anggota DPR & warga yg diwakili," kata dia.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sesmawati