Netral English Netral Mandarin
09:58wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Perang Baliho Para Politikus Bikin Masyarakat Muak, Ade Armando: Memang Menggelikan

Rabu, 11-Agustus-2021 07:12

Ilustrasi perang baliho para politikus
Foto : Goriau.com
Ilustrasi perang baliho para politikus
28

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pemasangan baliho berbagai politikus terkesan sedang perang merebutkan simpati publik. Namun bukannya simpati, tapi justru disebut-sebut membuat  masyarakat muak. 

Dosen Universitas Indonesia Ade Armando ikut mencuit melalui akun FB-nya, Rabu 11 Agustus 2021. 

“Memang menggelikan sih,” kata Ade Armando, pendek.

Untuk diketahui, perang baliho para politikus semakin marak, mulai Ketua DPR Puan Maharani, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, hingga Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Lantas apakah pemasangan baliho masih efektif untuk meningkatkan popularitas?

Pakar komunikasi UI Firman Kurniawan Sujono mengatakan memang baliho memiliki keunggulan tersendiri. Apalagi di tempat strategis yang banyak orang berlalu lalang, baliho akan menjadi pusat perhatian publik.

"Secara umum billboard/baliho/media luar ruang memiliki keunggulan: mudah dilihat, karena diletakkan di jalan-jalan yang terbukti banyak dilalui kendaraan. Ukurannya yang besar, secara struktural 'memaksa' orang untuk melihatnya. Apalagi kalau diletakkan di kawasan yang strategis, pasti tak terhindarkan, orang lewat tak bisa mengelak," kata Firman kepada wartawan, Rabu (4/8/2021) malam.

"Selain itu, pada ukurannya yang ekstrabesar, biasanya pesan yang dimuat tak banyak. Karena waktu yang singkat, orang untuk melalui jalanan. Sehingga pesan akan sistematis dan fokus. Dalam keadaan jumlahnya tak berlebihan, di jalan tempat memasang baliho, alat komunikasi ini akan menarik perhatian dan mampu mengantarkan pesan," lanjutnya.

Tapi, menurut Firman, pada musim kampanye, perang baliho antarpolitikus akan menjadi kejenuhan bagi masyarakat. Menurutnya, pesan yang ada di baliho tidak sampai di masyarakat, tapi malah sebaliknya.

"Namun, dalam musim kampanye atau event lain, di mana terjadi kompetisi baliho, justru kejenuhan yang terjadi. Pesan memang memaksa masuk, tapi persepsi yang terbentuk bisa negatif. Masyarakat muak, dan secara sadar memilih bersikap sebaliknya dari tujuan pesan. Masyarakat menolak pesan," ujarnya.

Firman menilai, seiring dengan perkembangan teknologi, aspek kreativitas dibutuhkan agar pemasangan baliho menjadi efektif. Lebih baik lagi, menurutnya, jika baliho itu membuat masyarakat bergerak untuk membagikan ke media sosial.

"Aspek kreativitas, misalnya, berupa tampilan unik baliho, yang membuat orang memperhatikan, memotretnya dan memuatnya di media sosial. Di sini, baliho yang kreatif mengalami alih wahana ke media lain. Lebih banyak orang yang menyimak ketika tampil di media sosial, karena ada orang ingin menceritakan keunikannya," ucapnya dinukil detik.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Irawan HP