Netral English Netral Mandarin
banner paskah
12:36wib
Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Kebijakan ini diperpanjang selama 14 hari, terhitung sejak 20 April. Komite Eksekutif UEFA meresmikan format baru untuk kompetisi Liga Champions yang akan mulai digunakan pada musim 2024/2025.
Rizieq Bisa Digunakan untuk Kekuatan Kampanye Protokol Kesehatan

Rabu, 20-January-2021 08:40

Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun.
Foto : Twitter
Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun.
8

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun menilai, Rizieq Shihab bisa dijadikan sebagai pihak yang memiliki kekuatan untuk kampanyekan protokol kesehatan.

Pernyataan ini disampaikan Refly menanggapi PA 212 yang kritik, beda nasib antara Rizieq dengan Raffi Ahmad dan Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok.

"Sesungguhnya dia (Rizieq) bisa digunakan untuk kekuatan kampanye protokol kesehatan, kalau masalahnya hanya protokol kesehatan. Tapi kalau masalahnya politik, susah," kata Rabu (20/1/2021).

Diakui Refly, memang kasus yang menyeret Rizieq dengan Raffi dan Ahok sejujurnya tidak bisa disamakan. Pasalnya kasus kerumunan Rizieq di Petamburan dan Megamendung banyak didatangi orang.

"Tapi sekali lagi saya mengatakan, apakah perlu dikenakan pasal-pasal pidana? Itu persoalannya seharusnya dengan denda, dengan peringatan tidak mengulangi lagi perbuatannya, dengan hukuman lain itu sudah selesai harusnya," jelas Refly.

Apalagi Rizieq sempat mengatakan, membatalkan semua agenda kegiatan. Rizieq juga bahkan sampaikan imbauan untuk mematuhi protokol kesehatan.

Lebih lanjut Refly sebut, apabila ada agenda tersembunyi dibalik menersangkakan Rizieq maka kasusnya berat. Rizieq tidak hanya dikenakan pasal soal Kekarantinaan Kesehatan yaitu Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 Pasal 93, tapi juga pasal 160 soal Penghasutan.

"Yaitu menghasut untuk mendatangi Maulid Nabi dan menghadiri pernikahan putrinya. Baru kali ini saya mengetahui ada hasutan seperti itu. Kalau soalnya tentang protokol kesehatan, kembalikan pada logika melanggar protokol," jelas Refly.

Aneh bagi Refly, kasus yang mendera Rizieq. Apabila mau belajar hukum, esensinya adalah keadilan dan tidak diterapkan pada kasus Raffi dan Ahok, seperti pada Rizieq.

Ada cara lain ketimbang memenjarakan Rizieq. Misalnya denda atau hukuman minta maaf dan lain sebagainya. Itu sudah merupakan hukuman yang jauh lebih mendidik dan tidak menimbulkan dendam.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani