Netral English Netral Mandarin
banner paskah
12:59wib
Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Kebijakan ini diperpanjang selama 14 hari, terhitung sejak 20 April. Komite Eksekutif UEFA meresmikan format baru untuk kompetisi Liga Champions yang akan mulai digunakan pada musim 2024/2025.
Sebut Semua Orang Buzzer, Teddy: Yang Menyalahkan Buzzer Artinya Menyalahkan Dirinya Sendiri

Jumat, 12-Februari-2021 16:45

Dewan Pakar Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Teddy Gusnaidi
Foto : Youtube
Dewan Pakar Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Teddy Gusnaidi
8

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dewan Pakar Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Teddy Gusnaidi mengomentari fenomena pendengung atau buzzer yang dikait-kaitkan sejumlah tokoh dan politisi oposisi dengan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). 

Teddy menilai, sampai saat ini mereka yang menuding demikian tidak mampu membuktikan bahwa buzzer pemerintah itu benar-benar ada. 

"Saat ini ada beberapa pihak yang kembali mempermasalahkan soal buzzer dan menghubungkan dengan Pemerintah. Ini sudah pernah saya pertanyakan di ILC 2 tahun lalu, bicara buzzer Pemerintah, tapi ternyata para penuding itu tidak pernah bisa membuktikan bahwa buzzer pemerintah itu ada," tulis Teddy di akun Twitternya, Kamis (11/2/2021). 

Teddy lantas menjelaskan soal apa itu buzzer. Ia menyebut, buzzer adalah pendengung atau penyebar informasi. Sehingga, semua orang yang  menyebarkan informasi baik itu di medsos maupun di kehidupan nyata adalah pendengung. 

"Buzzer itu artinya pendengung, kita semua adalah pendengung baik di Medsos maupun di luar. Menyebarkan informasi adalah bagian dari interaksi sosial kita. Jika hanya skup medsos, maka semua yang memiliki akun di media sosial adalah para pendengung, artinya semua adalah buzzer," cuit @TeddyGusnaidi.

Yang membedakan, menurut Teddy, ada pendengung atau penyebar informasi yang dibayar dan ada yang tidak. 

"Ada pihak yang mendapatkan uang untuk menyebarkan informasi (Mendengungkan) & ada yang tidak, bedanya itu saja," jelasnya. Media (Tv, Online, radio) juga adalah adalah pihak yang mendapatkan uang dari menyebarkan informasi. Tinggal apakah informasi yang disebarkan itu berisi hal yang baik atau tidak," jelasnya.

"Dewan Pers adalah buzzer, Kwik Kian Gie adalah buzzer, Media adalah Buzzer, Pak Jokowi adalah Buzzer dan semua pengguna media sosial adalah buzzer," ungkap Teddy. 

Karenanya, lanjut Teddy, jika ada pihak yang menyalahkan buzzer maka itu artinya menyalahkan dirinya sendiri. 

"Yang menyalahkan buzzer adalah orang yang menyalahkan dirinya sendiri. Berhenti dulu jadi manusia, baru boleh menyalahkan," cuit @TeddyGusnaidi.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli