Netral English Netral Mandarin
13:30wib
Ebrahim Raisi dinyatakan sebagai presiden terpilih Iran setelah penghitungan suara pada Sabtu (19/6/2021). Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito terkonfirmasi positif Covid-19 menyusul aktivitasnya yang padat dalam dua pekan terakhir ini.
Sejak Kapan Cara Orang Jawa Memuja Gunung Diatur oleh Penguasa?

Rabu, 14-April-2021 16:40

Candi Kendalisodo di lereng Gunung Pananggungan
Foto : Wikipedia
Candi Kendalisodo di lereng Gunung Pananggungan
16

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dalam perjalanan sejarah di Nusantara, system feodalisme dikenal seiring tersebarnya budaya dan agama dari India. Proses itu kemudian melahirkan “sosok raja” di bumi Nusantara dan biasa disebut era Hindu-Budha yang dimulai sekitar abad ke-4 dan ke-5.

Dalam konsep tersebut, sosok raja menjadi pusat  konstelasi  sosial di mana raja berada di puncak piramida. Kerajaan merupakan mikrokosmos dan raja bertugas mempertahankan  keserasian antara   mikrokosmos  dan   makrokosmos (jagad  raya).  

Menurut R. Heine­ Geldem seperti dikutip Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid 3, Warisan-Warisan Kerajaan Konsentris (2005: 60), sebenarnya konsepsi itu ada sejak era Babilonia dan diduga masuk ke Nusantara melalui India dan Cina.  

Meski demikian, di wilayah Jawa, sebenarnya keberadaan kosmologi Sanskerta  dari India bersifat melengkapi   bentuk-bentuk   pemujaan   asli  yang  lebih   kuno.

Dalam tradisi prasejarah Indonesia, masyarakat percaya bahwa roh nenek moyang bertempat di puncak gunung dan mampu mempengaruhi kesejahteraan dan keselamatan manusia di dunia.

Oleh karena itu, roh nenek moyang menjadi gantungan hidup manusia. Pemujaan terhadap roh nenek moyang sebagai ekspresi permohonan dari manusia dan keturunannya agar terhindar dari bencana, sakit, dan kemuliaan dunia adalah kuncinya.

Salah satu cara untuk memuja nenek moyang adalah dengan membangun tempat pemujaan pada sebuah gunung atau bukit.

Kebiasaan membangun struktur atau bangunan besar dari batu untuk kepentingan pemujaan dikenal dengan tradisi Megalitik yang dapat diketahui bersifat universal.

Jadi, ada konsepsi-konsepsi kuno yang sudah ada sebelumnya namun kemudian berpadu dengan budaya dari India, dan salah satunya ditandai dengan pemujaan terhadap gunung yang dikaitkan dengan sang  raja.

Di Asia Tenggara, konsep “raja gunung” boleh dikatakan juga terjadi hampir merata, misalnya munculnya "Raja Gunung"  di  Funan,  Kamboja Kuno.

Sementara orang Jawa kuno menyembah gunung-gunung  berapi  tertentu sudah berlaku sejak sebelum peradaban sansekerta datang (dan  bertahan hingga sampai sekarang).

Contohnya orang Bali hingga kini masih  “memuja” Gunung  Agung  dan  penduduk  Tengger (Jawa Timur) memuja kawah Gunung  Bromo.

Bila ditelusuri, orang Jawa kuno diduga sudah memuja “Gunung  Meru” sebagai pusat  jagat raya. Di kemudian hari, Gunung Maha Meru kemudian juga menjadi tempat pemujaan bagi para dewa baik yang bersifat Brahmana maupun Buddhis.

Uniknya, mengadopsi kajian Denny Lombard, diketahui bahwa kosepsi itu kemudian kemudian “bergeser” di mana gagasan  “Sang Maharaja” menjadi poros dan harus dianggap  sebagai "Penguasa  Gunung",  sama seperti  Dewa  Siva yang  di India  memang dianggap  sebagai penguasa  gunung.

Menurut Lombard, berdasarkan petunjuk dari nama-nama wangsa  Sailendra, ada kesan bahwa konsep itu menjadi lebih tegas terjadi pada abad  ke-11 seperti tercermin dalam Kakawin  Arjunawiwaha karangan  Mpu Kanwa.

Di dalam Arjunawiwaha, kita temukan  apa  yang  oleh S Supomo  dinamakan sebagai “penyebutan pertama  yang pasti  tentang  adanya pemujaan gunung di  Jawa."

Dalam catatan tersebut disebutkan sosok Raja Airlangga  yang  "memanjatkan  pujian kepada  puncak  Gunung Indraparwata."  

Memasuki abad ke-14, bukti-bukti tentang konsepsi raja sebagai poros dan menguasai gunung yang dipuja, semakin banyak lagi ditemukan. Misalnya dalam Negarakertagama karya Mpu Prapanca.

Disebutkan di dalamnya, rakyat memohon  perlindungan Parwanatha, "penguasa  gunung",  yang   tiada   lain adalah   raja  yang   sedang   berkuasa, yakni  Hayam   Wuruk.  

Mpu   Tantular   berbuat serupa  dalam  karyanya   Sutasoma dengan  mempersembahkan salah satu lagu pujiannya kepada  Girinatha yang  artinya juga sama yakni "raja  gunung".

Dan sangat penting pula dalam Tantu Panggelaran  yang  mengisahkan tentang pemindahan Gunung Meru dari India  ke Jawa oleh para dewa.

Tantu Panggelaran adalah sebuah teks prosa yang menceritakan tentang kisah penciptaan manusia di pulau Jawa dan segala aturan yang harus ditaati manusia. Tantu Panggelaran ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan pada zaman Majapahit.

Di dalam Tantu Panggelaran terdapat motif upaya membangun masyarakat beradab atau cerita etiologis tentang munculnya peradaban manusia. 

Hal ini juga dapat dibandingkan dengan Kodex Hammurabi di Babilonia yang berisi hukum-hukum bagi keteraturan masyarakat setempat.

Di samping itu terdapat perbedaan teologis antara cerita Jawa Pertengahan ini dengan teologi Hindu di India. Di dalam kisah ini diceritakan bahwa Batara Guru adalah ayah dari dewa-dewa yang lainnya.

Gunung menjadi tempat yang keramat, tempat para dewa. Motif ini juga terdapat dalam dunia teologis orientalis. Ishak dipersembahkan di gunung Moria (Yerusalem). Zarathustra atau Zoroaster ketika berkotbah juga naik ke gunung.

Firaun membuat piramida yang juga melambangkan gunung. Agama masyarakat Indonesia kuno juga membuat punden berundak-undak yang juga melambangkan gunung.

Uniknya pula, ketika gunung dinyatakan sebagai puncak suci, dibangunlah sistem mata angin kosmis lengkap dengan candi-candi di lerengnya. Hal ini bisa dilihat contohnya seperti yang ada di Gunung Gunung Penanggungan.

Sepanjang era Hindu-Budha, lereng-lereng gunung dibangun candi hingga pertapaan yang menurut  para   arkeolog   berjumlah  tidak  kurang dari   delapan puluh satu  situs.

Contoh lainnya terdapat di Palah  (dekat   Blitar),  tempat   raja-raja  Mojopahit  membangun  candi besar  Panataran, sebagai  candi  kerajaan.  

Prapanca  menyatakan  bahwa  Hayam Wuruk   mengunjunginya  berulang  kali  untuk  memberi   penghormatan "pada duli  Penguasa Gunung."

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto