Netral English Netral Mandarin
06:55wib
Sebanyak 1.296 sekolah menjadi klaster Covid-19 di saat pembelajaran tatap muka (PTM) diduga akibat penularan. Sejumlah sumber di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membenarkan bahwa Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin sudah ditetapkan sebagai tersangka
Serangan di Mabes Polri, Pakar: Tindakan Polisi Tembak Mati Pelaku Sudah Tepat

Kamis, 01-April-2021 16:30

Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad
Foto : Istimewa
Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad
41

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad mengutuk keras segala praktek terorisme. Menurutnya, tindakan teror tidak ada pembenarannya sama sekali.

Hal itu disampaikan Suparji menyusul dua aksi teror dalam sepekan ini, yakni bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/3/2021) dan teranyar serangan di Mabes Polri, Rabu (31/3/2021) kemarin.

"Saya mengutuk dengan keras aksi terorisme. Setelah bom Makassar, kini terjadi penyerangan di Mabes Polri oleh seorang wanita," kata Suparji dalam keterangan pers, Kamis (1/4/2021).

Pasca rentetan teror akhir-akhir ini, Suparji berharap kepada masyarakat dan aparat meningkatkan kewaspadaan terhadap terorisme. Namun demikian, tidak perlu berspekulasi berlebihan sehingga menimbulkan kegaduhan.

"Semua pihak perlu untuk meningkatkan kewaspadaan. Polri juga harus meningkatkan deteksi dini terhadap terorisme," ujarnya.

Suparji juga menyebut, penyerangan di Mabes Polri perlu diungkap secara transparan. Sebab, yang menjadi target adalah adalah kantor Pusat Kepolisian Republik Indonesia.

"Kasus itu harus diungkap secara terang benderang pelaku dan keberadaan atau kepemilikan senjata. Bagaimana pelaku bisa masuk kemudian melepaskan tembakan?," paparnya.

"Tentang senjata yang digunakan, apakah senjata api atau air gun perlu dijelaskan lebih detil," sambung akademisi Universitas Al-Azhar Indonesia ini.

Selain itu, Suparji menyebut, perlu ada upaya lebih intensif menyelesaikan akar permasalahan yang menyebabkan terjadi aksi teroris.

Terakhir, Suparji menilai tindakan Polisi yang langsung menembak mati pelaku sudah tepat. "Hal itu perlu dilakukan agar tidak timbul korban," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, seorang perempuan bersenjata terduga teroris menyerang Mabes Polri pada Rabu (31/3/2021) sekitar pukul 16.30 WIB.

Dalam video amatir yang beredar luas di media sosial, pelaku terlihat beberapa kali menodongkan senjata ke arah petugas di area Mabes Polri. Polisi pun kemudian menembak mati perempuan itu.

Menurut Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, sebelum ditembak mati, terduga teroris itu melepaskan enam tembakan saat menerobos masuk ke dalam Mabes Polri.

"Menembak sebanyak enam kali. Dua kali di dalam pos, dua kepada petugas yang ada di luar, kemudian menembak lagi anggota (polisi) yang ada di belakangnya," kata Listyo di Mabes Polri, Jakarta.

Dari hasil identifikasi diketahui wanita itu berinisial ZA berusia 25 tahun. "Kita cek identifikasi sidik jari, face recognition, ternyata identitasnya sesuai," ujar Kapolri.

Listyo mengungkapkan, ZA merupakan lone wolf yang berideologi ISIS. Hal tersebut diketahui ketika petugas menyusuri unggahan ZA di media sosial. "ZA mengunggah foto bendera ISIS," jelas Kapolri.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati