Netral English Netral Mandarin
09:12wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Makna Dibalik Baju Adat Jokowi dan Puan di Sidang Tahunan MPR Dari Kacamata Pengamat

Selasa, 17-Agustus-2021 06:15

Ari Junaedi
Foto : Istimewa
Ari Junaedi
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat Komunikasi Politik Ari Junaedi menilai, baju adat yang dikenakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua DPR Puan Maharani di Sidang Tahunan MPR 2021, memiliki makna saling melengkapi di masa pandemi Covid-19 saat ini.

Adapun dalam Sidang Tahunan MPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (16/8/2021), Presiden Jokowi memakai baju adat Suku Baduy, sementara Puan Maharani mengenakan busana adat Payas Agung Bali.

“Di  balik makna simbolisasi baju adat yang dipakai ke dua tokoh ini menggambarkan rasa kebersamaan, keselarasan dan keterpaduan antara eksekutif dan legeslatif dalam menangani pandemi Covid-19,” kata Ari di Jakarta, Senin (16/8/2021).

Menurut Ari, pakaian adat Suku Baduy yang dipakai Presiden Jokowi merepresentasikan ketaatan suku Badui dalam penerapan protokol kesehatan.

“Pak Jokowi memakai pakaian adat Baduy karena kita tahu suku di Banten itu tertib menerapkan ‘lockdown’ dan prokes di wilayahnya. Bahkan, komunitas Baduy itu disebut-sebut zero case kasus Covid-19 hingga saat ini,” ujarnya.

Masyarakat adat Baduy, lanjut Ari, juga banyak memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan hidup dengan merawat kelestarian alam.

“Masyarakat adat baduy itu terkenal dengan kesederhanaannya. Hidup tanpa gadget, banyak jalan kaki, dan minum madu berkualitas yang bisa menaikkan imun tubuh,” terangnya.

Sementara, soal busana adat Payas Agung yang dikenakan Puan, Ari berpendapat bahwa itu sebagai bentuk apresiasi kepada Bali sebagai provinsi yang paling cepat mencapai target vaksinasi. Cakupan vaksinasi di Pulau Dewata tersebut kini di atas 90 persen.

“Kalau pakaian adat Jokowi bermakna terapkan prokes dan hidup sehat, makna busana adat Puan itu mengajak masyarakat Indonesia untuk mau divaksinasi, dan mempercepat vaksinasi seperti di Bali,” ungkapnya.

Ari mengatakan, vaksinasi oleh pemerintah adalah salah satu hal yang terus diawasi Puan sebagai pimpinan lembaga DPR yang mempunyai fungsi ‘checks and balances’.

“Kita tahu selama ini Puan memang concern dengan ketersediaan vaksin, pemerataan vaksin, bahkan mendorong adanya vaksin untuk anak di bawah 12 tahun,” tutur Ari.

“Jadi pakaian adat Payas Agung Puan itu simbol agar semua provinsi bisa mempercepat vaksinasi seperti Bali untuk mencapai herd immunity,” jelasnya.

Selain itu, tambah Ari, busana adat Payas Agung Bali yang elegan dan penuh nilai budaya dan ekonomi, adalah simbol optimisme bagi kebangkitan wisata, budaya, dan ekonomi Pulau Dewata setelah mencapai target vaksinasi.

“Ibu Puan ingin menyampaikan bahwa setelah semua daerah mencapai target vaksinasi dan herd immunity, kita optimis roda ekonomi yang mensejahterakan rakyat bisa berjalan lagi. Tidak cuma di Bali, tapi semua penjuru negeri,” pungkasnya.

 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wahyu Praditya P