Netral English Netral Mandarin
banner paskah
00:43wib
Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Kebijakan ini diperpanjang selama 14 hari, terhitung sejak 20 April. Komite Eksekutif UEFA meresmikan format baru untuk kompetisi Liga Champions yang akan mulai digunakan pada musim 2024/2025.
Mardani: Kriminalitas di Papua 80% karena Miras, Perang Suku Dipicu Miras, Penginjil Tolak Miras, Tolong...

Senin, 01-Maret-2021 10:39

Mardani Ali Sera tegas menolak investasi miras
Foto : dpr.go
Mardani Ali Sera tegas menolak investasi miras
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus PKS, Mardani Ali Sera menyatakan tegas menolak investasi miras di sejumlah darerah di Indonesia. Ia pun menunjukkan bukti bahwa miras menimbulkan dampak buruk di Papua.

"Banyak daerah sudah merasakan bahaya miras, contohnya Papua. Data kriminalitas 80 persen krn Miras, Perang suku juga di picu Miras. Wajar pengurus gereja dan para penginjil menolak Miras di Papua. Tolong dengar aspirasi mereka," kata Mardani, Senin (1/3/21).

Untuk diketahui, bulan Juni tahun silam, Kepala Kepolisian Resor Mimika, AKBP IGG Era Adhinata, menyebut berbagai kasus kriminalitas yang terjadi di wilayah itu sebagian besar dipicu konsumsi minuman beralkohol oleh warga, terutama minuman beralkohol buatan warga yaitu sopi, yang diproduksi di sekitar wilayah Distrik Mimika Timur.

"Dalam satu bulan terakhir ada sekitar 10 kasus kriminalitas di Timika. Ada kasus penikaman mengakibatkan orang meninggal dunia. Ada juga yang tergeletak di pondok, tahu-tahu di sampingnya ada minuman keras lokal. Ada juga yang terluka kena tusukan. Semua itu bermula dari konsumsi minuman keras," kata dia, di Timika, Minggu (21/6/20).

Ia menegaskan jajarannya selama ini terus berusaha menggerebek lokasi pembuatan atau produksi minuman lokal jenis sopi yang berada jauh dalam kawasan hutan di wilayah Distrik Mimika Timur dan beberapa lokasi lain di sekitaran Timika.

Meski para pelaku sudah berulang-ulang diproses hukum, namun pembuatan minuman memabukkan itu masih saja terjadi dan terus beredar di sekitaran Timika.

"Kami tidak pernah membiarkan. Pelakunya sudah banyak yang masuk penjara. Lokasi pembuatan sopi itu kami bakar, tapi tetap masih ada saja orang yang produksi karena lokasinya jauh di dalam hutan yang sulit dijangkau dengan berjalan kaki. Butuh waktu berjam-jam dengan perahu motor untuk sampai ke lokasi itu," kata dia.

Polres Mimika berencana berkoordinasi dengan pihak Kejaksaan Negeri Timika maupun Pengadilan Negeri Timika guna menyamakan persepsi terkait penegakan hukum terhadap pelaku pembuatan minuman keras setempat jenis sopi.

Pasalnya, selama ini vonis hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku pembuat sopi sangat ringan, berkisar antara dua hingga enam bulan penjara.

"Kalau hukumannya hanya demikian tentu mereka akan kembali lagi melakukan aktivitas seperti itu, apalagi keuntungan yang mereka peroleh dari jualan sopi itu bisa sampai puluhan juta per bulan. Bayangkan saja satu hari mereka bisa dapat penghasilan sampai Rp2 juta," ujarnya.

Pemberantasan minuman lokal jenis sopi di Mimika, katanya, membutuhkan dukungan dan peran serta semua pihak terkait, termasuk masyarakat sendiri untuk memberitahukan lokasi produksi sopi di tengah hutan belantara.

Pada Minggu siang, Kepala Polda Papua, Inspektur Jenderal Polisi Paulus Waterpauw, bersama Ardhinata dan jajaran melihat langsung lokasi pembuatan minuman sopi di tengah hutan belantara dekat Kampung Kaugapu, Distrik Mimika Timur.

Di lokasi itu, tersangka MW (28) memproduksi atau menyuling sopi. Dalam sehari, MW bisa memproduksi 20 liter sopi dan dijual seharga Rp2 juta.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto