Netral English Netral Mandarin
00:27wib
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan keputusan pemerintah untuk menggelontorkan dana triliunan rupiah ke perusahaan-perusahaan produsen minyak goreng dinilai sudah sangat tepat. Komisi Pemberantasan Korupsi mengembangkan kasus korupsi proyek infrastruktur di Kabupaten Buru Selatan 2011-2016.
Masalah Struktural Menghancurkan Transjakarta

Rabu, 08-December-2021 14:18

Azas Tigor Nainggolan
Foto : klikanggaran
Azas Tigor Nainggolan
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Senin, 6 Januari 2021 Direktur Utama PT Transjakarta Yana Aditya dalam pertemuan dengan DPRD Jakarta memaparkan bahwa ada 502 kecelakaan yang dialami oleh bus Transjakarta sepanjang Januari-Oktober 2021. 

Kecelakaan paling banyak disebabkan bus Transjakarta menabrak objek tertentu atau kecelakaan tunggal, yakni 88 persen dari total kecelakaan. 

Sementara, 12 persen lainnya, bus Transjakarta ditabrak atau diserempet oleh kendaraan lain. Data kecelakaan ini belum termasuk semua kecelakaan  di bulan November 2021.  

Data diungkapkan juga oleh Yana Aditya kemarin bahwa kecelakaan paling banyak melibatkan bus milik operator PPD yakni 34 persen, disusul operator Mayasari 32 persen, Steady Safe 16 persen, Kopaja 13 persen, Transwadaya 3 persen, Pahala Kencana 1 persen, dan Bianglala 1 persen.

Jumlah kecelakaan Transjakarta itu akan jadi lebih banyak jika dihitung hingga Desember 2021 ini. 

Data kecelakaan yang dipaparkan oleh direktur utama Transjakarta,  Yana Aditya tersebut menunjukan bahwa Transjakarta sedang terlilit masalah struktural. 

Melihat kecelakaan yang terjadi tidak cukup hanya pada persoalan teknis atau human error sebagai penyebab terjadinya kecelakaan. 

Sangat banyaknya terjadi kecelakaan itu menandakan bahwa ada persoalan pengawasan di internal manajemen Transjakarta yang tidak jalan. 

Tidak berjalannya pengawasan internal manajemen itu disebabkan oleh tidak bekerjanya struktur kekuasaan manajemen Transjakarta. 

Artinya, saat ini Transjakarta sedang jatuh pada persoalan struktural yang sangat berat. Semua kecelakaan Transjakarta tersebut adalah masalah hancurnya pelayanan yang  disebabkan direksi Transjakarta sebagai struktur penting operasional Transjakarta tidak bekerja sebagaimana seharusnya.  

Begitu pula struktur kekuasaan  pengawas atas direksi Transjakarta  juga tidak berjalan secara baik menjaga agar direksi Transjakarta bekerja membangun pelayanan yang aman, nyaman, dan selamat.

Bagus jika sekarang Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) sudah mulai masuk terlibat melakukan pemeriksaan masalah ini. 

Untuk memperkuat dan mendukung perbaikan pelayanan Transjakarta ini juga perlu dilakukan audit menyeluruh kerja  struktur kekuasaan manajemen Transjakarta yang bisa  menghancurkan keselamatan pelayanan Transjakarta. 

Perlu juga segera diaudit kerja para direksi, pengawas dan Pemprov Jakarta sebagai pemegang saham terbesar Transjakarta. 

Evaluasi atau kesalahan jangan hanya dilempar pada para operator dan pengemudi yang busnya alami kecelakaan. 

Siapa direksi yang memutuskan pemilihan operator mitra Transjakarta? Siapa direktur yang bertanggung jawab dalam mengelola operasional Transjakarta? Siapa direktur yang bertanggung jawab menyediakan fasilitas yang baik dan aman bagi pelayanan Transjakarta? Siapa "pemilik" utama Transjakarta? 

Nah, struktur kekuasaan manajemen pelayanan Transjakarta ini harus diaudit dan diperiksa. 

Begitu seharusnya Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan harus segera mengambil tindakan tegas  dalam menyelesaikan masalah struktural Transjakarta. 

Kecelakaan sudah lebih dari 502 kejadian dan mengakibatkan korban meninggal dunia dan luka-luka tetapi sampai sekarang gubernur Jakarta, Anies Baswedan diam saja. Jika gubernur diam saja, bisa jadi gubernur Jakarta mendiamkan Transjakarta hancur.

Jakarta, 8 Desember 2021

Penulis: Azas Tigor Nainggolan

Ketua FAKTA, Analis Kebijakan Transportasi.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Irawan HP

Berita Terkait

Berita Rekomendasi