Netral English Netral Mandarin
17:48wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Massa Bergerak Turunkan Jokowi di Semua Kota Besar Mulai Hari Ini? Ade Armando: Tujuannya Kerusuhan

Sabtu, 24-Juli-2021 09:54

Ilustrasi demo mahasiswa
Foto : Lintas Terkini
Ilustrasi demo mahasiswa
32

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seruan demo besar di hampir semua kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi membuat heboh warganet. Konon, demo akan berlangsung lama, dimulai hari ini, Sabtu 24 Juli 2021. 

Isu yang di usung adalah menolak PPKM dan unjungnya adalah turunkan Jokowi.

Menanggapi hal ini Dosen Universitas Indonesia, Ade Armando mencuit keras mengecam aksi demo.

“Ini gerakan bumi hangus. Tujuannya kerusuhan. Ekonomi ambruk. Saya sih percaya masyarakat berakal akan menolaknya. Tapi kan mereka butuh hanya sedikit orang dungu untuk memecah belah bangsa,” kata Ade Armando, Sabtu 24 Juli 2021.

Sebelumnya diberitakan, ajakan aksi beredar di sosial media, disebutkan bahwa demo akan digelar hari ini Sabtu (24/7/2021).  

Seruan aksi bertajuk 'Jokowi End Game' itu juga mencatut beberapa logo komunitas. Di antaranya komunitas ojek online (ojol). Namun, komunitas ojek online sudah membantah ikut dalam demo tersebut.

"Seruan Aksi Nasional 'Jokowi End Game': Mengundang seluruh elemen masyarakat!! Untuk turun ke jalan menolak PPKM dan menghancurkan oligarki istana beserta jajarannya," demikian seruan pada poster tersebut.  

Dituliskan aksi itu akan dilakukan pada 24 Juli dengan melakukan long march dari kawasan Glodok ke Istana Negara.  

Selain poster itu, ada seruan aksi secara serentak di beberapa kota pada 24 Juli yang turut disebar akun @blokpolitikbelajar di Instagram dan di WhatsApp.  

Aksi diklaim akan dimulai besok Minggu (25/7/2021) selama berhari-hari di beberapa kota, mulai Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Brebes, Indramayu, Semarang, Solo, Sukoharjo, Kudus, Kediri, Surabaya, Banjarmasin, Pontianak, Samarinda, Kendari, hingga Padang. 

Bahkan, Blok Politik Pelajar  menyebut kemarahan warga sudah pecah sehingga memicu adanya demonstrasi tersebut. Mereka mengklaim massa yang turun ke jalan tidak tergabung dalam satu kelompok tertentu. 

"Kemarahan warga akhirnya pecah. Warga akan turun ke jalan selama berhari-hari tanpa identitas, golongan, kelompok, maupun bendera, mereka yang turun ke jalan adalah warga yang muak dengan situasi saat ini," tulis akun @blokpolitikbelajar. 

"Mengacu pada metode aksi *Be Water*, aksi ini akan cair bekerja, segala bentuknya akan terus berkembang, tidak ada ketua, tidak ada aksi ini milik siapa, semua ini milik warga," sambungnya. 

Terkait hal ini, Menko Polhukam Mahfud MD pun langsung angkat bicara. Dalam pidatonya, Mahfud meminta agar masyarakat bisa menyampaikan aspirasi melalui saluran komunikasi yang tersedia. 

Ia memahami bahwa kebijakan yang diputuskan pemerintah tidak seluruhnya bisa diterima oleh masyarakat. Terlebih jika terkait pembatasan mobilisasi, akan ada sektor ekonomi yang ikut terdampak dan merugikan masyarakat. 

Mahfud mengaku tidak masalah dengan upaya masyarakat yang hendak menyampaikan aspirasi. Namun mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu meminta agar penyampaian aspirasi tersebut dilakukan dengan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di tengah pandemi covid-19.

"Silakan sampaikan aspirasi. Yang penting semuanya punya tujuan yang sama, yaitu menyelamatkan rakyat Indonesia," kata Mahfud dalam video yang ditayangkan melalui kanal YouTube Kemenko Polhukam. 

"Aspirasi resmi tertulis melalui telepon, melalui media dan melalui apa pun. Yang penting semuanya ikut prosedur yang telah ditetapkan dalam rangka mencapai satu tujuan, yaitu menangani covid-19 itu tujuannya adalah menjaga keselamatan masyarakat," sambung Mahfud.

Dalam kesempatan yang sama, menteri asal Pamekasan, Madura, itu juga mengharapkan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan menjaga kondisi lingkungan tetap tertib serta aman di wilayah masing-masing. 

Mahfud lantas mengajak masyarakat untuk menjaga situasi untuk tetap kondusif sembari melakukan penanganan covid-19. "Mari jaga negara ini agar tetap menjadi kondusif sambil berusaha bersama-sama menyelesaikan berbagai persoalan terutama sekarang ini fokus persoalan kita adalah menyelesaikan covid-19," ucapnya. 

Peringatan Pihak Kepolisian 

Dinukil Lintas Terkini, wacana demo ini juga ditanggapi oleh pihak kepolisian. Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono meminta agar masyarakat tidak membuat kerumunan di masa pandemi yang belum reda ini.  

Argo juga mengingatkan soal konsekuensi warga yang mengganggu ketertiban. "Kalau memang dilakukan, mengganggu ketertiban umum, ya kita amankan," ujarnya. 

Senada, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus  mengimbau masyarakat memahami kondisi kasus covid-19 di Jakarta yang masih tinggi. Masyarakat juga diharapkan kesadarannya untuk tidak membuat kerumunan jika ingin pandemi cepat selesai.  

"Rumah sakit, kuburan, sudah penuh. Apa mau diperpanjang lagi PPKM ini sementara masyarakat mengharapkan supaya bisa relaksasi," ucap Yusri. Pada intinya Yusri berharap bagaimana masyarakat mau sadar dan mau disiplin menghindari kerumunan.  

Pihak kepolisian juga diketahui telah memasang kawat berduri di sekitar akses masuk Istana Merdeka, Jakarta Pusat.  "Demikian (pemasangan kawat berduri), untuk antisipasi saja," ujar Kapolsek Metro Gambir Ajun Komisaris Besar Kade Budiyarta.  

Sayangnya, Kade tak membeberkan  titik mana saja yang dipasang oleh kawat berduri. Sebab, hal itu menjadi wewenang pihak Polres Metro Jakarta Pusat. Namun, Kade membenarkan ada persiapan pasukan pengamanan khusus untuk rencana unjuk rasa itu. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto