Netral English Netral Mandarin
banner paskah
02:18wib
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyetujui penggunaan izin darurat (emergency use authorization/EUA) vaksin Covid-19 Sinopharm dengan efikasi 78,1 persen. Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan bahwa mudik Lebaran 2021, baik itu jarak jauh maupun jarak dekat, tetap ditiadakan.
Masuk Gereja Tak Goyahkan Iman, DS: Saya Senang Gus Miftah Dihujat, Sekali2 Datanglah ke Tempat Ibadat Lain, Kalian Akan Lihat Kebesaran Tuhan

Rabu, 05-Mei-2021 08:30

Denny Siregar
Foto : FB/Denny Siregar
Denny Siregar
1

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny mengunggah foto saat dia menjadi pembicara di gereja sambil mencuit: “Pasti gua dibilang kafir nih...”.

Denny Siregar juga mengajak masyarakat Indonesia membuka mata bahwa dengan saling bersahabat dengan antar umat beragama, di sana justru ditemukan kebesaran Tuhan. 

“Saya dulu sering banget diundang ke Gereja.. Dan oke oke saja, gada masalah. Bahkan iman saya juga gak berubah. Pihak pengundang tahu saya beragama Islam. Tapi mereka juga asik2 aja. Justru ketika diundang itulah saya menyampaikan misi persahabatan saya,” kata Denny Siregar, Rabu 5 Mei 2021. 

"Saya selalu bilang disana, "Jangan melihat Islam dari wajah2 teroris itu, atau wajah ormas2 radikal itu, tapi lihatlah dari wajah Islam moderat seperti saya yang jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka..," imbuhnya.

“Bersahabat dgn umat berbeda agama itu penting. Begitu juga yang berbeda suku dan ras,” kata Denny.

“Karena itu saya senang ketika melihat Gus Miftah dihujat ketika ia menyampaikan salam persahabatan di sebuah Gereja. Perlu ribuan hujatan supaya gambarnya viral. Dengan gambar viral itu, pesan tersebar lebih luas dan orang akan melihat keindahan persahabatan disana..,” lanjutnya.

“Sekali sekalilah datang ke Gereja, Vihara, Kelenteng ataupun rumah ibadah agama yang berbeda lainnya. Disana kalian akan melihat kebesaran Tuhan yang menciptakan manusia dengan perbedaannya dan kita diperintahkan untuk belajar dari itu semua,” kata Denny.

"Seperti secangkir kopi. Dia tidak mungkin terasa nikmat kalau gada proses yang menjadikannya kaya kan? Ah, jadi pengen seruput kopi jadinya..," pungkasnya.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar: 

KETIKA UMAT MUSLIM KE GEREJA..

Saya dulu sering banget diundang ke Gereja..

Dan oke oke saja, gada masalah. Bahkan iman saya juga gak berubah. Pihak pengundang tahu saya beragama Islam. Tapi mereka juga asik2 aja. 

Justru ketika diundang itulah saya menyampaikan misi persahabatan saya. 

Saya selalu bilang disana, "Jangan melihat Islam dari wajah2 teroris itu, atau wajah ormas2 radikal itu, tapi lihatlah dari wajah Islam moderat seperti saya yang jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka.."

Apakah begitu penting saya harus memenuhi undangan pihak Gereja ? Sangat penting. Karena saya tidak ingin ada kesalahpahaman antar umat beragama hanya karena ulah segelintir manusia. 

Dengan bersahabat itulah kita melindungi banyak umat muslim di daerah yang mereka minoritas, supaya tidak terjadi gesekan yang dilakukan oknum2 beragama Islam di daerah lain, hanya karena mereka merasa mayoritas.

Bersahabat dgn umat berbeda agama itu penting. Begitu juga yang berbeda suku dan ras. Siapa sih kita yang merasa lebih tinggi dari manusia lainnya ? Wong sama2 berasal dari sperma aja bertingkah..

Karena itu saya senang ketika melihat Gus Miftah dihujat ketika ia menyampaikan salam persahabatan di sebuah Gereja. Perlu ribuan hujatan supaya gambarnya viral. Dengan gambar viral itu, pesan tersebar lebih luas dan orang akan melihat keindahan persahabatan disana..

Yang takut ketika umat berbeda agama datang mengunjungi tetangganya adalah mereka yang ingin negeri ini pecah. Mereka tidak paham persahabatan, bahkan tidak paham agama..

Sekali sekalilah datang ke Gereja, Vihara, Kelenteng ataupun rumah ibadah agama yang berbeda lainnya. Disana kalian akan melihat kebesaran Tuhan yang menciptakan manusia dengan perbedaannya dan kita diperintahkan untuk belajar dari itu semua.

Seperti secangkir kopi. Dia tidak mungkin terasa nikmat kalau gada proses yang menjadikannya kaya kan? Ah, jadi pengen seruput kopi jadinya..

Denny Siregar

Gus Miftah Dibully

Cendekiawan Nahdatul Ulama (NU), Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah diserang netizen lantaran berpidato di dalam gereja. Video itu, ia unggah di akun Instagram miliknya.

Gus Miftah dicap kafir, keluar dari islam dan syahadatnya batal karena dianggap mencampur adukan ajaran agama.

Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, Yogyakarta kemudian angkat suara setelah mendapat respon negatif dari netizen.

Dia mengatakan bahwa, apa yang disampaikan di mimbar gereja bukan rituan peribadatan. Tetapi dalam rangka acara peresmian Gereja Bethel Indonesia atau GBI. Saat itu, hadir pula Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sekjen PBNU Gus Helmi.

“Saat itu saya hadir bersama Gubernur DKI Jakarta, Mas Anies Baswedan, Sekjen PBNU Gus Helmi, dan beberapa tokoh agama lainya. Dan itu atas undangan mereka, acara yang mereka berikan ke saya pun, judulnya orasi kebangsaan dalam peresmian GBI. Bukan dalam rangka peribadatan, dicatat dalam rangka peresmian bukan dalam rangka peribadatan,” kata Gus Miftah, dikutp Senin (3/4).

Gus Miftah mengakui dihujat habis-habisan oleh netizen. Namun demikian, dirinya tidak menanggapi dan tetap bersyukur.

“Saya dihujat banyak netizen dengan mengatakan Miftah sesat, Miftah kafir, syahadatnya batal dan lain sebagainya. Gus Miftah marah? Enggak, saya bersyukur, alhamdulillah,” lanjutnya.

“Saya kemudian berpikir, orang seperti saya yang kebetulan dikasih Allah, jadi orang yang mampu membimbing sekian ratus orang untuk bersyahadat untuk jadi mualaf, hanya gara-gara video tersebut saya dikatakan kafir,” bebernya.

“Luar biasa, itulah dakwah zaman sekarang. Kalau dakwah zaman dulu tugasnya meng-Islamkan orang kafir, dakwah hari ini mengkafir-kafirkan orang Islam,” tukasnya.

Guru spiritual keluarga Anang Hermansyah itupun membacakan dalil mengapa dirinya bisa menghadiri undangan dari pihak GBI.

“Akan saya kutip keterangan dari kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqh Quwait. Kitab ini berisi ensiklopedia persoalan fiqih dari berbagai mazhab,” jelasnya.

Diapun membaca keterangan dalam Bahasa Arab. Namun, dirinya memilih tidak mengartikannya dalam Bahasa Indonesia.

“Di dalam keterangan miniminal ada empat perbedaan pendapat utama tentang masuk gereja dan salat di dalamnya. Saya pikir saya enggak perlu menterjemahkan, karena para netizen terutama yang menghujat saya tentu lebih alim daripada saya, tentu anda sudah paham,” sentilnya seperti dilansir Suara.com.

Sebelumnya, video orasi Gus Miftah beredar saat peresmian GBI beberapa hari lalu. Dia membacakan orasinya di altar dengan latar belakang salib yang kemudian jadi kontroversi.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto