Netral English Netral Mandarin
03:11wib
Aparat dari satuan TNI dan Polri akan menjadi koordinator dalam pelaksanaan tracing (pelacakan) Covid-19 dalam Pemberlakuan Pembatasan Sosial Masyarakat (PPKM) yang kembali diperpanjang. Presiden Joko Widodo memberi kelonggaran selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 diperpanjang mulai 26 Juli hingga 2 Agustus 2021.
Menakar Peluang Duet Prabowo - Airlangga di Pilpres 2024

Kamis, 03-Juni-2021 21:49

Pengamat komunikasi politik Jamaluddin Ritonga
Foto : Istimewa
Pengamat komunikasi politik Jamaluddin Ritonga
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat komunikasi politik Jamaluddin Ritonga mengomentari adanya wacana memasangkan Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Pilpres 2024.

"Ada upaya memasangkan Prabowo Subianto dengan Airlangga Hartarto pada Pilpres 2024. Duet ini dinilai potensial karena berasal dari partai yang punya eleltabilitas tinggi," kata Jamaluddin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/6/2021).

Jamaluddin mengatakan, kalau Gerindra dan Golkar berkoalisi, sudah memenuhi ambang batas presiden (presidential threshold) 20 persen untuk mengusung Prabowo-Airlangga.

"Sebab pada Pileg 2019, Gerindra memperoleh 12,57 persen atau 78 kursi dan Golkar dapat 12,31 persen atau 85 kursi," ujarnya.

"Jadi, kalau dua partai ini berkoalisi, maka tidak perlu pusing lagi memperoleh perahu untuk mengusung duet Prabowo - Airlangga," jelas Jamaluddin.

Lantas, siapa di antara Prabowo dan Airlangga yang jadi capres atau cawapres?

Jamaluddin menyebut, jika dilihat dari Pileg 2019, perolehan suara Gerindra dan Golkar tidak berbeda signifikan. Karena itu, baik Prabowo maupun Airlangga bisa menjadi capres atau cawapres.

"Namun kalau dilihat dari elektabilitas personal, elektabilitas Prabowo jauh mengungguli Airlangga. Prabowo elektabilitas sangat tinggi, sementara Airlangga sangat rendah," ucap dia.

Atas dasar elektabilitas personal itu, lanjut Jamaluddin, maka Prabowo yang layak jadi capres dan Airlangga menjadi cawapres.

"Sayangnya, Prabowo dan Airlangga berasal dari partai nasionalis. Kalau pasangan ini diusung tentu akan berhadapan dengan calon PDIP yang juga dari nasionalis. Hal ini tentu tidak menguntungkan bagi pasangan Prabowo-Airlangga untuk memenangkan pilpres 2024," ungkapnya.

Karena itu, tambah Jamaluddin, kalau calon pasangan ini ingin memenangkan Pilpres 2024, maka perlu dukungan dari partai Islam atau ormas Islam yang cukup besar.

"Masalahnya, apakah partai Islam dan ormas Islam mau mengusung pasangan Prabowo-Airlangga?. Kalau partai Islam kemungkinan masih ada yang mau mendukung  pasangan ini," paparnya.

Peluang itu, kata Jamiluddin, sangat bergantung dari kemampuan Prabowo dan Airlangga menyakinkan partai Islam tentang peluangnya untuk menang pada Pilpres 2024.

"Namun untuk sebagian besar ormas Islam tampaknya agak sulit untuk mau mendukung pasangan Prabowo-Airlangga. Sebab, Prabowo telah mengecewakan sebagian ormas Islam dengan masuknya ia ke Kabinet Jokowi," pungkasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli