Netral English Netral Mandarin
02:32wib
Ebrahim Raisi dinyatakan sebagai presiden terpilih Iran setelah penghitungan suara pada Sabtu (19/6/2021). Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito terkonfirmasi positif Covid-19 menyusul aktivitasnya yang padat dalam dua pekan terakhir ini.
Mengapa Orang Indonesia Malas Baca? Ternyata Ini Alasannya

Senin, 17-Mei-2021 21:00

Dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!
Foto : My Reading
Dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!
18

JAKARTA, NETRALNEW.COM -  Fakta pertama, UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. 

Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!

Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Fakta kedua, 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. 

Baca Juga :

Kominfo dalam laporannya mencatat, ironisnya, meski minat baca buku rendah tapi data wearesocial per Januari 2017 mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari. Tidak heran dalam hal kecerewetan di media sosial orang Indonesia berada di urutan ke 5 dunia. Juara deh. Jakarta lah kota paling cerewet di dunia maya karena sepanjang hari, aktivitas kicauan dari akun Twitter yang berdomisili di ibu kota Indonesia ini paling padat melebihi Tokyo dan New York. Laporan ini berdasarkan hasil riset Semiocast, sebuah lembaga independen di Paris. Salah satu yang menakjubkan, Warga Jakarta tercatat paling cerewet menuangkan segala bentuk unek-unek di Twitter lebih dari 10 juta tweet setiap hari. Di posisi kedua peringkat dunia kota teraktif di Twitter ialah Tokyo. Menyusul di bawah Negeri Sakura ada warna Twitter di London, New York dan Sao Paulo yang juga gemar membagi cerita. Bandung juga masuk ke jajaran kota teraktif di Twitter di posisi enam. Dengan demikian, Indonesia memiliki rekor dua kota yang masuk dalam daftar riset tersebut. 

Coba saja bayangkan, ilmu minimalis, malas baca buku, tapi sangat suka menatap layar gadget berjam-jam, ditambah paling cerewet di media sosial pula. Jangan heran jika Indonesia jadi sasaran empuk untuk info provokasi, hoax, dan fitnah. Kecepatan jari untuk langsung like dan share bahkan melebihi kecepatan otaknya. Padahal informasinya belum tentu benar, provokasi dan memecah belah NKRI.

Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskarpus) Kota Depok, Jawa Barat, Siti Chaerijah menyatakan minat baca warga Kota Depok setiap tahunnya meningkat.

"Untuk minat membaca pada tahun 2018 sebesar 63,94 persen, 2019 64,88 persen, dan 2020 naik menjadi 66,37 persen," kata Siti Chaerijah, dilansir Antara, Senin, (17/5/2021).

Menurutnya, gemar dan minat baca pada anak-anak ditentukan juga oleh faktor lingkungan. Jika memang minat baca sudah ditumbuhkan sejak dini, diharapkan dapat terbentuk budaya membaca.

Lebih lanjut Siti mengatakan kegiatan lomba mendongeng ternyata juga mampu meningkatkan minat baca pada nak-anak. Seperti yang dilakukan di Kecamatan Sukmajaya beberapa waktu lalu.

"Kami sangat berharap wilayah lain dapat melakukan hal yang sama agar anak-anak Kota Depok semakin tinggi pengetahuan literasinya," ujarnya.

"Alhamdulillah setiap tahunnya meningkat. Kondisi minat dan gemar baca di Kota Depok sudah baik," katanya.

Dikatakannya dengan meningkatnya minat baca pada anak-anak nantinya akan mempengaruhi literasi-literasi yang dimilikinya.

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Wahyu Praditya P