Netral English Netral Mandarin
11:27wib
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan dunia berada di jalur bencana lantaran pemanasan global yang terus berlangsung. Uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap 11 calon hakim agung usulan Komisi Yudisial (KY) di Komisi III DPR akan digelar pada pekan depan.
Mengenakan Kain Tapis, Inilah Makna Dibalik Busana Adat yang Dipakai Presiden Jokowi

Rabu, 18-Agustus-2021 11:00

Presiden Jokowi mengenakan busana adat Lampung.
Foto : Setpres.
Presiden Jokowi mengenakan busana adat Lampung.
23

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Jika pada sidang tahunan di hadapan anggota MPR/DPR dan DPD Presiden Joko Widodo mengenakan busana adat Baduy, maka pada upacara HUT Kemerdekaan RI ke-76, memakai bujana adat Lampung.

Ya, kain tapis menjadi ciri bagi masyarakat adat Lampung. Kain tapis dianggap sebagai kain yang memiliki makna simbolis sangat tinggi salah satunya sebagai lambang kesucian yang dapat melindungi pemakainya dari segala kotoran dari luar.

Warna dasar kain tapis juga bisa dipakai sebagai wujud kepercayaan yang melambangkan kebesaran Pencipta Alam

Motif pada kain tapis Lampung memiliki banyak corak yang berasal dari berbagai inspirasi yang terdapat di alam. Orang pada zaman dahulu membuat corak yang dituangkan pada kain berdasarkan pengalaman yang ia dapat dari berbagai macam bentuk alam yang ditemuinya sehari-hari. Motif juga terbentuk dari unsur spiritual yang berkembang ditengah masyarakat. Tidak dipungkiri bahwa makna dari motif kain yang tercipta dijadikan sebagai identitas, sebagai simbol kepribadian masyarakat.Secara sosiologis, kain tapis Lampung melambangkan kemapanan status sosial pemiliknya dalam kehidupan bermasyarakat. Kain Tapis Raja Medal, misalnya, hanya bisa dipakai oleh kalangan elite suku asli Lampung dari kalangan keluarga pemimpin adat atau pemimpin suku pada upacara adat. Misalnya saat resepsi perkawinan dan upacara pemberian gelar adat (cakak pepadun). Penggunaannya pun tidak boleh sembarangan.

emakaian kain tapis pada acara adat juga harus disesuai derajat penggunaannya. Pada acara perkawinan dan cakak pepadun, jenis tapis yang dipakai adalah Tapis Jung Sarat, Raja Medal, Raja Tunggal, Dewasano, Limar Sekebar, Ratu Tulang Bawang dan Cucuk Semako. Pada acara cangget (tarian untuk menghormati tamu penting), tapis yang dipakai dengan motif Bintang Perak, Tapis Balak, Pucuk Rebung, Lawek Linau dan Kibang. Untuk wanita tua, tapis yang dipakai adalah Tapis Agheng, Cucuk Pinggir, dan Tapis Kaca. 

Jika salah dalam menggunakannya, maka ada sanksi adat, berupa teguran dari anggota masyarakat lainnya. Bahkan, seseorang yang secara adat dinilai belum pantas memakai Kain Tapis Medal, misalnya, tetapi nekat memakainya pada saat upacara adat, kain itu bisa dicopot di muka umum.

Perkembangan zaman menyebabkan desakralisasi kain tapis. Kini kain tapis tidak hanya dipakai kaum bangsawan atau kepala adat, tetapi juga dipakai oleh kalangan masyarakat Lampung kelas bawah. Kalau kain tapis para kepala adat biasanya benangnya bercampur dengan emas, kain tapis yang dipakai orang kebanyakan benangnya berwarna kuning keemasan. 

Meski begitu, motifnya tetap indah. Pemakaiannya pun harus pada acara adat tertentu, seperti Acara Butammat, yaitu acara muda-mudi melakukan pembacaan ayat suci Al Quran di Balai Adat dan disaksikan oleh para pemuka adat dan masyarakat sebagai tanda mereka telah khatam Al Quran. 

“Meski telah terjadi perubahan dalam motif kain tapis karena pengaruh perkembangan jaman, namun khasanah motif tempo dulu tak juga sirna,” kata Aisyah Yaqub, 66,seniman tapis asal Desa Natar, Lampung Selatan, dilansir Teraslampung. 

Aisyah mencontohkan motif Pucuk Rebung (anak bambu muda) yang sudah ada sejak periode prasejarah atau ragam hias zaman Hindu. Tapis Pucuk Rebung hingga kini masih menjadi motif utama yang melambangkan kemakmuran. Demikian pula motif yang berbentuk spiral, diyakini mempunyai arti sebagai pemujaan matahari dan alam. Ragam hias Pohon Hayat juga diyakini mengandung makna kesatuan dan keesaan Tuhan yang menciptakan alam semesta. 

Menurut Aisyah pada zaman dulu para pengrajin tapis menggunakan bahan baku dari hasil olah sendiri dengan menggunakan sistem ikat. Bahan olahan tersebut berasal dari khambak (kapas) yang digunakan untuk membuat benang; kepompong, yang digunakan untuk membuat benang sutera; pantis (lilin sarang lebah), untuk meregangkan benang; akar serai wangi , untuk pengawet benang, daun sirih untuk membuat tidak luntur, buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu jejal untuk pewarna merah, kulit kayu salam, rambutan untuk pewarna hitam, kulit kayu mahoni, durian untuk perwarna cokelat, buah duku, atau daun talom untuk pewarna biru, kunyit dan kapur untuk pewarna kuning. 

“Bahan baku yang langsung diambil dari alam tersebut lebih berkualitas dari pada bahan baku yang sekarang sudah banyak diperdagangkan,” kata Aisyah. 

Aisyah mengatakan sekarang bahan baku pembuatan tapis adalah benang katun yang berbentuk gulungan yang bermerek Tiger atau Astra dengan berbagai jenis warna. Sedangkan untuk bahan sulamnya, menggunakan benang emas dalam bentuk gulungan yang mudah didapatkan. 

Proses membuat tapis tergolong rumit, membutuhkan keterampilan dan waktu yang lumayan lama. Untuk menciptakan satu kain tapis, perlu waktu seminggu hingga dua bulan. 

Pembuatannya juga unik dan berbau magis. Dulu, kain tapis dibuat dari daun nanas dan dalam pembuatannya seorang penenun melafazkan mantra-mantra sebagai asihan bagi pemakainnya yang dilakukan dari proses penenunan, penyulaman hingga menjadi kain. 

Bahan utamanya berasal benang kapas katun, benang emas dan benang kapas. Bahan katun dijadikan sebagai dasar kain. Sedangkan benang emas dan benang kapas digunakan untuk membuat ragam hias dengan sistem sulam. 

Setelah bahan dipersiapkan, langkah selanjutnya adalah melakukan penenunan yang disebut Mattakh. Setelah ditenun, baru dilakukan penyulaman untuk menghias motif yang telah ditentukan. 

Alat yang digunakan saat penyulaman adalah tekang, yang berbentuk persegi panjang berupa papan sebagai pengencang kain yang akan disulam. 

Sedangkan proses penyulaman dilakukan secara manual dengan menggunakan jarum. Sebelum menyulam, pengrajin sudah mengetahui motif yang akan disulam. Motif – motif tersebut telah digambar di atas kain. Penyulaman dilakukan sesuai gambar motif yang telah didesain. 

Motif yang dihasilkan bentuknya beranekaragam, seperti ragam hias Geometri, yaitu ragam hias berbentuk persegi seperti wajik. Ragam hias flora dan fauna, yang umumnya dijadikan motif adalah bunga dan daun sulur (menjulur) membentuk simetris pada bidang dasar kain. 

Ragam hias sulur berupa sulaman berbentuk tali, digunakan sebagai ragam hias pada Tapis Cucuk Andak dan Inuh. Sulur bentuknya berliku – liku. Sedangkan ragam fauna, umumnya bermotif naga, burung dan hewan tunggangan. Burung hias yang biasa djadikan motif adalah
burung garuda, merak dan ayam jago.  

Burung dilambangkan sebagai ketiinggian derajat seseorang, sedangkan ayam jago melambangkan keperkasaan. Pada agama Hindu, burung garuda disimbolkan sebagai kendaraan Dewa Wisnu. Sedangkan burung merak melambangkan kebesaran dengan keindahan ekornya. 

Motif tersebut dapat dijumpai pada Kain Tapis “Perahu Garuda” yang dipakai pada acara begawi adat (pesta adat), menjadi simbol untuk mencapai derajat yang lebih tinggi. Penggunaan ragam hias burung umumnya dipakai pada wanita tua dan menggunakan dasar warna tua.

 

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Wahyu Praditya P