Netral English Netral Mandarin
09:27wib
Pemerintah akan mengubah tata laksana penggunaan obat untuk para pasien Covid-19 guna mengantisipasi virus corona varian Delta berdasarkan usulan lima organisasi profesi kedokteran. Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di sejumlah wilayah kabupaten/kota tertentu mulai 3 hingga 9 Agustus 2021.
Mengenal Penyakit Keturunan 'Thalassemia' yang Buat Organ Tubuh Kekurangan Oksigen

Selasa, 01-Juni-2021 11:20

Ilustrasi: Thalassemia merupakan penyakit keturunan yang didapat dari salah satu atau kedua orang tua.
Foto : CNN Indonesia
Ilustrasi: Thalassemia merupakan penyakit keturunan yang didapat dari salah satu atau kedua orang tua.
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dokter Spesialis Anak Konsultan Hematologi RS Kariadi Semarang, dr Bambang Sudarmanto, SpA(K), MARS mengatakan, Thalassemia merupakan penyakit keturunan yang didapat dari salah satu atau kedua orang tua.

Kelainan penyakit ini terletak pada tidak terbentuknya rantai hemoglobin didalam darah. Berdasarkan atas tidak terbentuknya rantai hemoglobin, Thalassemia terbagi menjadi Thalassemia alfa dan Thalassemia beta. 

Anak yang menderita penyakit Thalassemia akan mengalami kekurangan kadar hemoglobin (Hb) yang disebut anemia. 

"Anemia ini dapat menyebabkan tubuh terutama organ-organ penting seperti otak, jantung, hati, ginjal dan yang lain akan kekurangan oksigen (hipoksia), karena hemoglobin berfungsi mengangkut oksigen yang dihirup ketika kita bernapas," jelas dia dalam Virtual Media Briefing, Senin (31/5/2021).

Kata dr Bambang, keadaan itu mengakibatkan tumbuh kembang anak akan terganggu, mempengaruhi produktivitas belajar, bekerja dan kualitas hidupnya.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan frekuensi pembawa sifat alfa Thalassemia mencapai 2.6% -11%, beta thalassemia 3%-10% serta varian lain Thalassemia HbE mencapai 1.6%- 33?ri total populasi yang mencapai 256 juta penduduk. 

Setiap tahun diperkirakan akan lahir 2500 bayi dengan Thalassemia major. Jumlah Thalassemia di Indonesia yang teregisitrasi baru mencapai 9123 (2016). Hal ini disebabkan kemungkinan masih banyak yang belum di laporkan, belum semua RS mampu untuk mendiagnosis Thalassemia dengan benar (underdiagnosis) dan lain sebagainya.

"Saat ini pengobatan Thalassemia dapat dilakukan dengan transfusi darah 

merah. Pemberian transfusi darah diberikan pada anak dengan kadar Hemoglobin kurang dari 7 gr/dL pada awal diagnosis, dan harus rutin dilakukan dengan rentang waktu 2-4 minggu," jelas dia.

Setiap kantong transfusi darah, mengandung 200 -250 mg zat besi zat yang menumpuk didalam jaringan tubuh. Pada umumnya setelah 20 kali transfusi darah, anak akan mengalami kelebihan zat besi (iron overload). 

Zat besi yang berlebih ini akan tertimbun di organ-organ penting tubuh diantaranya adalah otak, pankreas, jantung, hati, ginjal serta organ penting lainnya yang dapat mengakibatkan gagal jantung, sirosis hepatis (kerusakan sel hati), diabetes melitus, kelainan ginjal dan kematian. 

"Oleh karena itu kelebihan zat besi ini 

harus dikeluarkan dari tubuh dengan memberikan pengobatan kelasi besi," tegas dia.

Kepatuhan penyandang dalam mengkonsumsi obat juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan kelasi besi ini. Dibutuhkan edukasi yang terus menerus tentang dampak yang ditimbulkan bila tidak patuh mengkonsumsi kelasi besi.

Disamping itu penyandang juga dianjurkan untuk mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung nutrient dan vitamin (asam folat, vitamin E, vitamin C).

Dia juga menekanan untuk melakukan Screening Thalassemia guna mendapatkan data awal yang idealnya dilakukan sebelum menikah. Dari hasil screening tersebut akan dilakukan konseling genetik yang lebih mendalam.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Taat Ujianto