Netral English Netral Mandarin
04:45wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Mengenal Varian Delta Plus dan Perbedaan dengan Varian Delta Sebelumnya

Minggu, 01-Agustus-2021 13:30

Ilustrasi vaksinasi COVID-19.
Foto : Istimewa
Ilustrasi vaksinasi COVID-19.
28

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Dr dr Zubairi Djoerban SpPD-KHOM menilai, Varian Delta Plus kini sedang naik daun. Varian ini juga menjadi perbincangan di mana-mana dan telah ditemukan di Indonesia. 

Apakah kecepatan penularannya lebih cepat dan lebih berbahaya ketimbang varian Delta “asli”? 

"Jawabannya belum diketahui pasti. Sebab datanya masih sedikit," ujar Prof Zubairi, dikutip dari keterangan tertulisnya, Minggu (1/8/2021).

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) masih memasukkan informasi Delta Plus ke kelompok Delta. Demikian pula World Health Organization (WHO) yang belum jelas menyatakan Delta Plus ini lebih berbahaya atau menular.

Belum cukup data dan informasi terkait varian Delta Plus yang bisa menembus pertahanan orang yang mempunyai antibodi alami atau yang telah divaksinasi.

Selain itu belum cukup data juga, apakah apa varian ini bisa menurunkan efikasi vaksin yang sudah diberikan.Tetapi sudah dipastikan apabila varian Delta “asli” memang bisa menurunkan efikasi vaksin. 

Contoh paling gampang adalah Amerika, yang notabene 50 persen lebih warganya sudah divaksinasi. Ketika vaksinasi masif, kasusnya memang turun drastis. Tapi kemudian naik lagi. 

Sekarang, jumlah kasus baru di Amerika dalam seminggu terakhir, menempati posisi pertama dunia, meski sudah melakukan vaksinasi lebih dari 50 persen warganya.

Apakah naiknya kasus Covid-19 di Amerika karena Delta Plus? Belum ada informasi soal itu. 

"Yang jelas, varian Delta yang diketahui saat ini lebih menular dari virus yang menyebabkan MERS, SARS, Ebola, flu biasa, flu musiman, dan cacar. Demikian kata CDC," jelas Prof Zubairi.

Hal yang sebenarnya menjadi isu para ahli adalah kekhawatiran Delta Plus yang bisa mengganggu pengobatan untuk pasien Covid-19, yang membutuhkan terapi obat antibodi monoklonal.

Antibodi monoklonal ini bagus sekali dan bisa selamatkan nyawa pasien Covid-19. Sebab itu obat ini mendapat izin emergency use authorization. 

"Varian Delta Plus ini dikhawatirkan tidak mempan dengan obat antibodi monoklonal sehingga akan mengurangi hasil pengobatannya," ujar Prof Zubairi.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan HP