Netral English Netral Mandarin
14:34 wib
Sony Pictures mengumumkan tunda perilisan film baru mereka. Film Cinderella yang sedianya dijadwalkan rilis pada 5 Februari 2021 diundur ke 16 Juli 2021. Film Ghostbusters: Afterlife juga diundur. Kementerian Kesehatan menegaskan, hampir tak mungkin seseorang yang divaksin Sinovac terinfeksi virus corona karena vaksin. Sebab, vaksin tersebut berisi virus mati.
Menguak Warisan Multiras yang Tak Terbantahkan (1)

Kamis, 03-December-2020 09:06

Ilustrasi grup musik keeroncong tempo dulu
Foto : Gigsplay.com
Ilustrasi grup musik keeroncong tempo dulu
18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online, “keroncong” diartikan sebagai: (n) 1 bunyi seperti bunyi giring-giring; 2 (ki) tiruan bunyi perut yang lapar. Yang dimaksud “giring-giring” sendiri menunjuk pada bunyi genta kecil (untuk perhiasan gelang kaki, pakaian, dan sebagainya); kelinting; bel (pada sepeda dan sebagainya).

Namun dalam pergaulan sehari-hari, istilah “keroncong” bukanlah hal asing. Persepsi orang cenderung akan tertuju pada salah satu genre musik yang lahir dari proses akulturasi budaya Eropa dan Nusantara. Musik ini mempunyai ciri khas bunyi “giring-giring” yang dihasilkan sejumlah alat musik yang khas pula.

Bisa dikatakan bahwa keroncong merupakan salah satu hasil perpaduan estetika peradaban Barat dan Timur yang berlangsung sejak abad ke-16. Keberadaannya sekaligus menjadi saksi perjalanan sejarah masa lampau, sempat mengalami “intervensi” penguasa, namun menyesuaikan tantangan zaman, sehingga mampu bartahan hingga kini.

Baca Juga :


Dalam proses tersebut, keroncong bukan hanya sekadar mengungkapkan musik, alat musik, lirik, tokoh, namun juga semua persinggungan budaya yang menyertai, ikut membentuk, serta mempengaruhi unsur-unsur lainnya mulai dari soal pakaian (kostum), hingga para pelaku dengan ragam etnis yang melatarbelakanginya.   

Dengan mengungkap lika-liku perjalanan keroncong, kita bisa mendapatkan potongan-potongan gambar lebih tentang keberagaman dan kekayaan budaya Indonesia yang lebih utuh.

Asal Usul Keroncong

Sebelum  ada istilah musik keroncong, kata “keroncong” sendiri sebenarnya sudah ada. Menurut ahli etnomusikologi Rosalie Groos, kata keroncong menunjuk pada bunyi gelang keroncong, yaitu lima sampai sepuluh  gelang  yang terbuat dari  emas  atau perak  yang biasa dikenakan di lengan kaum perempuan.

Saat bergerak, gelang-gelang tersebut menimbulkan suara “crong..crong..crong”. Bunyi identic juga dihasilkan dari perhiasan  yang biasa  dipakai dalam seni tari, “perhiasan” untuk kuda penarik andong, perhiasan gelang pemain wayang orang, dan sebagainya.

Selanjutnya mengenai kebaradaan musik keroncong pun, ternyata ada beberapa pendapat berbeda. Di satu pihak ada yang berpendapat bahwa music keroncong diperkenalkan oleh kaum mardijkers di Batavia pada abad ke-17. Dalam hal ini, keroncong dianggap sebagai budaya bukan asli ciptaan orang-orang di Nusantara.

Di pihak lain, ada juga pendapat bahwa keroncong adalah budaya asli Nusantara. Salah satu tokoh yang berpendapat demikian adalah Kusbini. Pendapatnya cukup beralasan mengingat di negara lain, termasuk di Portugis pun, tak akan ditemukan jenis musik asli keroncong.

Namun fakta lain membuktikan bahwa musik dan lagu keroncong yang berkembang di Indonesia mendapat pengaruh besar dan diilhami oleh lagu-lagu Portugis abad ke-17, pada saat kedatangan bangsa Portugis ke Batavia.  

Semestinya perbedaan pendapat tentang asal-usul keroncong tidak perlu menjadi bahan debat kusir yang tak ada ujungnya. Yang jelas, dari perjalanan sejarah telah membuktikan bahwa musik keroncong adalah warisan multiras, multi etnis, merupakan kesimpulan tak terbantahkan.  

Hal ini sejalan dengan pendapat Victor Ganap bahwa keroncong merupakan musik hibrida, hasil dari berbagai komponen budaya yang menyatu melalui proses perjalanan sejarah yang panjang dengan segala keunikannya.

Keroncong dan Jalur Rempah

Jauh sebelum bangsa Eropa menginjakkan kaki di bumi Nusantara, cengkih, pala, hingga kayu manis yang berlimpah di khususnya dari Maluku, sudah menjadi primadona dunia. Bangsa Arab, India, hingga China yang dahulu berburu gaharu hingga cengkih sudah berinteraksi terlebih dahulu dengan masyarakat Nusantara terutama di kota-kota pelabuhan. Tak jarang mereka kemudian kawin-mawin dengan penduduk lokal.

Memasuki abad ke-16, kota-kota pelabuhan yang menjadi jalur perdagangan rempah semakin ramai dengan kedatangan bangsa Eropa. Mula-mula Portugis datang. Laksana menemukan harta karun, mereka  langsung tergiur ingin memonopoli perdagangan rempah tersebut.

Berita penemuan tersebut segera tersiar sehingga berdatangan pula bangsa lain ke Nusantara di antarannya adalah bangsa Belanda. Mereka kemudian bersaing untuk bisa menguasai rempah melalui praktik yang kemudian biasa disebut kolonialisme dan imperialisme .

Terlepas dari konflik dan kekejaman yang kemudian lahir sebagai akibat praktik kolonialisme dan imperialisme, ternyata ada banyak sisi-sisi “perkawinan budaya” yang mengiringinya.

Dalam bidang kuliner misalnya tercermin dari “sambal”. Konon, sebelum bangsa Portugis datang, sambal sudah dikenal oleh orang Jawa  dengan sebutan “sambel”. Namun, bahan yang digunakan adalah jahe, andaliman, dan lada. Fungsinya sama-sama untuk menciptakan sensasi rasa pedas dalam makanan.

Tatkala orang Portugis datang, mereka memperkenalkan cabai yang mereka bawa dari Amerika. Di kemudian hari, dengan cabai itulah bahan dasar sambal menjadi popular hingga kini.  

Kita juga tak heran bila orang Sulawesi Utara menyukai rasa pedas. Biji cabai yang dibawa Portugis terbukti mengalahkan rasa pedas dari bahan-bahan yang mereka peroleh dari Jawa.

Tak hanya sambal. Akibat perdagangan rempah, sebenarnya masih banyak kuliner Nusantara lainnya, juga dipengaruhi oleh budaya Arab, India, China, Eropa, bahkan Amerika.

Demikian halnya dengan budaya lain mulai dari pakaian, bahasa, hingga musik. Di kala tertentu, orang-orang yang menjadi awak kapal Portugis singgah, tinggal bertahun-tahun, menghibur diri, mengenang negeri mereka, serta berpesta dengan diiringi musik yang mereka mainkan.

Di kemudian hari musik itu menjadi biasa didengar telinga masyarakat di sekitar pelabuhan. Lambat laun muncul rasa suka terhadap  musik itu. Bahkan, di kemudian hari juga dimainkan, diubah, dikombinasikan, dielaborasi, dan seterusnya oleh masyarakat lokal di Jawa bahkan hingga Maluku.

Persilangan budaya mulai dari kuliner hingga musik sebagai dampak lain dari  perdagangan rempah sebenarnya hanyalah dua contoh dari banyak persilangan budaya lain yang sebenarnya hingga kini hidup di tengah kita, mulai dari ranah privat hingga di ruang-ruang publik. Namun, seringkali kita tak sadar bagaimana asal usul dan budaya itu sehingga menjadi bagian hidup bangsa Indonesia.

(bersambung ke part 2)

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat