Netral English Netral Mandarin
11:35 wib
Uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Kapolri akan digelar pada Rabu (20/1/2021). Polda Metro Jaya menjadwalkan pada Rabu (20/1/2021) gelar perkara terkait kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan (prokes) dalam acara ulang tahun Ricardo Gelael yang dihadiri Raffi Ahmad.
Menguak Warisan Multiras yang Tak Terbantahkan (2)

Sabtu, 05-December-2020 11:05

Kerontjong Kampoeng Toegoe
Foto : Istimewa
Kerontjong Kampoeng Toegoe
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Jauh sebelum bangsa Eropa menginjakkan kaki di bumi Nusantara, cengkih, pala, hingga kayu manis yang berlimpah di khususnya dari Maluku, sudah menjadi primadona dunia.

Bangsa Arab, India, hingga China yang dahulu berburu gaharu hingga cengkih sudah berinteraksi terlebih dahulu dengan masyarakat Nusantara terutama di kota-kota pelabuhan. Tak jarang mereka kemudian kawin-mawin dengan penduduk lokal.

Memasuki abad ke-16, kota-kota pelabuhan yang menjadi jalur perdagangan rempah semakin ramai dengan kedatangan bangsa Eropa. Mula-mula Portugis datang. Laksana menemukan harta karun, mereka  langsung tergiur ingin memonopoli perdagangan rempah tersebut.

Baca Juga :


Berita penemuan tersebut segera tersiar sehingga berdatangan pula bangsa lain ke Nusantara di antarannya adalah bangsa Belanda. Mereka kemudian bersaing untuk bisa menguasai rempah melalui praktik yang kemudian biasa disebut kolonialisme dan imperialisme .

Terlepas dari konflik dan kekejaman yang kemudian lahir sebagai akibat praktik kolonialisme dan imperialisme, ternyata ada banyak sisi-sisi “perkawinan budaya” yang mengiringinya.

Dalam bidang kuliner misalnya tercermin dari “sambal”. Konon, sebelum bangsa Portugis datang, sambal sudah dikenal oleh orang Jawa  dengan sebutan “sambel”.

Namun, bahan yang digunakan adalah jahe, andaliman, dan lada. Fungsinya sama-sama untuk menciptakan sensasi rasa pedas dalam makanan.

Tatkala orang Portugis datang, mereka memperkenalkan cabai yang mereka bawa dari Amerika. Di kemudian hari, dengan cabai itulah bahan dasar sambal menjadi popular hingga kini.  

Kita juga tak heran bila orang Sulawesi Utara menyukai rasa pedas. Biji cabai yang dibawa Portugis terbukti mengalahkan rasa pedas dari bahan-bahan yang mereka peroleh dari Jawa.

Tak hanya sambal. Akibat perdagangan rempah, masih banyak kuliner Nusantara lainnya, juga dipengaruhi oleh budaya Arab, India, China, Eropa, bahkan Amerika.

Santhi Serad, Ketua Aku Cinta Masakan Indonesia, suatu ketika mengatakan, “Dari perdagangan rempah-rempah, khasanah kuliner kita menjadi kaya sekali. Kita terpengaruh dari budaya Arab, India, China, Eropa, Amerika.

Pada abad ke-16, perdagangan mulai dari Aceh. Jadi mau tidak mau pengaruh makanan India ada di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Wajar dari daerah ini kulinernya, lebih banyak berasa rempah-rempah.”

Demikian halnya dengan budaya lain mulai dari pakaian, bahasa, hingga musik. Di kala tertentu, orang-orang yang menjadi awak kapal Portugis singgah, tinggal bertahun-tahun, menghibur diri, mengenang negeri mereka, serta berpesta dengan diiringi musik yang mereka mainkan.

Di kemudian hari musik itu menjadi biasa didengar telinga masyarakat di sekitar pelabuhan. Lambat laun muncul rasa suka terhadap  musik itu.

Bahkan, di kemudian hari juga dimainkan, diubah, dikombinasikan, dielaborasi, dan seterusnya oleh masyarakat lokal di Jawa bahkan hingga Maluku.

Persilangan budaya mulai dari kuliner hingga musik sebagai dampak lain dari  perdagangan rempah sebenarnya hanyalah dua contoh dari banyak persilangan budaya lain yang sebenarnya hingga kini hidup di tengah kita, menyusup ke ranah privat hingga ruang-ruang publik.

Namun, seringkali kita tak sadar bagaimana asal usul dan budaya itu sehingga menjadi bagian hidup bangsa Indonesia.

Mengalun di Batavia hingga Maluku

Sekitar tahun 1661, banyak orang yang dibawa kapal Portugis tinggal dan kemudian beranak pinak di sekitar rawa-rawa daerah Cilincing yang bernama Kampoeng Toegoe, Batavia (kini daerah Jakarta Utara, tepatnya di sekitar Kampung Tugu). Orang-orang ini biasa disebut Mestizo.

Bila dilacak nenek moyangnya,  mereka sebenarnya memiliki darah campuran. 

Dahulu, para pelaut Portugis kawin dengan penduduk lokal di koloni mereka mulai dari Afrika Timur, Pantai Malabar, Sri Langka, Malaka, Banda, Ambon, hingga Flores Atambua.

Tahun 19641, Portugis di Malaka tak berdaya oleh gempuran kapal Belanda. Banyak orang Mestizo yang kemudian ditangkap dan dijadikan budak di Batavia.

Orang Belanda kemudian biasa menyebut mereka sebagai Kaum Mardijkers. Mereka adalah kaum budak yang kemudian dimerdekakan melalui syarat-syarat tertentu. 

Konon, salah satu syaratnya adalah mereka harus bersedia pindah dari agama Katolik menjadi agama Kristen Protestan. Saat itu, Kristen merupakan agama resmi Kolonial Belanda.

Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Kaum Mardijkers tidak hanya berasal dari tawanan yang dibawa Belanda dari Malaka tetapi juga termasuk orang-orang bangsa Moor yang ditaklukkan dan di-Katolikkan oleh Portugis sekitar tahun 1492.

Meski sudah masuk Katolik mamun mereka masih mendapat perlakuan diskriminasi sehingga akhirnya keluar dan memilih bekerja di kapal-kapal dagang Portugis. Sekitar  abad  ke-17  mereka  sampai  di  Batavia  dan kemudian diberi tempat di Kampung Tugu.

Di saat tertentu mereka memainkan musik tradisi mereka, termasuk musik fado yang khas Portugis. Keberadaan kaum Mardijkers di Kampung Tugu ikut memberi warna bagi lahirnya musik keroncong di Batavia.

Dengan demikian, mereka juga berpengaruh terhadap budaya masyarakat Batavia secara umum yang di kemudian hari disebut sebagai masyarakat Betawi.

Meski posisinya minoritas, bisa dikatakan bahwa salah kontribusi kaum Mardijkers adalah sebagai pembawa konsep keroncong Betawi di masa awal.

Meskipun musik tersebut pada mulanya mereka mainkan mungkin hanya sebagai salah satu ekspresi mengenang nenek moyang, menghibur diri dari keseharian sebagai masyarakat kelas bawah.

Namun, ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa musik keroncong Kampung Tugu muncul dengan sendirinya dan bukan karena dibawa oleh kaum Mardijkers.

Memang kemudian jenis alat-alat musik yang dibawa kaum Mardijkers  seperti biola dan selo kemudian memperkaya apa yang muncul tersebut.

Pada waktu senggang nenek moyang masyarakat Kampung Tugu dengan membawa alat-alat musik   seperti   gitar,   biola,   dan   lain-lain   berkumpul   untuk   bermain   dan mendengarkan musik, yang di kemudian hari disebut sebagai musik keroncong.  

Dari kreasi alat musik kaum Mardijkers berjenis ukulele ada juga ragam jenis gitar seperti Jitera (besar), Prunga (sedang), dan Macina (kecil). Ketika dimainkan, alat musik itu menghasilkan bunyi “krong-krong” dan “crong-crong”.

Mungkin dari bunti inilah kemudian lahir kata “keroncong” yang kadang ditulis dengan tanpa “e” atau “kroncong”.

Dalam catatan Fernão Mendes Pinto, seorang Pelaut Portugis abad 16 berjudul Peregrinacao (Muhibah), disebutkan bahwa Mendes Pinto mengisahkan tentang rekan perjalanannya yang merupakan seorang musisi bernama de Meirelez.

Musisi ini disebut-sebut Mendes Pinto selalu membawa gitar kecil bernama Cavaquinho. Bentuknya yang kecil menjadi praktis dibawa ke sana ke mari. Alat musik  inilah yang kemudian diberi nama ukulele dan dikenal hingga sekarang.

Catatan Mendes Pinto juga mengisahkan adanya kiriman 10.000 Cavaquinho dari Portugis ke Maroko.

Bisa jadi, hal ini bisa diartikan bahwa sebelum berkembang  di wilayah timur (termasuk Nusantara), musik dengan iringan Cavaquinho lebih dahulu berkembang di ujung barat Afrika bagian utara.

Dari wilayah inilah kemudian muncul istilah orang-orang Morisco atau orang yang berasal dari tanah Maroko. 

Bisa jadi pula, musik yang populer di Cape Verde (Kepulauan di tengah Samudera Atlantik seberang pantai Afrika Barat) yang bernama Mornas juga berasal dari Maroko. 

Musik Mornas ini, menurut Joaquim Moreira de Lemos, duta besar Portugis untuk Indonesia pada 2014, sangat mirip dengan Keroncong yang berkembang di Indonesia.

Mengenai istilah “Morisco”, ternyata muncul pula istilah irama Morisco yang menjadi ciri khas musik dari Kampung Tugu.

Maka, bukan mengada-ada bila kita menarik kesimpulan bahwa semua ini ada kaitannya dengan kisah asal-usul alat musik Cavaquinho yang dibawa pelaut Protugis hingga Maroko kemudian coraknya dibawa sampai Batavia oleh kaum Mestizo (Mardijkers).

Selain itu, gitar jenis Cavaquinho ini pula yang kemudian dikembangkan oleh kaum Mardijkers beserta keturunan dan masyarakat sekitar Kampung Tugu.  

Menurut Manusama yang diperkuat oleh Antonio Pinto da Franca, lagu keroncong pertama di Indonesia lahir di Kampung Tugu sekitar tahun 1661 berjudul Moresco, Kafrinyu, Old Song, dan Craddle Song.

Baru memasuki tahun 1870-an, ketika bahasa Melayu mulai populer di Batavia, musik keroncong mulai diminati oleh orang-orang Indo-Belanda dan orang-orang Indonesia sendiri.

Keroncong Tugu berkembang menjadi ikon musik Kota Batavia yang disuguhkan melalui seni pertunjukkan di berbagai tempat mulai di Pasar Gambir, Kampung Bandan, Komunitas Indo-Belanda di Kemayoran, hingga komunitas tentara Belanda di barak Weltevreden.

Selain keroncong, seni pertunjukan lainnya yang sama-sama popular di Batavia tahun 1920-an adalah musik Gambang Kromong. Kedua musik ini memiliki “irisan” yang unik mengingat dalam perkembangannya banyak dimainkan oleh warga Peranakan Tionghoa.

Gambang kromong sendiri lahir dari pertemuan budaya “pribumi” dengan budaya Tionghoa dan diperkirakan lebih tua ketimbang keroncong. Keduanya kemudian menjadi khas budaya masyarakat Betawi.

Gambang kromong pun juga disebarkan oleh warga Tionghoa hingga ke luar Batavia, di antaranya hingga ke wilayah Semarang, Jawa Tengah sekitar tahun 1949. Salah satu lagu yang terkenal adalah “Gambang Semarang” karya Oey Yok Siang.

Demikian halnya dengan penyebaran musik keroncong. Solo dan Surabaya adalah salah satu kota pelabuhan yang juga menjadi sentra keroncong perdana di Jawa.

Tak hanya di Jawa, keroncong ternyata juga berkembang di Maluku seperti Ambon, Tidore, dan Ternate. Seperti kita ketahui, pelaut Portugis juga singgah di wilayah Maluku dalam rangka mengincar rempa-rempah.

Ekspedisi Portugis di bawah armada Alfonso de Albuquerque sudah menjejakkan kakinya di Maluku tahun 1512.

Dalam konteks persilangan budaya, pola asal mula berkembangnya musik keroncong di Maluku besar kemungkinan tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Batavia.  

Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat