Netral English Netral Mandarin
07:42 wib
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo meyakini dirinya tertular Covid-19 saat makan karena harus melepas masker. Ia pun mengimbau masyarakat menghindari makan-makan bersama orang lain. akan menggunakan GeNose, alat deteksi virus corona atau Covid-19 buatan Universitas Gadjah Mada (UGM), di sejumlah stasiun kereta api di Indonesia mulai 5 Februari 2021.
Menguak Warisan Multiras yang Tak Terbantahkan (3)

Senin, 07-December-2020 20:10

Ilustrasi keroncong tempo dulu
Foto : Istimewa
Ilustrasi keroncong tempo dulu
18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Mengutip catatan Ririn Darini dalam “Keroncong: Dulu dan Kini”, Journal.uny,ac.id, disebutkan perkembangan musik keroncong pada abad ke-20 khsususnya di Jawa Tengah, dipengaruhi oleh musik sistem pentatonic yang khas Jawa seperti gamelan slendro dan pelog, serta dipengaruhi pula oleh sistem barat yang bersifat diatonic.

Sementara cara menyanyikan berciri khas dengan cengkok nggandul, greget dan embat yang mengesankan nyanyian (tembang) dengan iringan khas slendro/pelog bergaya Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Bali.

Ciri khas gaya keroncong juga dipengaruhi oleh permainan gendang dalam gamelan, kotekan, gedugan dari musik para petani ketika mengetam padi, atau permainan kotekan peronda malam di desa dengan tong-tong yang dibuat dari seruas bambu.

Baca Juga :


Meski pada mulanya menggunakan alat musik ukulele namun dalam perkembangannya alat musik ini tidak harus ada.

Dilihat periode perkembangannya, musik keroncong boleh dikatakan berjaya baik di era Kolonial Belanda abad ke-20 dan terus berlanjut di masa pendudukan Jepang dan era kemerdekaan.

Meski demikian, pergolakan politik di Indonesia juga memberikan pengaruh besar terhadap metamorfosa musik keroncong dari masa ke masa.

Di Batavia sendiri, awal abad ke-20 hingga pendudukan Jepang tahun 1942, musik keroncong mengalami perkembangan yang dinamis. Selain di Batavia, keroncong juga diminati di berbagai kota besar lainnya seperti Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Solo.

Namun, di masa ini, keroncong justru cenderung mendapat “cap Barat” yang seolah hanya disuguhkan bagi orang-orang Belanda dan Indo yang cenderung eksklusif.

Tak jarang pentas keroncong bersanding dengan kebiasaan minum-minuman keras, dansa-dansi, dengan pesta-pesta bergaya kebarat-baratan. Akibatnya, ketika Kolonial Belanda tumbang, citra tersebut kemudian berusaha  dihapus oleh Pemerintah Jepang.

Di era pemerintahan Jepang, di satu sisi membuat pentas musik keroncong tak bisa lagi leluasa namun di sisi lain, justru “diperkuat”. Dalam rangka melawan budaya Barat, Jepang menggunakannya sebagai alat kepentingannya.

Mulanya Jepang ingin melakukan penetrasi budaya Jepang di Nusantara dan menghapus semua unsur Barat.

Mereka memperkenalkan tari tarian (odori), lagu, dan bahasa  Jepang. Namun dalam upaya mengikis habis budaya Barat, Jepang kemudian memberikan apresiasi terhadap keroncong.

Oleh penganut aliran kebudayaan Jepang, musik keroncong kemudian diubah menjadi corak yang  berbeda  dengan sebelumnya. Sejumlah alat musik pun diganti antara lain mandolin diganti  guitar dan tamburin hilang.

Irama yang sebelumnya lebih cepat diganti dengan irama lamban. Unsur dansa-dansi yang mengagungkan kecantikan perempuan digeser dengan semangat ketimuran dan cinta tanah air.

Hal ini secara jelas terlihat dalam kata seperti bakti, setia, makmur, maju, indah, mengagungkan keindahan alam, dan lain-lain. Semua ini bisa dilihat dalam lagu “Bengawan Solo” karya Gesang yang mengalami kejayaan di masa ini.

Di era ini pula, musik keroncong dipadu dengan alat musik tradisional gamelan. Maka, corak keroncong pun menjadi identik dengan musik gamelan dimana bass identik dengan gong, cello dengan gendang, gitar dan biola atau seruling dengan gambang serta rebab. Irama keroncong menjadi tenang dan lembut seperti halnya lagu-lagu dari Jawa Tengah.

Musik keroncong lamban inilah yang kemudian dinamakan dengan  langgam  atau keroncong  Jawa. Selain “Bengawan Solo”, contoh lainnya yang berkembang di masa ini antara lain “Telaga  Sarangan” karya  Ismanto, “Yen  ing Tawang”  karya Andjar Anny.

Pasca proklamasi, meskis diliputi situasi tak menentu, lahir pula beberapa lagu keroncong bertemakan perjuangan. Beberapa lagunya antara lain “Jembatan Merah”, “Rangkaian Melati”, “Selendang Sutera”, dan “Pahlawan Merdeka”.

Periode berikutnya di era 1960-an, situasi perang dingin antara Barat dan Timur di mana politik Pemerintah Soekarno cenderung kekirian, patut diduga juga mempengaruhi perkembangan musik keroncong.

Perseteruan kelompok kebudayaan antara kaum kanan dan kaum kiri dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) diduga ikut mengintervensi kelompok keroncong. Di masa ini, mungkin akan menarik bila dikaji lebih mendalam.

Diperkirakan, pasca meletusnya G30S, para pegiat musik keroncong di berbagai kota yang diduga berafiliasi dengan PKI atau organisasi afiliasinya mengalami pembungkaman dan tindak represif.

Hal ini seperti tersirat dalam pernyataan Ketua Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (Hamkri) Cabang Pati, Soegiharto.

Dalam sambutannya saat dilantik sebagai Ketua Hamkri dilantik di Pendopo Kabupaten Pati, Jawa Tengah seperti dinukil Mitrapost.com, Rabu (14/10/2020), ia mengatakan “Lagu-lagu keroncong pernah jaya di Kabupaten Pati pada tahun 60-an namun setelah 70 lagu keroncong ini meredup hingga saat ini,” ungkap Soegiharto.

Dalam kesempatan tersebut, Soegiharto ingin menbuat keroncong kembali berjaya seperti tahun 1960-an. Pertanyaannya, bagaimana dan mengapa keroncong sempat berjaya di Pati tahun 1960 tetapi 10 tahun kemudian meredup? Akibat gonjang-ganjing politik tahun 1965?

Memasuki tahun 1970-an, di satu sisi musik keroncong dikemas secara modern dengan menggunakan teknologi perekaman pita kaset dan disiarkan di radio. Grup keroncong modern di masa ini antara lain Koes Plus juga Favorite Group dan C’Blues.

Muncul pula bintang iklan yang mengorbit di era Orde Baru seperti Waldjinah, Titiek Puspa, Toto Salmon, Mus Mulyadi, Mamiek Slamet, Soendari Soekotjo, dan Koes Hendratmo.

Pemerintah Orde Baru menggunakan musik keroncong untuk propaganda kebijakan-kebijakan politik, misalnya dengan dibentuknya Artis Safari yang di dalamnya melibatkan artis keroncong yang akan siap mendukung kampanye menjelang pemilu.

Lagu-lagu yang dinyanyikan di era ini antara lain antara lain Keroncong Bahana Pancasila, Keroncong Tanah Airku, Keroncong Pembangunan, atau Keroncong Repelita.

Kemajuan teknologi perekaman disusul dengan produksi kaset pita yang dijual secara massal selain memberikan dampak positif juga berdampak buruk. Keroncong sebagai seni pertunjukkan melalui sistem tiket mengalami gulung tikar.

Banyak kelompok musik keroncong di masa selanjutnya pentas dalam skala kecil seperti undangan acara dinas pemerintah setempat, acara seremonial, hingga mengisi acara hajatan dengan berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain tanpa penghasilan yang berlimpah.

Di antara, pergerakan mereka akhirnya lebih banyak  ditopang oleh semangat melestarikan budaya ketimbang untuk motif komersil.

 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat