Netral English Netral Mandarin
10:48 wib
Sejumlah ahli mengkritik penerapan alat deteksi Covid-19 GeNose karena masih tahap ekperimental. Belum bisa dipakai dalam pelayanan publik khususnya screening Covid-19. Polri menegaskan akan menindaklanjuti kasus rasisme yang dialami mantan komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai. Diketahui, Pigai menjadi korban rasis yang dilakukan Ambroncius Nababan.
Menguak Warisan Multiras yang Tak Terbantahkan (4)

Rabu, 09-December-2020 09:17

Ilustrasi grup Gambang Kromong
Foto : Komunitas Baca Tangerang
Ilustrasi grup Gambang Kromong
18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dibutuhkan studi mendalam bila ingin mengungkap secara menyeluruh tentang tokoh-tokoh penting dalam perjalanan sejarah keroncong di Nusantara.

Namun setidaknya, beberapa nama dan kelompok yang disebut di sini bisa menunjukkan sekilas tentang mereka yang disebut maestro keroncong hingga mereka yang akhirnya terserak, tinggal cerita lisan, dan jarang dikenal.  Selain itu, catatan ini bisa memberikan sedikit gambaran musik keroncong dalam gerak keberagaman.

Dalam buku Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (2010), Windoro Adi  mengungkapkan bahwa pada akhir abak ke-19, pernah ada sekumpulan pengamen remaja Indo-Belanda yang sering pentas keliling kampong bernama De Wandelende Kerontjong. Penampilan mereka mengundang kekaguman para gadis di zaman itu.

Baca Juga :


Windoro juga menulis bahwa dari Kampung Tugu, keroncong berkembang ke Kemayoran tahun 1918-1919 di antara orang-orang Indo-Belanda. “Musisi keroncong kemayoran yang populer saat itu antara lain Atingan, J. Dumas, Jan Schneider, Kramer, M Sagi, Any Landow, dan Ismail Marzuki,” tulis Windoro Adi.

Tokoh berikutnya yang mengundang decak kagum di awal abad ke-20 adalah Roekiah. Wanita kelahiran Bandung, Jawa Barat, Hindia Belanda, pada tahun 1917, ini merupakan putri dari pasangan Muhammad Ali dan Ningsih.

Ia merintis karirnya dengan menjadi pemain sandiwara. Tahun 1932, saat bergabung dengan Palestina Opera di Batavia, Roekiah berhasil menjadi seorang aktris sandiwara dan penyanyi keroncong terkenal. Ia dikagumi tidak hanya karena suaranya, tetapi juga karena kecantikannya.

Dengan bekal tersebut, Roekiah melangkah ke dunia film. Di masa puncak kariernya, perilaku dan gaya berbusana Roekiah bahkan ditiru oleh para penggemarnya.

Tahun 1920-an, musik keroncong sudah popular di Surakarta, terutama di kalangan menengah Belanda dan kaum indo. Salah satu buktinya adalah munculnya ayah angkat dari biduanita Miss Anie Landouw yang bernama Antom Ferdinand Ronald Landouw yang merupakan penggemar berat musik keroncong.

Kemudian pada tahun 1926-1927 muncullah nama nama baru seperti: Miss Annie Landouw, Miss Monah serta pemusik antara lain: Sapari, S. Prono pimpinan OK Sinar Muda dan Sukanto Jayadi, dan lain-lain.

Sebelum era kemerdekaan, penting pula untuk tidak melalaikan tentang “Indonesia Raya” versi keroncong yang digubah WR Soepratman. Seperti kita ketahui, “Indonesia  Raya” diperdengarkan pertama kali dalam sidang Konggres Pemuda II, 28 Oktober 1928.

Namun, WR Soepratman juga merekam lagu tersebut di perusahaan rekaman milik sahabat karibnya, Yo Kiem Tjan, NV. Populair pada tahun 1927.

Selian versi iringan biola, direkam pula “Indonesia Raya” genre keroncong. Versi keroncong kemudian sempat dikirim ke Inggris untuk diperbanyak. Namun, Pemerintah Belanda sempat melakukan tindakan represif.

WR Soepratman diciduk dan karya-karnyanya disita karena dianggap mengancam rust en orde. Piringan hitam hasil rekaman disita. Beruntung salah satu piringan hitam versi keroncong berhasil diselamatkan dan hingga kini tersimpan di Museum Sumpah Pemuda.

Beberapa tokoh penting selanjutnya berurut-turut adalah Tan Tjeng Bok, Kusbini, Gesang, dan generasi setelah mereka ada Mus Mulyadi, Mantous dan lainnya. Dari tokoh tersebut, Tan Tjeng Bok boleh dianggap memiliki keunikan tersendiri.  

Ayah Tan merupakan  seorang Tionghoa ahli pencak silat. Ia kawin dengan perempuan Betawi dari Jembatan Lima. Dalam bukunya Peranakan Idealis (2002), Yunus Yahya mengisahkan bahwa Tan Tjeng Bok hanya sempat lulus sampai kelas tiga Hollandsch Chineesche School (HCS) Braga.

Setelah itu, ia menceburkan diri di dunia panggung. Ayahnya yang kecewa lalu mengusir Tan. Namun, Tan tak mengurungkan keputusannya.

Pada 1917, usia Tan belum genap 20 tahum namun sudah mahir menyanyikan lagu-lagu keroncong. Suaranya yang khas berhasil mengundang banyak penggemar yang biasa menyebutnya “Item”. Maka lahirlah sejumlah rekaman lagu keroncong antara lain "Stambul", "Keroncong Kemayoran", "Moritsko Merayap".

Usai sukses di bidang musik keroncong, Tan menceburkan diri di dunia sandiwara kemudian film. Dalam suatu kesempatan, Tan bertemu Soekarno.

Pertemuan itu sempat diabadikan dimana Soekarno terlihat  gembira saat bertemu Tan sambil menunjuk dada kiri Tan. Ia lantas sering diundang Soekarno untuk menyanyikan lagu keroncong.

Tokoh legendaris selanjutnya adalah Kusbini. Sosok terkenal pengarang lagu “Bagimu Negeri” ini juga pernah mengaransemen lagu “Nina Bobo”, “Cinta Tanah Air”, “Merdeka”, “Pembangunan”, “Salam Merdeka”, “Keroncong Purbakala”, “Pamulatsih”, “Keroncong Sarinande”, “Keroncong Moresko” dan lain-lain.

Di era tahun 1920an, juga ada tokoh keroncong terkenal bernama Abraham Titeley alias Bram Aceh. Pria berdarah Ambon ini sempat tinggal di Aceh tatkala ayahnya masih menjadi anggota tim musik militer untuk pasukan KNIL di Aceh.

Ternyata ia mewarisi bakat musik seperti ayahnya. Karena sempat tinggal di Aceh itu pula panggilnya kemudian menjadi Bram Aceh.

Tahun 1934, Bram membuat rekaman. Beberapa lagunya antara lain “Selamat Tinggal Kota Betawi” dan “Sapa Suruh Datang Jakarta.” Di tahun 1955, Bram sempat memenangkan kontes keroncong Jakarta Raya.

Di masa selanjutnya, cucu-cucunya meneruskan keahliannya, mereka antara lain: Harvey Malaiholo, Irma June, dan Glenn Fredly.

Tokoh penting berikutnya tentu saja Gesang Martohartono yang terkenal berkat lagunya “Bengawan Solo” tahun 1940. Lagu ini bahkan dikenang dan dikagumi oleh orang-orang Jepang, hingga kini.

Dalam film mandarin berjudul The Sun Also Rise (2007) dan film karya sutradara legendaris Jepang, Akira Kurosawa, Nora Inu (1949), lagu “Bengawan Solo” ikut mengalun meski berbeda dengan corak aslinya. 

Lagu ini juga dinyatakan termasuk dalam 150 Lagu Terbaik Indonesia Versi Majalah Rolling Stone 2009.

Meski banyak maestro keroncong yang harum dan terkenal namanya, jangan lupa pula ada banyak kisah yang tak kalah menariknya tentang kehidupan pemain musik dan penyanyi keroncong yang jarang diungkap dan tertulis dan buku sejarah namun penuh dedikasi menghidupi dan menjaga keroncong agar tetap lestari. 

Dalam konteks mengungkap mereka yang “terserak” mungkin menarik pula bila berhasil menyingkap tentang apa yang terjadi dengan tokoh musik keroncong di era 1960. Bila berhasil diulas, kisah mereka sebenarnya bisa memperkaya tentang sisi-sisi lain dari sejarah keroncong di Nusantara.

Keroncong dan Gambang Kromong

Bisa dikatakan bahwa keroncong dan gambang kromong memiliki asal usul yang berbeda. Di abad ke-20, keroncong mencitrakan “musik kota” dengan penggemar kaum Belanda menengah ke bawah dan kaum Indo sementara gambang kromong adalah menjadi musik tradisional Betawi.  Namun, keduanya di kemudian hari sama-sama memiliki “pertemuan budaya”.

Salah satunya, banyak pegiatnya adalah warga beretnis Tiongoa (terutama Peranakan).  Selain itu, lagu-lagu Gambang Kromong sering diaransemen dalam corak keroncong, begitu juga sebaliknya.

Mengenai asal usulnya, orkes gambang kromong terbentuk atas prakarsa Nie Hoe Kong, seorang pemimpin komunitas Tionghoa yang diangkat Belanda (kapitan Cina) dengan masa jabatan 1736-1740.

Gambang kromong sebenarnya adalah orkes perpaduan antara gamelan, musik Barat, China (seperti sukong, tehyan, dan kongahyan) dengan nada dasar pentatonis bercorak Cina yang sering disebut salendro Cina atau salendro mandalungan.

Orkes ini lahir dan erat dengan keberadaan masyarakat Tionghoa di Batavia (China-Betawi). Gambang kromong dan keroncong sama-sama popular di Batavia sekitar tahun 1920-1930.

Mengenai instrumen gambang kromong terdiri dari: gambang kayu, seperangkat bonang lima nada yang disebut kromong, dua buah alat gesek seperti rebab, dengan resonator terbuat dari tempurung kelapa mini disebut ohyan dan gihyan, suling laras diatonik yang ditiup melintang, kenong dan gendang. Sedangkan instrumen musik dari Barat meliputi terompet, gitar, biola, dan saksofon.

Sekitar 1937, gambang kromong mengalami kejayaan. Pada masa ini hampir setiap daerah di Batavia memiliki kelompok orkes gambang kromong, di antaranya di Jatinegara, Karawang, Bekasi, Cibinong, Bogor, Sukabumi, Tangerang, dan Serang. Salah satu yang terkenal adalah Gambang Kromong Ngo Hong Lao. Kelompok ini, para pemainnya semua beretnis Tionghoa.

Di masa ini, orkes-orkes Gambang Kromong seringkali tidak mempunyai biduanita yang dapat menyanyikan lagu dalam bahasa Cina. Maka, biasanya hanya dimainkan instrumentalnya saja.

Sementara isi lagu berbahasa Indonesia biasaya memuja bunga serta tokoh, misalnya “Pecah-Piring”, “Duri Rembang”, “Temenggung Menulis”, “Co Nio Rindu”, “Tion Kong In”, “Engko si Baba”, serta kisah tentang “Pitung Rampok Betawi”, “Angkri Digantung di Betawi”.

Keroncong dan Keberagaman

Selain sebagai warisan multi ras seperti telah diungkap di awal, menelusuri keroncong juga menghantarkan kita tentang warna-warni kehidupan. Hal ini bisa ditengok dari cerita kehidupan masyarakat Kampung Tugu di masa kini.

Menyitir reportase Chandra Iswinarno dan Novian Ardiansyah dalam “Merawat Kerukunan Umat Beragama Kampung Tugu Lewat Musik Keroncong” yang dilansir Suara.com (24 Desember 2019), ada cerita unik untuk kita simak bersama.

Di Kampung Tugu kini, tradisi bermain musik keroncong tetap lestari. Tak hanya untuk seni pertunjukkan namun juga mengisi bidang keagamaan. Bukan kebetulan bila tak sedikit warga di Kampung ini bergama Kristiani.

Maka, menjelang Hari Natal tak heran bila musik keroncong juga mengalun di dalam gedung Gereja yang juga menjadi saksi sejarah di wilayah tersebut.  Salah satunya adalah sebuah Gereja berasitektur peninggalan Portugis yang diresmikan tahun 1748.

Bangunan itu masih kokoh menjadi cagar budaya hingga kini. Gedung itu bernama Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Tugu, atau kerap disebut dengan Gereja Tugu.

Konon, menurut penuturan tokoh gereja tersebut, di bangunan itu mulai dari mimbar, cawan perjamuan, hingga kursi yang berada di kiri dan kanan bagian depan ruangan, kondisinya masih sama sejak gereja tersebut ada. Begitu pula dengan kayu-kayu yang menjadi atap dan jendela gereja, semuanya masih asli.

Selain soal gedung, yang menarik berikutnya adalah musik keroncong yang kerap mengiringi ibadah rutin umat Kristiani maupun saat hari raya besar seperti Natal di Gereja Tugu.

Namun, pemain keroncong ternyata tidak semua beragama Kristen. Ada juga yang beragama Islam. Inilah salah satu bukti dan wujud toleransi yang tetap dirawat di masyarakat Kampung Tugu.

"Tadi mengenai keroncong, personel keroncong itu juga bukan semuanya orang Kristen ada Cafrinho (kelompok keroncong tugu) itu banyak orang muslim Betawi-Betawi aslinya banyak.

Tetapi, ketika mengiringi lagu-lagu rohani untuk ibadah, mereka mengiringi tanpa memandang agama apa segala macam itu gak ada, jstru itu salah satu toleransi kerukunan antarumat beragama," jelas Alfons salah satu tokoh Gereja Tugu.

Menurut Alfons, wajah toleransi tidak hanya tercermin dalam memainkan alat musik, gereja, dan lintas agama, tatapi juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Umat Kristiani dan Muslim sejak dulu di Kampung Tugu hidup berdampingan dan saling membantu satu sama lain. Kerukunan itu, kata dia, bisa ada lantaran telah dipupuk oleh para nenek moyang mereka sejak lama.

Alfons bercerita, pada masa kolonial terdahulu, persaudaraan antarumat beragama di Kampung Tugu sudah terjalin. Mereka saling melindungi satu sama lainnya dari pihak lain yang mencoba mengintervensi atau menyerang Kampung Tugu.

"Dulu ketika ada pemberontakan-pemberontakan untuk menghancurkan gereja ini, yang jaga, yang maju di depan di barisan terdepan itu jawara-jawara orang Betawi yang notabenenya muslim.

Saat pemberontakan Cina terus pemberontak yang ada di Cilincing yang ingin menghancurkan, ya yang terdepan yang menjaga orang Betawi dan keturunannya masih ada sampai sekarang," tutur Alfons.

Ia mengungkapkan, banyak dari anggota kelompok keroncong Tugu yang beragama Islam, namun tetap tidak masalah ketika ikut mengiringi musik untuk ibadah umat kristiani di Gereja Tugu.

"Iya kita di musik kita enggak bicara agama gitu kan mau apapun juga lagunya kita ini hanya pemain musik bukannya kita orang fanatik gitu, enggak. Kita orang seniman gini enggak bisa dianggap kita ini mentang-mentang kita Kristen enggak mau iringin lagu lebaran," ujarnya.

Alfons menambahkan, kerukunan di Kampung Tugu tetap terjaga hingga kini karena para orang tua mereka terdahulu yang melestarikan, mengajarkan, dan menanamkannya kepada anak cucu sebagai generai penerus.

Kisah menarik lainnya tentang suara keberagaman dan toleransi bergema dalam kelompok musik keroncong bernama “Irama Jakarta.” Kelompok ini berdiri sejak tahun 1997 di bawah pimpinan Harun Rusli.  Sanggarnya berlokasi di daerah Palmerah, Slipi, Jakarta Barat.

Anggota inti orkes keroncong ini antara lain Permana (biola), Kelik Sobiran/Dono (fluet), Tan Kim Sian (cello), Nicolas Ola/Eko (bas), Rusmadi (kroncong, ukulele), Harun Rusli (tenor), Memet (melody gitar), Agustina dan Yuni (penyanyi).

Yang menarik, mayoritas kelompok ini adalah warga Peranakan dan hingga kini setia dengan pentas dari acara satu ke acara lain mulai dari acara dinas pemerintahan hingga manggung dari kampung ke kampung untuk menghibur pesta hajatan keluarga.

Meski penghasilan tak menentu, mereka tetap menghidupi musik keroncong dengan kegembiraan.

Bahkan, saat pandemic melanda dunia, mereka menggalang bantuan sembako kemudian membagikan bantuan seperti beras kepada warga sekitar yang membutuhkan.

Harun Rusli yang biasa disapa dengan sebutan Kong Harun mengatakan bahwa ia ingin membangun “persaudaraan tanpa batas.”

 

Catatan: Dirangkum dari berbagai sumber

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat