Netral English Netral Mandarin
02:27wib
Pemerintah Indonesia kritik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang luput menyoroti kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di negara-negara maju. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin pada Sabtu (25/9/2021) dini hari.
Mengungkap Jejak Sejarah Paparan Sahul dan Paparan Sunda

Sabtu, 24-Juli-2021 13:00

Motif gambar cadas purbakala di Pulau Kaimer, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku yang ditemukan oleh Arkeolog Wuri Handoko dari Balai Arkeologi Maluku pada 2018
Foto : Antara Foto
Motif gambar cadas purbakala di Pulau Kaimer, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku yang ditemukan oleh Arkeolog Wuri Handoko dari Balai Arkeologi Maluku pada 2018
47

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Arkeolog menyatakan Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku dinilai memiliki posisi penting dan strategis dalam keragaman okupasi manusia prasejarah, karena menghubungkan Wallacea Sahul  dan paparan Sunda.

"Informasi tentang arkeologi prasejarah Kei belum maksimal, sehingga perlu untuk dikaji lebih mendalam. Ekskavasi perlu dilakukan untuk mengetahui keberagaman okupasi manusia di sana," kata Arkeolog dari Balai Arkeologi Maluku Lucas Wattimena di Ambon, Jumat (27/2021).

Menurut dia, Kepulauan Kei menarik untuk diteliti lebih lanjut terkait masa prasejarah di kawasan Wallacea. Posisinya strategis karena menghubungkan Wallacea Sahul dan Sunda sebagai bagian dari geografis Asia Tenggara. Kondisi itu menjadi pondasi dasar dalam merekonstruksi kebudayaan di sana.

Banyak peneliti dan arkeolog, tidak hanya dari Indonesia yang tertarik meneliti terkait manusia dan tradisi masa prasejarah di Kepulauan Kei, tapi belum semua informasi dan cakupan wilayah dibahas dari aspek-aspek budaya bendawi.

Balai Arkeologi Maluku pertama kali melakukan penelitian survei potensi arkeologis di wilayah Kepulauan Kei, pada 2007. Saat itu tim survei yang dipimpin Arkeolog Marlon Ririmasse menemukan beberapa tinggalan berciri masa megalitikum (zaman batu besar).

Sembilan tahun setelahnya, penelitian di Kepulauan Kei dilanjutkan dengan mengangkat tema kemaritiman oleh Arkeolog Lucas Wattimena, dan Arkeolog Wuri Handoko dengan isu terkait jejak islamisasi pada 2018.

Hingga 2019, sedikitnya ada empat kali penelitian dengan isu yang berbeda-beda oleh Balai Arkeologi Maluku di wilayah tersebut. Pada penelitian terakhir pada Maret 2019 arkeolog menemukan ratusan gambar cadas purbakala.

"Penelitian tentang gambar cadas di Kepulauan Maluku belum memberikan kejelasan tentang bagaimana hubungan gambar tersebut dengan manusia pendukungnya, baik dari sisi pengetahuan, teknologi maupun kosmologi masyarakat," ujar Lucas.

Dikatakannya lagi, jika dilihat dari potensi arkeologis di Kepulauan Kei, baik dari sisi tinggalan budaya dan jejak sejarah, perlu ditinjau lebih mendalam dalam, terutama rekam budaya dan tradisi manusia prasejarah, dan pengaruhnya hingga masa kini.

Selain itu, penanggalan terhadap gambar-gambar cadas juga perlu dilakukan untuk mengetahui kronologi pasti masa okupasi manusia di masa lalu, dan hubungannya dengan peradaban saat ini.

"Secara geografis wilayah tersebut menghubungkan pulau-pulau di Seram Timur, berhadapan dengan Laut Banda, dan Papua Barat bagian Selatan, bisa jadi semua ada kaitannya," tandas Lucas dinukil Antara.

Jejak di NTT

Secara terpisah diulas, berdasar hasil ekspedisi peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia diketahui, flora Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur tidak bisa digolongkan sebagai bagian dari Paparan Sunda atau Sahul saja, tetapi pertemuan keduanya. Meski vegetasi khas Paparan Sunda mendominasi, sejumlah flora dari Paparan Sahul masih ditemukan.

"Flora di Sumba itu semacam pertemuan barat dan timur," kata Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI Ary P Keim di Bogor, beberapa waktu silam seperti dinukil nationalgeographic.id. 

Ekspedisi Widya Nusantara 2016 LIPI, 15 April-1 Mei, ada di Pulau Sumba dan Gunung Gandang Dewata di Sulawesi.

Ary mengatakan, penggolongan Sumba selama ini kontroversial. Mayoritas peneliti cenderung menyebut Pulau Sumba bagian Paparan Sunda karena jenis floranya, sedangkan sebagian menyebut bagian Paparan Sahul berdasarkan jenis fauna di sana. 

Padahal, Sumba sebenarnya pulau samudra tua dan fragmen terpisah jauh sebelum terbentuknya Paparan Sunda dan Sahul, tetapi flora di atasnya memang dapat pengaruh kedua paparan.

Pulau Sumba, lanjut Ary, sudah terpisah jadi pulau sendiri sekitar akhir zaman Cretaceous di masa Kenozoikum, sebelum pecahnya Pangaea jadi Laurasia dan Gondwana. 

Teorinya, Pangaea adalah kumpulan daratan dari benua yang ada saat ini dan terpecah mulai 200 juta tahun lalu. Laurasia terdiri dari Amerika Utara dan Eurasia (Eropa dan Asia), sedangkan Gondwana terdiri dari Amerika Selatan, Afrika, India, Australia, dan Antartika.

Artinya, Sumba jauh lebih tua ketimbang Paparan Sunda dan Sahul. Paparan Sunda merujuk pada perpanjangan lempeng Benua Eurasia di Asia Tenggara, antara lain daratan Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Madura, Bali, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. 

Paparan Sahul, bagian dari landas kontinen Benua Sahul (Australia-Papua), membentang dari utara Australia meliputi Laut Timor menyambung ke timur di Laut Arafura hingga Pulau Papua.

Sepanjang sejarah geologinya, kata Ary, Sumba ada di bawah laut dan muncul ke permukaan sekitar zaman Eosen atau Miosen. Saat itu, kemungkinan vegetasi dari Paparan Sahul masuk ke Sumba lebih dulu, disusul dari Paparan Sunda, terutama saat Sumba bersatu dengan Sulawesi, 40.000-50.000 tahun silam.

"Invasi vegetasi Sundaland mengalahkan vegetasi Sahulland," tutur Ary. Namun, meski pengaruh elemen-elemen dari Paparan Sunda kuat terhadap flora di Sumba, flora khas Paparan Sahul masih bertahan di bagian dataran tinggi, seperti di Wanggameti. 

Contohnya, satu jenis pandan dari marga Pandanus dan masuk seksi Maysops yang banyak di Paparan Sahul, tetapi tidak ada di Paparan Sunda.

Namun, keberadaan Podocarpus dan Cycas di Sumba memunculkan dugaan lain bahwa dulu tak seluruh Sumba terendam laut. Itu lantaran kedua jenis tumbuhan itu dapat juga dianggap bukti flora tua dari masa daratan-daratan di muka bumi masih menyatu dalam Pangaea.

Sementara itu, tim LIPI di Sulawesi mengeksplorasi keanekaragaman hayati dan potensi pemanfaatannya di Gunung Gandangdewata, Mamasa, Sulawesi Barat. Tim meyakini endemisitas (kekhasan) tumbuhan dan satwa di sana tinggi. Gunung itu termasuk pusat Sulawesi. 

"Banyak kemungkinan jenis baru satwa dan tumbuhan liar," ujar Anang Setiawan Achmadi, Koordinator Lapangan Sulawesi Barat Eksplorasi Bioresources LIPI.

Dari sisi satwa, ada dua jenis baru tikus dengan nama lokal lewa lewa dan kambola. Dari tujuh jenis katak endemik Sulawesi, dua di antaranya mungkin jenis baru dan satu dari tiga jenis kadal diduga jenis baru. 

Reporter :
Editor : Taat Ujianto