Netral English Netral Mandarin
05:39 wib
Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno-Hatta akan menerapkan sistem baru agar tak ada lagi surat hasil tes Covid-19 palsu. Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaporkan bahwa keterisian tempat tidur Intensive Care Unit (ICU) pasien Covid-19 di 101 rumah sakit rujukan telah mencapai 85 persen.
Menjadi Kaya Itu Mulia, Bisa Juga Menjadi Kutukan

Selasa, 08-December-2020 17:55

Birgaldo Sinaga
Foto : Istimewa
Birgaldo Sinaga
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menjadi kaya itu mulia.  Mengapa?  

Seorang teman menangis sesunggukkan. Ia menangis  saat menerima ratusan orang yang melayat mengucapkan belasung kawa.  Saat itu,  di depan peti mati jenazah ayah yang sangat dikasihinya,  ratusan orang yang sudah sukses dan berhasil itu memberikan penghormatan terakhir buat ayahandanya.

"Kami semua adalah anak-anak bapak.  Kami sangat kehilangan bapak yang begitu mengasihi dan menyanyangi kami.  Tanpa kebaikan dan kemurahan hati bapak, tidak mungkin kami bisa  hidup seperti sekarang ini. Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya ibu.  Kami turut menangisi dan meratapi kepergian bapak," lirih ketua kelas ratusan orang itu.



Siapa ratusan orang yang menangisi ayah teman itu?

Selama dua dekade ayah teman saya itu menjadi bapak asuh bagi anak-anak miskin berotak cemerlang.  Ayahnya memberi donasi secara teratur setiap bulan.

Sejak dua puluh tahun lampau saat Ia merintis usahanya,  Ia selalu rutin memberi.  Ia bekerja keras.  Dari usaha kecil  hingga berkembang maju.  Dari memberi sumbangan senilai ratusan ribu  dua puluh tahun lampau hingga ratusan juta diakhir hidupnya.

Tiga tahun lalu ayahnya sakit.  Dalam kesakitannya ayahnya terus bekerja. Seiring waktu fisiknya semakin melemah.  Sakitnya semakin berat dan tidak bisa disembuhkan.  Ia menghembuskan nafas di tengah ribuan anak-anak yang kini bertebaran sukses di penjuru dunia.  

Seorang Ibu pelayat sambil merangkul pundak anaknya bicara.  Suatu waktu si ibu pusing dan bingung sekali.  Ia tidak tega melihat anaknya yang menjerit kesakitan.  

Anak laki-lakinya meraung-raung karena sakit yang diidapnya belum juga dioperasi.  Ia tidak memiliki uang.  Satu-satunya harapan hanya kepada pemerintah.  

Sayangnya birokrasi rumah sakit dan pelayanan pemerintah masa dulu menyulitkan orang miskin untuk mendapatkan perawatan.  

Sang ibu hanya bisa pasrah menangis sambil membelai kening anaknya.  Si anak hanya bisa meringis menjerit menahan deritanya.  

Di tengah putus asa itu,  terdengarlah berita itu ditelinga ayahnya.  Tanpa buang waktu sang ayah meminta agar segera dioperasi.   

Soal biaya tidak perlu khawatir. Biaya operasi ratusan juta  diberikan saat itu juga.  Operasi berjalan sukses.  Si anak selamat.  Kini anak itu sudah besar dan kuliah di perguruan tinggi ternama.  

Sambil memeluk anaknya, si ibu mencucurkan air mata di depan peti jenazah ayah teman saya itu.  

Ia berkata lirih mengucapkan rasa terimakasihnya.  "Terimakasih bapak.. Engkau telah menjadi malaikat bagi kami. Terima kasih telah menolong anak saya menggapai mimpinya", ucapnya pelan lirih sambil mengusap air matanya yang terus mengalir alr.

Air mata teman saya  menetes. Ia terharu.  Ia tidak menyangka ayahnya seperti itu.  Ia tidak tahu sama sekali.  Ayahnya tidak pernah bercerita tentang pemberian donasi pada anak-anak miskin itu.  

Ayahnya tidak pernah memberitahu pemberian uang ratusan juta  pada ibu malang itu.  Ia terkejut sekaligus bangga haru. Ayahnya meninggalkan dunia namun menghidupi  kehidupan bagi anak-anak yang kurang beruntung.

Di akhir hayat ayahnya, Ia mendengar cerita tentang kebaikan dan  kemurahan hati ayahnya dari ratusan anak-anak yang diasuhnya.  Dari ibu yang ditolong biaya operasi anaknya.  

Kematiannya  mewariskan anak-anak yang kini hidup bermartabat.  Ada yang menjadi dokter,  pejabat,  pengusaha,  polisi,  tentara. Mereka semua adalah anak-anak ayahnya yang Ia sendiri tidak ketahui jika tidak diceritakan mereka.  Tidak seorang pun tahu hal itu.

Sayangnya banyak orang keliru memandang kekayaan.  Kekayaan dipandang sebagai tujuan akhir.  Kaya raya adalah bukti kehebatan diri.  Berlimpah uang dan harta adalah bukti kemegahan diri.  

Memiliki kekayaan berlimpah menjadi gengsi dan nama menjulang. Akibatnya sering orang menghalalkan segala cara untuk bisa kaya raya.

Kaya raya meski menipu, korupsi, mencuri dan merampok yang bukan miliknya jadi hal lumrah.  Padahal menjadi kaya raya dengan cara jahat  tidak menjadi berkat namun menjadi kutuk bagi dirinya dan keluarganya.

Juliari Batubara, Mensos yang diciduk KPK karena menerima suap bansos Pandemi Covid-19 contoh orang yang sudah kaya tapi selalu kekurangan. Ia gak pernah puas. Ia tamak. Rakus.

Ari sejak bayi sudah makan pakai sendok perak. Ia hidup berkecukupan. Ia mendapat keistimewaan menikmati kekayaan dari ayahnya. Ia lulusan luar negeri. Kekayaannya tercatat 64 M di LKPHN. Ia pengusaha tajir melipir. Ia menjabat posisi wabendum di partai penguasa.

Setahun lalu, Ari diangkat Presiden Jokowi menjadi Mensos. Awalnya, Ari tampak cemerlang. Beberapa penghargaan sebagai menteri yang cemerlang disandangnya.

Dari Majalah Gatra dapat penghargaan.  Ia wara wiri meyakinkan publik bahaya korupsi. Ia begitu intens memastikan kementeriannya bersih dan transparan.

Minggu pagi kemarin, kita rakyat Indonesia terkejut setengah mati. Juliari diberitakan sedang diburon KPK. Uang suap milyaran dalam koper untuk Ari ditangkap tangan KPK.

Uang 17 milyar itu bagian dari fee 10ribu rupiah dari setiap paket sembako yang dibagikan Kemensos ke rakyat. Kita tak habis pikir. Kok bisa tega orang super kaya ini mau memotong uang buat dana bansos itu.

Pada akhirnya,  orang baik akan dimuliakan hidupnya. Seperti ayah teman saya itu.   Orang tamak penipu akan menyesali hidupnya.  
Menjadi kaya itu mulia.  Menjadi kaya itu tidak berdosa. Menjadi kaya dan bermanfaat bagi kemanusiaan itu baik.

Namun menjadi kaya dengan cara culas dan busuk itu seperti tikus got yang tamak rakus yang melahap apa saja meskipun perutnya sudah buncit.

Seperti kata filsuf Erich Fromm... orang begini punya sifat to have more and to usule more.., memiliki lebih banyak dan melahap lebih banyak. Tamak. Tak pernah berhenti.

Penulis: Birgaldo Sinaga

Reporter :
Editor : Taat