Netral English Netral Mandarin
05:33wib
Hampir seluruh negara di dunia meningkatkan pembatasan Covid-19 ketika kasus varian Delta melonjak, yang tidak sedikit orang menentangnya. Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen bangsa bahu-membahu berupaya melawan pandemi Covid-19.
Menjadi Petani di Tapanuli Utara Itu Keren, Gaes!

Selasa, 01-Juni-2021 11:10

Petani Taput sedang memipil jagung menggunakan mesin baru yang diperkenalkan Bisukma (kiri) dan Erikson Sianipar, melihat langsung sawah masyarakat yang segera panen di Pahae (kanan)
Foto : Dok. Bisukma
Petani Taput sedang memipil jagung menggunakan mesin baru yang diperkenalkan Bisukma (kiri) dan Erikson Sianipar, melihat langsung sawah masyarakat yang segera panen di Pahae (kanan)
33

TARUTUNG, NETRALNEWS.COM – Kisah Theodorus Deddy Tri Kuncoro atau akrab disapa Deddy memutuskan keluar sebagai karyawan bank dan banting setir menjadi petani sayur dan buah organik sempat viral di awal tahun 2020.

Keputusan meninggalkan kemapanan dengan status pegawai kantoran ternyata membawanya pada kesuksesan di masa-masa selanjutnya. Inilah yang membuat namanya terkenal di Sleman, DI Yogyakarta.

Deddy ternyata memiliki alasan dan kesadaran kuat saat memilih berhenti sebagai karyawan di salah satu bank swasta di Yogyakarta pada tahun 2016.

"Alasan saya keluar dari bank karena saya merasa penghasil pangan itu adalah petani. Artinya, potensi pangan di Yogyakarta atau di Indonesia bahkan di dunia ini akan terus ada,” tutur Deddy seperti dilihat Netralnews melalui Channel Liputan Kabar Baik, TV One, 30 Mei 2021.

Ia juga ingin mematahkan image masyarakat yang memandang petani itu identik dengan kotor, miskin, rendahan, tidak bisa hidup sejahtera, dan sebutan negatif lainnya.

“Selama ini stereotip petani kan miskin, pendapatannya rendah. Awalnya tantangan dari keluarga itu memang ada namun untuk saat ini sudah mendukung penuh. Ya, menurut saya, menjadi petani itu keren. Tidak hanya keren saja tapi jelas ada manfaatnya untuk orang lain,'' tegas Deddy. 

Kesuksesannya kini bisa dilihat dari produk pertanian yang dihasilkan hingga mampu memiliki lima karyawan yang selalu membantunya dalam mengolah lahan pertaniannya. 

Produk pertaniannya antara lain caisim, pokcoy, kangkung, sawi, pagoda, sledri, rempah-rempah, hingga buah-buahan organik. 

Ia bahkan juga sukses membuka kios bernama "Warung Dodolan Organik". Tak hanya menjual produknya sendiri, kios ini juga berhasil rutin menjual pasokan para petani organik lain.

Perhari terjual rata-rata 100 kilogram dan dan buah-buahan mencapai 500 kilogram perminggu.

Ada pula kisah menarik lainnya tentang seorang Office Boy (OB) muda yang tinggalkan dunia perkantoran dan malah sukses menjadi petani dengan penghasilan Rp15 juta perbulan. 

Raga (26) berhasil membuktikan bahwa profesi sebagai petani bukanlah hal yang memalukan. 

"Modal nggak ada, waktu itu ada lahan mertua yang bisa buat digarap. Dulu saya mikir kerja jadi petani itu kotor, panas, lelah. Pokoknya bertani itu susah. Akhirnya saya belajar sama mertua buat tanam bawang, tanam cabai," beber Raga.

Tak disangka, dari hasil bertani Raga bisa menghasilkan uang yang jauh lebih besar daripada pekerjaan sebelumnya sebagai OB. Dalam dua bulan saja Raga bisa menghasilkan uang minimal Rp20 juta. 

"Pertanian itu sepertinya susah buat pemuda di jaman sekarang, tapi saya tidak menyerah, saya belajar menanam bawang merah dan cabe dengan benar. Dari situ saya mendapatkan penghasilan bertani bawang merah cukup menggiurkan," tambahnya sambil tersenyum.

Lewat Channel Youtube CapCapung seperti dilihat Netralnews, Minggu (30/5/21), Raga kemudian membagikan kisah mantan OB menjadi petani sukses.

"Saya dulunya pengangguran, kerja serabutan, saya pernah kerja di perusahaan swasta jadi OB 2 tahun," ujar Raga dalam video berdurasi 3 menit ini.

"Alhamdulillah, bisa bangun rumah. Istilahnya menyenangkan istri dan anak-anak," imbuh Raga.

Bangga Menjadi Petani

“Sekarang, menjadi petani itu keren, Gaes!” Kalimat ini sepertinya cukup mewakili optimisme kesuksesan generasi milenial di hari depan. 

Gambaran sosok bertubuh kotor penuh lumpur kontra berdasi di dalam kantor telah luntur dan usang. Pendapat menjadi petani itu miskin dan berkasta rendah kini terkikis dan tergantikan fakta menjanjikan kesuksesan. 

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian terus memperbaharui segala sendi kehidupan termasuk bidang pertanian. 

Mesin-mesin pembajak lahan, mesin tanam, mesin panen, mesin penggiling hasil panen, internet of things (IoT) sampai drone yang menyiram pupuk dan air telah melahirkan budaya baru yang sangat jauh berbeda dari era sebelumnya. 

Penemuan bibit unggul dengan teknik-teknik tanam model baru melahirkan hasil panen jauh lebih efektif, efisien, dan berlipat ganda. Produksi berlimpah membuka peluang ekspor yang tinggi. 

Sumber pangan melimpah, masyarakat pun terhindar dari bencana krisis pangan. Menjadi petani itu menghidupi masyarakat.

Jangan lupa, semua pengetahuan itu terbuka untuk diketahui dan bisa diakses melalui dunia internet, lengkap dengan segala tips dan trik yang sering dibagikan oleh para pegiat pertanian, salah satunya melalui akun Youtube

Jalan menuju sukses bagi generasi milenial telah terhampar luas. Pertanyaannya adalah bagaimana cara menuju dan meraih hari depan itu?

Pertanian di Tapanuli Utara

Menurut catatan Badan Pusat Statistik dalam Kabupaten Tapanuli Utara Dalam Angka 2021, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Tapanuli, Sumatera Utara, masih didominasi dari sektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian yakni mencapai 43,31 persen dari total PDRB yang dihasilkan.

Lapangan usaha di bidang perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, serta lapangan usaha konstruksi, menyusul kemudian yakni masing-masing 15,68 persen dan 14,14 persen.

Tahun 2020, nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) lapangan usaha pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mencapai Rp3.583,97 miliar, sedangkan pada 2010 mencapai Rp2.660,74 miliar.

Adapun produk pertanian Tapanuli Utara didominasi antara lain oleh komoditi padi (padi sawah dan padi ladang), jagung, jeruk, nanas,kopi dll. 

Untuk laju pertumbuhan ekonomi di Tapanuli Utara tercatat mengalami perlambatan dari 2,65 persen tahun 2018 menjadi 2,30 persen tahun 2020.

Dengan demikian, sektor pertanian bagi daerah Kabupaten Tapanuli Utara ya pada tahun 2020 berpenduduk 312.758 jiwa, sampai saat ini masih merupakan tulang punggung perekonomian daerah . 

Merujuk pada sumber yang sama, perlu dicermati yakni bahwa pada 2020, dari total sebanyak 172.493 orang angkatan kerja, masih ada sebanyak 5.065 tenaga kerja belum terserap lapangan kerja. 

Mendorong mereka yang belum bekerja untuk tertarik, mau menjadi petani, serta sukses, bukankah akan sangat menarik?

Dalam konteks ini, memajukan sektor pertanian dengan sungguh-sungguh di Tapanuli Utara akan menjadi salah satu solusi strategis bagi perluasan lapangan kerja sekaligus mengatasi potensi pengangguran.

Bisukma Dukung Penuh Petani di Tapanuli Utara agar Sukses

Lahir di Hutagalung Tarutung, sebagai putra Tapanuli Utara , Dr Erikson Sianipar MM, saat ini semakin banyak mengalokasikan waktunya memberi perhatian ke kampung halamannya.

Ia sangat termotivasi dan terinspirasi untuk terlibat aktif dalam mewujudkan Kabupaten Tapanuli Utara  menjadi sumber pasokan pangan utama di kawasan Sumatera melalui berbagai strategi dan program kreatif di sektor pertanian. 

“Selain lahan yang digarap kaum tani saat ini, di Tapanuli Utara masih luas ‘lahan tidurnya’ yakni sekitar 46.000 hektar. Lahan ini berpotensi besar untuk diolah sehingga bisa meningkatkan pendapatan daerah dari sektor pertanian,” papar Erikson Sianipar kepada Netralnews, Minggu 30 Mei 2021.

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, sudah banyak melakukan program dan terobosan baru untuk menjadikan wilayahnya menjadi lumbung pangan, yang juga menjadi bagian dari visi yang sudah ditetapkan.

“Namun, untuk benar-benar dapat mewujudkan perlu kolaborasi dengan seluruh elemen melalui penguatan di sektor SDM, akses permodalan, pembangunan infrastruktur seperti:  jalan akses ke desa-desa, irigasi, jaringan internet, dan juga soal pemasaran,” imbuhnya. 

Sejak tahun 2009 hingga tahun 2021 , organisasi sosial BISUKMA  telah menggelar berbagai kegiatan pelatihan dengan melibatkan tak kurang dari 7.000 angkatan dari lintas generasi  di Tapanuli Utara.

Tematik pelatihan yang diusung Bisukma di antaranya adalah Program Penguatan Karakter Positif melalui leadership dan entrepreneurship

Di dalamnya juga ada meteri memperluas pengetahuan, literasi, penyuluhan pertanian,  pemanfaatan teknologi informasi modern, dan mekanisasi sesuai dengan perkembangan era revolusi industri 4.0.

“Permasalahan bidang pertanian secara khusus di Tapanuli Utara secara garis besar terletak pada proses produksi, paskapanen, dan juga pemasaran,” kata Erikson. 

Pertanian menurut Erikson tidak bisa dilihat hanya dari sisi produksi, tapi juga harus dipastikan keberhasilan paskapanen dan pemasarannya.

“Pertanian harus kita lihat sebagai industri. Pengelolaan yang holistik yaitu pendekatan dari hulu ke hilir menjadi pendekatan yang efektif dilakukan guna menjaminkan kapasitas, kualitas, dan kontinuitas produksi  untuk menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian,” tandas Erikson.

Memang, bisa dikatakan bahwa industri pertanian adalah industri yang sangat kompleks. 

“Oleh sebab itu, sangat dibutuhkan data yang lengkap dan akurat,  antara lain meliputi profiling setiap desa/wilayah yang dikelola dalam Sistem Informasi Desa berbasis Teknologi Informasi.

Dengan data yang dimiliki, maka akan lebih mudah melakukan perencanaan pembangunan wilayah desa,  pengadaan bibit dan pupuk yang sesuai, perencanaan pengadaan alat  mekanisasi yang tepat, mengembangkan kemampuan petani, membangun kapabilitas supervisi dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), serta membangun kerjasama dengan buyers  maupun investor yang berminat untuk membangun pabrik yang bertujuan memberi nilai tambah (value added ) dari setiap komoditas ,” terang Erikson.

Dengan memahami dan mengelola seluruh aktifitas dan kejadian dalam siklus hulu sampai dengan hilir melalui mekanisasi dan pemanfaatan teknologi informasi (digitalisasi pertanian), menurut Erikson akan membawa para petani semakin cerdas (bisuk) dan produktif dalam bekerja serta lebih memberi kepastian dan keberlanjutan usaha di bidang pertanian.

“Dalam mewujudkannya, tentu memerlukan kerja sama dengan pemerintah, pengusaha, komunitas masyarakat, media, dan akademisi sangat dibutuhkan. Kepada mereka dan seluruh kaum tani Tapanuli Utara, Salam BISUKMA PERCEPAT PERUBAHAN,” pungkas Erikson Sianipar.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati