Netral English Netral Mandarin
04:56wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Menko Luhut: Kita Semua Lelah, Jangan Sia-siakan Kelelahan Ini karena Tidak Disiplin

Selasa, 10-Agustus-2021 06:08

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi yang juga Koordinator PPKM Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers virtual Evaluasi dan Penerapan PPKM, Senin malam (2/8/20
Foto : Youtube Sekretariat Presiden
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi yang juga Koordinator PPKM Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers virtual Evaluasi dan Penerapan PPKM, Senin malam (2/8/20
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengakui baik petugas maupun masyarakat saat ini lelah menghadapi pandemi COVID-19 namun jangan sia-siakan kelelahan itu dengan tidak lagi disiplin dalam melakukan protokol kesehatan.

"Saya ingin menyampaikan pada anda semua, semua kita lelah, bukan hanya petugas, masyarakat pun lelah, oleh karena itu jangan kita sia-siakan kelelahan kita ini karena kita tidak disiplin," kata Luhut dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Senin (9/8/2021).

Luhut mengumumkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 2, 3 dan 4 di Pulau Jawa dan Bali diperpanjang hingga 16 Agustus 2021 dengan sejumlah penyesuaian.

"Pemerintah mengedepankan masalah kehatian-hatian dengan baik. Jangan sampai perbaikan yang sudah kita capai susah payah kemudian menjadi sia-sia," tambah Luhut.

Menurut Luhut, Presiden Jokowi telah memberikan pengawasan dan arahan yang tepat dalam penanganan pandemi.

 

"Menurut pengalaman saya sebagai perwira TNI, arahan ini membuat keputusan cepat yang tidak dapat dibayangkan orang. Kalau teman-teman melihat ke dalam proses pengambilan keputusan ini bagaimana peran presiden dalam mengarahkan adalah langkah yang patut diapresiasi," ungkap Luhut.

Sesuai keputusan dalam rapat kabinet, evaluasi untuk PPKM di Jawa Bali dilakukan setiap satu minggu sekali, sementara untuk di luar Jawa Bali akan dilakukan setiap 1x dalam dua minggu.

"Penanganan di luar Jawa Bali tentunya tidak bisa serta merta dibandingkan dengan di Jawa Bali, karena tantangan di sana jauh lebih besar dibanding Jawa Bali contohnya dalam hal dukungan infrastruktur kesehatan. Pemerintah akan terus bekerja keras untuk mengendalikan pandemi di seluruh Indonesia," tambah Luhut.

Luhut menjelaskan struktur penanganan pandemi saat ini sudah sangat baik.

"Karena presiden yang menjadi panglima paling tinggi dalam penanganan pandemi ini kemudian menko perekonomian dan saya sebagai komando-komando wilayah atau lapangan seperti organisasi militer juga. Tidak mungkin satu komando untuk semua itu, melihat luas rentang kendalinya karena itu keputusan untuk menunjuk menko perekonomian untuk menangani luar Jawa Bali dan saya menangani Jawa Bali menurut saya sudah keputusan yang paling tepat," jelas Luhut.

Sekali lagi, Luhut mengungkapkan, tentunya pemerintah tidak bisa bergerak sendirian tanpa keterlibatan peran serta dan juga kesadaran masyarakat.

"Masyarakat hari ini diharapkan memiliki kesadaran tinggi untuk berperan penuh dalam terus menjaga protokol kesehatan utamanya dalam melakukan penggunaan masker, agar kita semua dapat segera keluar dari badai pandemi ini," ungkap Luhut.

Kepatuhan menggunakan masker, menurut data yang dimiliki Luhut, telah mencapai 82 persen, meningkat 5 persen dibandingkan Februari-Maret 2021.

Selanjutnya dalam hal peningkatan jumlah testing dan "tracing", jumlah spesimen dan orang yang dites meningkat sangat signifikan hingga 3 kali lipat sejak Mei 2021.

Selain itu dari sisi "tracing", keterlibatan dari TNI dan Polri, mampu meningkatkan jumlah kontak erat yang berhasil "ditracing".

"Saat ini memang masih ada pencatatan yang dilakukan secara manual untuk aktivitas 'tracing' ini terutama karena keterbatasan akses internet untuk wilayah-wilayah pedesaan. Namun hal ini akan terus kami perbaiki dengan menambah jumlah digital 'tracer', 'tracer' lapangan dan juga sistem Silacak yang lebih adaptif guna mengakomodasi 'tracing' kontak erat yang akan semakin besar hari ke harinya," jelas Luhut.

Reporter : Antara
Editor : Sesmawati