3
Netral English Netral Mandarin
00:27 wib
Tercatat sebanyak 21,5 juta orang lansia akan mengikuti program vaksinasi Covid-19. Ada dua mekanisme vaksinasi Covid-19 pada lansia. BMKG memperingatkan sejumlah daerah di Jawa Barat yang berpotensi banjir atau banjir bandang dengan status siaga dan waspada mulai 24-25 Februari 2021.
Menyingkap Pengaruh Islam dalam Budaya Tari Zapin Api

Jumat, 12-Februari-2021 15:05

Ilustrasi Menyingkap Pengaruh Islam dalam Budaya Tari Zapin Api
Foto : Kemendikbud.go.id
Ilustrasi Menyingkap Pengaruh Islam dalam Budaya Tari Zapin Api
2

Tari Zapin Api salah satu budaya lokal di Pulau Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada 2017.

Selain penuh keunikan dengan nuansa mistis, dalam tarian tersebut juga terkandung nilai-nilai islami.

Tari Zapin Api pada abad ke-15 sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam bagi masyarakat Melayu di Pulau Rupat. Bahkan, syair-syair lagu yang dilantunkan dalam pertunjukan, menceritakan kebesaran ilahi dan Nabi Muhammad SAW serta mempererat hubungan antarmasyarakat Melayu beragama Islam.

Yang lebih unik lagi, setiap pemain harus ganjil jumlahnya, pemain musiknya harus tiga orang. Bahkan, meskipun diturunkan 10 penari Zapin Api, yang akan dirasuki saat pembacaan mantra oleh khalifah (pimpinan ritual) tetap lima atau tujuh penari.

"Kami pun tidak bisa menjawab terlalu banyak kaitannya, namun dalam Islam sendiri banyak yang ganjil-ganjil dalam hitungannya," ujar seniman Zapin Api, Muhammad Hafis, kepada ANTARA, Kamis (11/2).

Hafis yang juga Ketua Sanggar Petak Semai di Teluk Rhu, Rupat Utara, mengungkapkan sebelum tampil, tiga hari sebelumnya para pemain harus menjalani ritual, salah satunya puasa bagi pemain pemula.

Akan tetapi, bagi pemain yang sudah senior biasanya menjalani amalan zikir ribuan kali menjelang tampil. Selain itu, pemain dan kru harus menjauhi segala pantangan yang bertolak belakang dengan syariat Islam, di antaranya mabuk, minum minuman beralkohol, atau berzina.

Seandainya pantangan tersebut dilanggar, maka akan terlihat dengan sendirinya. Penari yang melanggar pantangan tidak akan dirasuki ketika dibacakan mantra oleh khalifah.

"Pastilah akan ketahuan kalau pemain tersebut melanggar pantangan," ungkapnya.

Untuk khalifah, kata Hafis, tampil atau tidak di tarian Zapin Api harus tetap menjaga alat musik, terutama alat musik gambus yang terbuat dari kayu pilihan dan dibuat sendiri oleh sang khalifah.

Di alat musik tersebut diberi tulisan kaligrafi potongan ayat-ayat Al Quran. Potongan ayat itu berasal dari "wahyu" melalui mimpi.

"Khalifah yang memasang tali, memandikan dan mengasapi alat musik gambus tersebut dengan kemenyan setiap malam Jumat, kemudian dibawa tidur agar 'qodam' (ikatan) antara gambus dengan khalifah sangat erat. Seandainya ada sesuatu yang akan mengganggu khalifah, gambus tersebut akan berbunyi sendiri tanpa dimainkan. Itu pertanda alat musik tersebut bisa dimainkan dalam tarian Zapin Api," jelasnya.

Selanjutnya, satu hari menjelang tampil, tepatnya setelah shalat Asar, para pemain dan penjaga api akan dimandikan dengan buah limau untuk pembersihan terakhir pada tubuh bagian luar. Selepas shalat Maghrib, para pemain berkumpul untuk melakukan shalat sunah dua rakaat dan berdoa meminta perlindungan kepada Allah SWT.

Selesai melaksanakan shalat sunah, para pemain melakukan ritual wudu memakai asap kemenyan dan prosesnya seperti berwudu biasa ketika hendak melaksanakan shalat, kemudian baru masuk ke lokasi permainan.

Pada bagian awal tarian, para pemain bertelanjang dada duduk dengan mengamalkan zikir dan harus berkonsentrasi penuh. Prosesi ini dipimpin oleh pawang sambil membacakan mantra untuk pemanggilan arwah. Ketika para pemain sudah terlihat kerasukan, maka api yang biasanya terdiri sabut kelapa dan kemenyan dibakar.

"Yang paling sulit itu menentukan durasi pemanggilan oleh sang khalifah, bisa saja proses setengah jam atau satu jam tergantung kondisi di lapangan," ungkapnya.

Ketika para pemain sudah mulai dirasuki, biasanya para pemain musik akan memainkan sebanyak tiga lagu khas, untuk lagu yang temponya paling cepat lagu Syekh Abdul Kadir Jailani, untuk tempo sedang lagu Siti Fatimah dan untuk tempo paling lambat lagu Raja Beradu.

"Dengan lagu tempo yang lambat akan memberi peluang kepada pawang untuk melihat kondisi dan mengawal di lapangan ketika ritual sedang berjalan, untuk proses penyadaran terhadap pemain juga memainkan lagu tempo lambat ini," ungkapnya.

Hafis menceritakan awalnya, pada abad ke-13, tari Zapin Api disebut tari api dan dimainkan pada acara tahunan oleh masyarakat, dengan nama acara pelihara kampung untuk meminta keberkahan dan mengundang sejumlah pawang, termasuk pawang api. Akan tetapi, pawang api tidak akan datang kalau tidak disambut dengan tarian.

"Pada waktu itu belum ada alat musik, dan kedatangan pawang api di acara pelihara kampung tersebut disambut dengan sebuah tarian dan namanya tari api yang dilestarikan masyarakat Melayu yang bukan beragama Islam," kata dia.

Pengaruh Islam

Pengaruh Islam masuk dibawa orang Aceh yang waktu itu kapalnya pecah di Pulau Beting Aceh. Mereka bermukim di Pulau Rupat lalu menyebarkan Islam.

Mulai saat itu, tari api yang dimainkan dengan unsur mantra, diubah oleh Syekh Japar berasal dari Aceh, diisi dengan mantra, doa, dan zikir, yang akhirnya berubah menjadi tari Zapin Api yang dipakai untuk mengembangkan ajaran Islam.

Pada abad ke-17, tari Zapin Api untuk menyambut hari besar agama Islam dan acara tahunan seperti ritual mandi safar dan sarana hiburan warga pada pesta pernikahan. Jadi tarian Zapin Api ini bukan dari ragam tari, tetapi dari alat musik dan tempo yang dimainkan. Oleh karena tempo yang dimainkan berbentuk "zapin", maka tari api tersebut dinamakan tari Zapin api.

"Tari Zapin Api bukanlah identik dengan ragam tapi, identik dengan musiknya, kalau ragamnya tetap seperti tari api," ujarnya.

Ia mengemukakan terjadinya kevakuman pertunjukan tarian itu pada 1970-2009 karena kurangnya perhatian pemerintah. Bahkan, para pemainnya harus mencari pekerjaan lain ke negara tetangga, Malaysia.

Berbagai upaya untuk mengangkat kembali tarian itu membawa kepada keputusan pemerintah menetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2017

Pertunjukan tari Zapin Api, menurut budayawan Riau, Saukani Alkarim, memperlihatkan nilai-nilai Islam secara jelas meskipun tidak menafikan bahwa nilai-nilai lama masih tetap ada.

Sebagai suatu produk budaya, Zapin Api tentu akan berkembang sesuai dengan kemajuan zaman. Akan tetapi, hal yang paling penting, bagaimana dari suatu peristiwa seni dan budaya, pesan-pesan rohani itu tersampaikan dengan baik kepada masyarakat.

Menurut dia, Zapin Api istilah baru yang diberikan kepada tarian yang menggunakan media api tersebut.

Tarian yang menggunakan media api ini banyak dipraktikkan di berbagai daerah di Nusantara. Tarian api ini sudah berkembang sejak lama di Rupat dan merupakan warisan dari zaman ke zaman.

Tarian ini penuh dengan nuansa magis dan berkembang pada zaman politeisme dan animisme, maka unsur mistis dan pemujaan terhadap alam dan penguasa alam terlihat dengan jelas.

Selain itu, orang Melayu masa lampau percaya bahwa alam merupakan bagian dari sesuatu yang "maha tinggi". Oleh karena itu, setiap gerak kehidupan harus dimulai dengan penghormatan terhadap unsur-unsur kekuatan alam, seperti tanah, air, angin, dan api.

Namun demikian, setelah Islam masuk mulai dilakukan proses perubahan dalam ritual Zapin Api.

"Jika pada masa dulu, kekuatan para pawang dan penari diperoleh lewat segudang 'kerja sama' dengan makhluk astral, maka pada masa Islam, kekuatan dimohonkan kepada Allah SWT. Mantra-mantra mulai berganti dengan zikir," jelasnya.

Ditambahkan dia bahwa berbagai pantangan atau larangan yang sebelumnya dibuat dalam konsep animisme, diubah dengan konsep yang lebih islami. Misalnya, berpuasa dengan ritual tertentu dan dilarang melakukan hal-hal yang tercela.

Proses pengisian nilai nilai Islam dalam Zapin Api ini, hampir sama dengan proses yang dilakukan pada berbagai bentuk kesenian yang lain, katakanlah wayang kulit. Dalam wayang kulit, Sunan Kalijaga memasukkan nilai-nilai islami dalam kisah yang dibuat, tanpa menghilangkan bentuk atau konsep dasar dari pewayangan.

Penjabat Bupati Bengkalis Syahrial Abdi menegaskan bahwa tari Zapin Api dari aspek kegiatan budayanya wajib didukung oleh Pemerintah Kabupaten Bengkalis karena menjadi bagian dari budaya masyarakat. Tarian itu telah dimainkan secara turun-temurun oleh masyarakat.

"Saya bersama Kadis Pariwisata, Bappeda, dan Dinas Sosial pernah membahas persoalan ini, solusi lainnya yakni perhatian jangka panjang terhadap pemain dan kru agar tetap bisa bermain dengan memenuhi kebutuhan biaya hidup mereka dengan catatan mereka ini fokus dengan pengembangan budaya tari Zapin Api ini," ujar dia.

Upaya untuk pengembangan budaya dan kearifan lokal di Pulau Rupat menjadi atensi Pemkab Bengkalis. Pemkab berupaya mendorong kekayaan budaya setempat bisa hadir dalam sejumlah kegiatan, termasuk kepariwisataan pada masa mendatang.

"Minimal tranformasi dari budaya animisme dan bergesar ke media dakwah pada waktu itu dan idealnya harus diangkat dalam sebuah diskusi bersama MUI terkait syair-syair yang mengandung nilai-nilai Islam ini," kata dia. 

Penulis: Fazar Muhardi

Jurnalis Antara

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto