Netral English Netral Mandarin
00:14wib
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan keputusan pemerintah untuk menggelontorkan dana triliunan rupiah ke perusahaan-perusahaan produsen minyak goreng dinilai sudah sangat tepat. Komisi Pemberantasan Korupsi mengembangkan kasus korupsi proyek infrastruktur di Kabupaten Buru Selatan 2011-2016.
Merajut Hari Depan Ulos agar Bernilai Plus di Kancah Dunia

Senin, 18-Oktober-2021 08:24

Pendiri Bisukma Erikson Sianipar bersama seorang penenun kain Ulos di Desa Papande, Kecamatan Muara, Tapanuli Utara
Foto : Dok. Bisukma
Pendiri Bisukma Erikson Sianipar bersama seorang penenun kain Ulos di Desa Papande, Kecamatan Muara, Tapanuli Utara
35

TARUTUNG, NETRALNEWS.COM – Siapa yang tak kenal kebudayaan khas Batak yang satu ini? Ya, kain Ulos sudah tak asing di mata masyarakat Indonesia. Kehadirannya tak bisa dilepaskan dari citra suku Batak yang keberadaannya tersebar di Nusantara bahkan tersebar di mancanegara.

Suku Batak memiliki pandangan tentang tiga unsur dasar kehidupan manusia, yakni darah, napas, dan panas. 

Meski ada matahari, namun kehangatan matahari tak cukup untuk melawan dinginnya malam hari. Maka Uloslah yang menjawabnya. 

Dalam catatan Kemendikbudristek, Ulos tercatat sebagai warisan budaya leluhur suku Batak yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sandang sejak 4.000 tahun lalu dan semakin berkembang pada abad ke-14 seiring dengan masuknya alat tenun tangan dari India. 

Dalam perkembangannya, kain ini ternyata tak  sekadar untuk memenuhi kebutuhan sandang namun juga selalu hadir di setiap acara yang diadakan oleh masyarakat Batak, termasuk di bidang keagamaan. 

Batara Sangti atau Ompu Buntilan dalam bukunya Sejarah Batak (1977: 352-353), mencatat bahwa pada 1936 tampil Pendeta Hercules Marbun di Balige. Ia  adalah tokoh pertama yang memprakarsai pemakaian pakaian Batak asli di gereja-gereja.

Ajakan tersebut disambut oleh tokoh-tokoh masyarakat Balige. Dari sinilah mulai berkembang hingga dewasa ini pakaian-pakaian Batak asli, terutama kain Ulos  (hal 352-253).

Pada 17 Oktober 2014, Ulos dinyatakan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WKTB) Nasional oleh Kemendikbudristek dengan nomor registrasi 201400089. Kini Ulos sedang diperjuangkan agar menjadi warisan budaya dunia melalui UNESCO.

 

Ikatan Kasih Sayang

Batara Sangti melukiskan Ulos sebagai simbol ikatan kasih sayang secara apik seperti tercermin dalam upacara Martutu Aek

Martutu Aek adalah acara pembaptisan. Dalam tradisi Batak kuno, pembabtisan dilakukan dengan air kepada seorang anak yang baru lahir (sekitar usia tujuh hari) dengan membawanya ke homban (mata air di tengah ladang).

Batara Sangti mencatat pada hari kedua upacara Martutu Aek, sejak pagi-pagi waktu matahari terbit, ritual pun dimulai. Sang ibu mengambil sebuah Ulos ragi idup (Ulos bermakna tertinggi; arti harafiah: "pola hidup") dan menggendong anaknya yang hendak 'dipermandikan'. 

Seorang Datu (pemimpin adat) memegang pedang, berjalan di muka diikuti oleh sang ayah. Di belakang sang ibu berbarislah prosesi sanak saudara penuh hormat dan khidmat. Sang Datu mengibaskan pedangnya ke kiri-kanan sambil mengucapkan mantra berkomat-kamit.

Waktu rombongan sampai pada mata air, sebuah piramide pasir didirikan di bawah pengawasan Datu. Terusan kecil digali sekeliling piramide sehingga berbentuk pulau dan gunung. Permukaan piramide pasir diratakan. 

Kira-kira tiga meter dari piramide, unggun api dinyalakan untuk membuat dupa. Sang Datu menaruh beberapa butir dupa yang menyala ke atas piramide. Kemudian diletakkan juga sirih dan kue-kue kudus. 

Piramide ini disebut: "Horsik na niarsihan, tano na nihatian," artinya pasir yang dikeringkan, tanah tercinta. Dupa lalu dipadamkan, ragi idup tadi dihamparkan di atas piramide dan Sang Datu mengucapkan beberapa formula rahasia. 

 

Sang anak dibaringkan telanjang di atas Ulos, dan sementara ia menangis, Sang Datu mencedok air dan dituangkan kepadanya. Anak terkejut dan menjerit terhiba-hiba.

Orang· banyak tidak memandangnya sebagai suatu alarm melainkan wajah mereka berseri dan mereka berkata: "Sai  lam tu toropnama  soara ni anak  dohot  boru tu  joloan  on," yang artinya "Semoga makin banyak suara putra dan putri di masa datang." 

Sang ibu mengambil putranya dan membendungnya dengan ragi hidup. Kendati Ulos itu basah dan dingin, tetapi sang ibu tidak menggunakan kain lain selain dari Ulos yang penuh makna ini. Rombongan pulang secara informil dan pesta diteruskan di rumah  (Lampiran halaman 16-19).

Jadi, Ulos adalah lambang kehangatan, ikatan kasih sayang  yang kuat, kokoh, tak mudah putus, antar sesama dengan jenis dan fungsi yang sangat beragam. 

 

Sebagai contoh, upacara adat “mangUlosi” dalam pernikahan berarti ungkapan pemberian restu dan kasih sayang dari orangtua kepada anak-anaknya agar mereka subur, makmur, sejahtera, dan berlimpah berkah. Adat ini menjadi salah satu keharusan dalam rangkaian upacara pernikahan adat Batak. 

Beberapa jenis Ulos pun digunakan misalnya Ulos Ragi Hotang yang diberikan kepada pengantin baru. Ulos ini merupakan simbol harapan dari pemberinya agar pasangan pengantin baru memiliki ikatan batin. 

Ada juga Ulos Suri-Suri Ganjang yang digunakan orangtua untuk memberikan berkat kepada boru-nya (anak perempuannya). 

Lain lagi dengan Ulos Mangiring yang berfungsi sebagai lambang kesuburan dan kekompakan yang biasanya diberikan kepada anak yang baru lahir, terutama anak pertama.  Dan masih banyak lagi jenis Ulos lainnya.

Namun, secara hakiki, Ulos adalah simbol cinta antar sesama seperti tercermin dalam falsafah Batak, “Ijuk pengihot ni hodong. Ulos penghit ni halong” yang artinya ijuk pengikat pelepah pada batangnya dan Ulos pengikat kasih sayang di antara sesama. 

Dalam konteks tertentu, Ulos juga bisa diartikan sebagai “jembatan” antara generasi tua dengan generasi muda, bahkan antara generasi masa kini dengan para leluhur suku Batak. Ulos adalah wajah sejarah Suku Batak. Ulos menjawab dari mana asal usul mereka. 

Tantangan Ulos Masa Kini 

Pada umumnya masyarakat di Kawasan Danau Toba sejak kecil sudah dikenalkan Ulos bahkan diwariskan pula cara membuatnya atau biasa disebut Martonun Ulos. Hanya saja, untuk menjadi profesi adalah persoalan yang tak sederhana.

Tradisi Martonun Ulos secara asli dengan menggunakan keterampilan tangan berhadapan dengan model bertenun menggunakan mesin yang diproduksi secara massal, lebih cepat, dan lebih murah. Ini menjadi tantangan tersendiri.

Bahkan, diduga tak sedikit kain Ulos yang beredar di pasaran belum tentu merupakan produk asli Sumatera Utara karena diproduksi hanya sekadar untuk kepentingan bisnis, fashion, ataupun alasan lainnya. 

 

Padahal, dilihat dari cara pembuatannya, kain Ulos untuk keperluan industri fashion yang bukan tenun Ulos asli sebenarnya berbanding terbalik dengan hakikat Ulos itu sendiri. 

Ulos yang sebenarnya adalah kain yang dibuat melalui proses menenun menggunakan tangan. Ulos produk mesin justru mengikis makna filosofis yang terkandung dalam kain Ulos.

Untuk menandingi dan agar mampu bersaing, para pengrajin Ulos tradisional biasanya akan mengutamakan kualitas sehingga meskipun harga akan lebih mahal namun Ulos asli akan tetap memiliki pasar. 

Di sisi lain, ada pula pergeseran produk substitusi yakni sarung. Masyarakat Batak modern beranggapan bahwa lebih baik membeli sarung karena lebih sering digunakan dibandingkan Ulos. Istilah familiarnya ‘’Ulos lebih sering disimpan dalam almari dibandingkan dipakai sehari-hari”. 

BisukmaGoesTo Papande 

Di antara hamparan pemandangan eksotis Danau Toba yang memukau wisatawan, Desa Papande, Pulau Sibandang, Kecamatan Muara, Tapanuli Utara hingga kini menjadi salah satu desa penghasil kain tenun Ulos yang memiliki keunikan tersendiri. 

Pendiri Yayasan Bisukma Bangun Bangsa, Erikson Sianipar, dalam program BisukmaGoesTo suatu kali secara khusus mengunjungi daerah itu.

“Horas,” kata Erikson Sianipar menyapa rumah pengrajin Ulos yang bernama “Erick Papande”. Tuan rumah pun menyahut seruan serupa dan disusul dengan percakapan akrab berbahasa Batak khas Sumatera Utara.

“Saya perhatikan Ulosnya ini berbeda ya dibanding Ulos Tarutung dan Ulos Toba. Apa bedanya Inang?  Apakah beda karena benangnya, kah?” tanya Erikson dengan penuh keakraban. 

“Kalau bahan benangnya itu sama saja hanya Ulos Papande tidak mencampur bahan benang dari benang lain. Kalau Ulos Papande keseluruhannya memakai benang halus," jawab Inang. 

Erikson Sianipar pun penuh selidik. Ia segera memahami dan mampu membedakan mana benang halus dan mana benang kasar karena semuanya terpampang bergelantungan di samping ruang pajangan kain Ulos. 

“Jenis yang halus biasanya dinamakan  benang seratus, kalau Benang kasar dinamakan benang tiga ratus kah?" tanya Erikson yang disambut gelak tawa penghuni rumah.

"Bukan. Benang halus dinamakan benang seratus, kalau benang kasar dinamakan benang putar,” jawab Inang membenarkan. 

 

Untuk diketahui, keunggulan tenun Ulos di Desa Papande, adalah bagian dalam dan luar serupa dan sama-sama halus. Kain tidak akan luntur serta terasa lembut, sehingga bisa dipakai sebagai Ulos, sebagai bahan membuat baju, maupun sarung. 

“Bagi Anda yang berminat membelinya, bisa memesan dan membeli secara langsung maupun secara online karena ‘Erick Papande’ sudah menjual juga secara online. Namun, lebih seru lagi kalau datang ke Papande sambil menikmati keindahan alam Desa Papande yang terletak di Pulau Sibandang, Danau Toba, Tapanuli Utara,” kata Erikson Sianipar mempromosikan melalui  Channel Youtube Bisukma. 

Menjadikan Kain Ulos Bernilai Plus 

Kain Ulos memiliki nilai moral luhur dan fungsi sosial yang sangat tinggi. Maka sudah semestinya kita melestarikan dan mengembangkannya secara modern dalam arti disesuaikan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya. 

 

Dalam pandangan Erikson Sianipar, setidaknya ada beberapa langkah strategis yang harus dilakukan di masa mendatang agar Ulos asli tak hanya dipakai hanya untuk acara tertentu saja namun bisa bernilai plus yakni menjadi produk yang laris manis di pasar domestik  maupun mancanegara.

“Agar Ulos bisa bernilai plus, maka dibutuhkah strategi pengembangan baik di tingkat lokal, nasional, maupun di tingkat internasional,” terang Erikson Sianipar. 

Langkah strategis yang di maksud Erikson Sianipar antara lain: (1) meningkatkan kualitas dan varian produk tenun, (2) revitalisasi (memperbaiki/menata ulang) alat-alat tenun Ulos untuk mendukung standarisasi produk ulos, (3) penguatan tata niaga ulos, (4) merancang dan menyelenggarakan Calender of Event (CoE) yang berkaitan dengan Ulos, (5) membangun kampung-kampung Ulos sesuai klaster keunikan masing-masing. 

Masyarakat dunia akan selalu terkagum-kagum jika kualitas Ulos semakin berkembang baik variasi, keunikannya, model, warna, bahannya, hingga cara menggunakannya dalam ritual adat, keagamaan, maupun dalam kehidupan sehari-hari. 

Oleh sebab itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas Ulos melalui beragam pelatihan bagi para penenun. Upaya ini sekaligus untuk menjaga regenerasi para penenun Ulos. 

Di sini, peran pemerintah daerah sangat dibutuhkan dalam memfasilitasi pelatihan yang terprogram agar melahirkan para penenun yang berkualitas, unik, penuh kreasi, dan inovatif. 

Keunikan bukan sekadar diukur dari beragam motif, jenis bahan, simbol, fungsi, dan atribut Ulos namun juga harus mampu menjawab kebutuhan trend dan gaya hidup masyarakat di era milenial. 

Pelatihan bisa diperluas dan diperkaya untuk memperkuat keahlian penunjang lainnya mulai dari soal kemampuan mengelola keuangan, pemanfaatan teknologi informasi, hingga bagaimana cara memasarkannya. 

Program strategis kedua adalah dengan melakukan revitalisasi alat-alat tenun Ulos, guna menjamin konsistensi baik kualitas, kuantitas, maupun kontinuitasnya. Untuk program standarisasi,  alangkah baiknya dijalankan dengan sistem standarisasi International Organization for Standardization (ISO). 

Ketiga, melakukan penguatan tata niaga ulos baik melalui pasar tradisional, pasar di tingkat nasional, maupun pasar modern melalui market place via platform khusus sehingga mampu menguasai pasar internasional.

“Kita harus memanfaatkan teknologi informasi. Saat ini para pengrajin sudah terbiasa menjual secara online melalui platform e-commerce. Ke depan bisa dikembangkan melalui platform khusus Ulos yang bergerak sinergis misalnya dengan platform di bidang bidang pariwisata, transportasi, kuliner, dan lain-lain, sehingga memiliki kelebihan tersendiri,” kata Erikson.

 

Keempat adalah dengan merancang dan menyelenggarakan  Calender of Event (CoE) yang berkaitan dengan Ulos untuk mengenalkan Ulos sekaligus untuk membuka pasar baru. Event tentang Ulos diselenggarakan baik di tingkat lokal, nasional, maupun di tingkat internasional. 

Event budaya Ulos bisa juga diselenggarakan dengan memanfaatkan program pemajuan wisata Kawasan Danau Toba yang saat ini sedang menggeliat dan kelak diharapkan menjadi salah satu destinasi wisata berkelas dunia. 

“Ketika Ulos selalu tampil di setiap event budaya maka wisatawan yang datang akan semakin mengenal, ingin tahu, dan diharapkan melahirkan kesan-kesan khusus yang tertanam mendalam sehingga muncul kerinduan untuk datang kembali atau setidaknya ingin mengetahui lebih jauh tentang budaya dan wisata di Sumatera Utara,” tutur Erikson. 

Keberadaan event penting bukan hanya sekedar sebagai ajang berlangsungnya transaksi jual beli Ulos namun agar melahirkan keingintahuan, kesukaan, dan kenangan di benak dan hati para wisatawan dan masyarakat dunia pada umumnya. 

Ketika produk Ulos semakin diminati, maka kebutuhan produksi juga akan semakin tinggi.  Kebutuhan Ulos semakin tinggi maka akan memicu bertambahnya penenun baru. Di sisi lain, penambahan jumlah penenun juga dibarengi dengan program penguatan SDM melalui sejumlah pelatihan yang sudah disentu di awal.

Program strategis kelima adalah dengan membangun kampung-kampung Ulos sesuai dengan klaster keunikan masing-masing. Wisata di Sumatera Utara tentunya juga akan semakin diperkuat melalui pembangunan Kampung Wisata Ulos yang beragam dan tersebar di berbagai Kabupaten.

Selain lima program strategis seperti telah diuraikan, Erikson Sianipar juga berharap agar masyarakat Indonesia tidak lupa untuk selalu mencintai produk domestik. 

“Kepada masyarakat Indonesia, mari kita selalu bangga dengan kain tenun Ulos produk saudara kita sendiri. Selain kita ikut membantu meningkatkan pendapatan para pengrajinnya, kita juga ikut membesarkan citra Ulos sebagai budaya Batak yang sekaligus sebagai budaya Indonesia,” kata Erikson.

Masih kata Erikson, “Kita bangsa merdeka. Tak jarang masih kita temukan orang yang lebih memilih produk luar negeri dengan harga selangit karena dianggap lebih ‘wah’ ketimbang produk karya anak bangsa. Sementara ketika membeli produk karya anak bangsa, kita masih nawar. Mari kita bangga dengan produk Indonesia,” pesan Erikson.

Terakhir, dalam pandangan Bisukma, mengembangkan dan memajukan Ulos adalah bagian dari implementasi spirit dan budaya Betapature

“Memajukan Ulos merupakan salah satu implementasi Budaya Betapature yang dicanangkan oleh Yayasan Bisukma Bangsa. Mari kita benahi pature diri yakni membenahi diri sendiri, pature keluarga, yakni membenahi keluarga, dan pature huta, yakni membenahi kampung halaman kita,” pungkas Erikson Sianipar. 

Anda ingin menyaksikan secara detail bagaimana BisukmaGoesTo Desa Papande, silakan simak di video Bisukma Media berikut: 

 

 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sulha Handayani

Berita Terkait

Berita Rekomendasi