Netral English Netral Mandarin
23:17wib
Aparat dari satuan TNI dan Polri akan menjadi koordinator dalam pelaksanaan tracing (pelacakan) Covid-19 dalam Pemberlakuan Pembatasan Sosial Masyarakat (PPKM) yang kembali diperpanjang. Presiden Joko Widodo memberi kelonggaran selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 diperpanjang mulai 26 Juli hingga 2 Agustus 2021.
Mewujudkan Sistem Pertanian Holistik di Tapanuli Utara

Rabu, 09-Juni-2021 20:16

Erikson Sianipar, Pendiri BISUKMA
Foto : Dokumen Bisukma
Erikson Sianipar, Pendiri BISUKMA
24

TARUTUNG, NETRALNEWS.COM – Bila kaum tani Indonesia ingin eksis di tahun 2030 mendatang, maka harus mampu melakukan lompatan dan inovasi. Pasalnya, kemajuan di bidang pertanian di era globalisasi benar-benar tak bisa diremehkan.

Memang, pergerakan kemajuan teknologi saat ini sudah diketahui dan mulai ditangkap oleh para pelaku sektor pertanian nasional. Namun di sejumlah daerah, hal ini masih harus diperjuangkan.

Kecanggihan teknologi telah memaksa segala sektor mengalami revolusi. Dalam hal ini, Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR) beberapa waktu lalu memprediksi bahwa pada 2030-an akan ada penurunan drastis produksi pertanian di berbagai kawasan di dunia karena perubahan iklim, tidak terkecuali Indonesia.

Sementara produk pangan akan terancam, di sisi lain pertumbuhan penduduk terus melonjak. Kondisi ini jelas membutuhkan respons semua insan tani di Indonesia.

Nah, bicara bagaimana mengelola bidang pertanian, maka kita tidak bisa bicara hanya dari sisi komoditasnya; kita tidak bisa kita bicara hanya proses produksinya; tapi pendekatan secara holistik harus kita lakukan.

Pengelolaan sistem pertanian, khususnya di Kabupaten Tanuli Utara, Sumatera Utara pada prinsipnya harus berbasis pada sistem industri.

Bicara industri maka di sana ada proses input, ada proses output.  Pendekatan pengelolaan industri dengan memperhatikan aspek dari hulu, proses produksi sampai ke hilir akan mengadirkan industri pertanian yang bertumbuh dan berkelanjutan.

Detail risiko-risiko serta peluang-peluang apa yang bisa kita manfaatkan dari setiap kondisi yang ditemukan harus dikelola sedemikian rupa. 

(Erikson Sianipar bersama sejumlah Kades dari Tapanuli Utara menyaksikan model drone pertanian, Foto: Dok.Bisukma)

Bila kita bicara proses produksi, kita banyak menemukan masalah-masalah yang selama ini ini belum bisa diselesaikan secara baik, salah satu di antaranya adalah belum adanya pemetaan lahan dari setiap wilayah.

Kita  belum tahu secara pasti seperti apakah tekstur dan kontur tanah di setiap wilayah, berapa kecenderungan pH tanahnya, seperti apa kondisi cuacanya, berapa ketinggian di atas permukaan laut, dan lain-lain.

(Erikson Sianipar bersama petani Tapanuli Utara sedang membahas problem-problem pertanian, Foto: Dok.Bisukma)

Pemetaan dengan segala indikatornya menjadi sangat penting untuk dapat memilih dan memutuskan jenis komoditas tanaman apa yang cocok untuk setiap wilayah tersebut.

Dengan adanya pemetaan dari setiap wilayah pemerintahan di setiap desa, setiap kecamatan, hingga kabupaten, maka kita akan dapat merencanakan menanam komoditas tertentu, misalnya padi, jagung, kopi, atau lain-lainnya. Maka, jenis komoditas unggulan dari setiap wilayah dengan sendirinya diketahui.

Selain itu, pemetaan dan pemilihan komoditas yang sesuai dengan indikator pemetaan akan sangat membantu dalam merencanakan dan menentukan pengadaan mesin pertanian yang dibutuhkan.

Penggunaan teknologi modern dan tepat guna mutlak harus kita lakukan agar pertanian mampu dipompa dengan hasil yang optimal. Tentu, kita tidak boleh mengabaikan sisi kelestarian alam, budaya, adat dan tradisi. Kearifan lokal yang baik tetap kita jaga sementara lainnya kita lakukan modernisasi.

(Erikson Sianipar bersama petani jagung Tapanuli Utara, Foto: Dok. Bisukma)

Selanjutnya, kalau kita bicara tentang proses produksi maka kita juga harus memastikan ke mana produksi ini akan dijual.

Beberapa langkah-langkah strategis yang harus diperjuangkan antara lain, pertama, bahwa kaum tani di Tapanuli Utara, Sumatera Utara harus cerdas.

Kaum tani Taput harus memiliki kemampuan  mengelola pertanian secara holistik, modern, tetapi juga bijak.

Selama ini, basis pengetahuan kaum tani masih banyak mengandalkan pada tradisi dan kebiasaan warisan masa lampau dan ditopang dengan sistem perlengkapan sederhana.

Bukan berarti warisan leluhur nenek moyang semuanya buruk. Kearifan lokal yang bermanfaat tetap harus dipertahankan, namun hal-hal yang kadaluarsa harus segera ditinggalkan.

Beberapa memang sudah tak digunakan, misalnya sistem pembajakan sawah dengan menggunakan kerbau. Kini para petani sudah beralih dengan menggunakan handtractor karena lebih cepat, efisien, dan mudah.

(Erikson Sianipar bersilaturahmi dengan kaum tani di Tapanuli Utara, Foto: Dok. Bisukma)

Namun perlu diperhatikan pula kearifan lokal tertentu yang harus dijaga, misalnya terkait prinsip silaturahmi untuk mempertahankan dan mempererat tali persaudaraan  sesama masyarakat.

Dalam konteks ini, melestarikan, membangkitkan, dan mengembangkan budaya Batak agar tidak hilang di tengah arus modernisasi (budaya barat) tetap harus digalakkan.

Ambil contohnya adalah tradisi Mamultak Taon. Hingga kini, tradisi ini masih dan tetap dapat  dipertahankan masyarakat Batak Toba yang bekerja sebagai petani sawah.

Tradisi ini merupakan kegiatan yang dilakukan sehari sebelum masyarakat menanam padi serentak di mana pada kegiatan ini ditentukan satu keluarga dari keturunan raja sebagai hasuhuton yang mempersiapkan sawahnya sendiri untuk tempat marsuan (tempat menanam padi).

Tradisi dimulai dengan kegiatan berdoa bersama, memakan itak gurgur atau makanan tradisional khas Batak sebagai simbul dimulainya proses menanam padi secara bersama-sama.

Penanaman padi secara serempak diharapkan dapat menjadikan hasil panen menjadi lebih baik. Di samping itu, menanam padi secara serentak terbukti dapat membuat padi tidak mudah diserang hama.

(Mesin pemipil jagung Bisukma sedang dioperasikan petani muda Tapanuli Utara, Foto: Dok. Bisukma)

Kembali ke pokok sebelumnya, terkait kebiasaan kadaluarsa di luar nilai-nilai kearifan lokal harus berani ditinggalkan.

Sebab, bila petani hanya menggunakan sistem pengetahui masa lalu tanpa ada perubahan, dipastikan apa yang dihasilkan tak akan pernah berkembang, tak akan bertambah, alias jalan di tempat.

Kita harus mampu membuat kaum tani mampu menggunakan cara berbeda dengan berbasis sistem pengetahuan dan teknologi modern, mulai dari mengetahui kondisi tanah, sistem cuaca, pemilihan bibit unggul, pengetahuan akan hama, pengetahuan untuk bisa mengakses permodalan, pengetahuan sistem asuransi pertanian, dan lain-lain.

Seperti halnya kaum profesional di bidang lainnya, kaum tani juga harus mampu memetakan risiko-risiko, potensi, peluang yang potensial dihadapi, sehingga mampu meningkatkan hasil pertaniannya. Hidup sejahtera dan akhirnya bangga menjadi dirinya.

Bisukma Hadir di Tapanuli Utara

Dalam konteks pembentukan insan tani cerdas, organisasi BISUKMA sejak tahun 2019 hingga kini telah menggelar berbagai kegiatan pelatihan dengan melibatkan tak kurang dari 7.000 angkatan dari lintas generasi  di Tapanuli Utara.

Pelatihan pertanian kepada generasi milenial juga dilakukan di antaranya menanamkan mindset tentang “bangga menjadi petani di Tapanuli Utara.”

Aneka program pelatihan bagi kaum tani akan terus dijalankan untuk ke depan dengan melibatkan para pakar pertanian. Diharapkan, cara bertani modern yang berbasis teknologi mampu diserap sehingga di Tapanuli Utara lahir generasi petani modern yang merata.

Hal penting berikutnya, petani sudah harus diperkenalkan dengan teknologi dgital. Internet Of Things (IoT), teknologi drone sudah saatnya didekatkan dan mulai diimplementasikan

(Erikson Sianipar bersama petani kemenyan  di Tapanuli Utara, Foto: Dok. Bisukma)

Petani khususnya generasi milenial, sudah terbiasa menggunakan teknologi digital untuk mengetahui perkiraan cuaca dan curah hujan, perubahan pH tanah, potensi tanaman terkena hama dan lainnya dengan hanya menyentuh aplikasi di gadget atau handphone-nya.

Perlu juga dibuatkan sistem petunjuk pelaksanaan berbasis digital dari pertanian jenis tanaman tersebut. Model standar operasional prosedur untuk setiap komoditas dengan tata kelola yang baik pun dengan sendirinya berhasil dirumuskan.

Selanjutnya, selain manajemen risiko di pascapanen, Bisukma juga berkomitmen  melatih petani  agar bisa memasarkan maupun memanfaatkan hasil panen, setidaknya melalui dua cara.

Pertama, kita bisa langsung menjual hasil panennya ini ke pasar tradisional, perusahaan daerah/nasional,. maupun ke market place (paltform pertanian). Kedua, kita melakukan proses memberi nilai tambah (value added). Misalnya, hasil pertanian nanas diproses menjadi keripik, selai, dan lain-lain.

Dengan pelatihan model ini, diharapkan para petani milenial terangsang kreatifitas dan melahirkan berbagai pilihan pengolahan hasil panen menjadi lebih bernilai tambah sekaligus mengasyikkan.

Tahap selanjutnya adalah pelatihan agar petani milenial mampu memasarkan produk pertaniannya dengan memanfaatkan media e-commerce, misalnya Shopee, Tokopedia, Bukalapak, dan lain-lain.

Tentu, sebelum mereka menjual ke media e-commerce, peserta pelatihan Bisukma perlu memahami cara melakukan kurasi produk, yakni memastikan semua produk yang akan dijual berkualitas sesuai persyaratan pembeli.

Hal kecil tapi sangat mendasar juga sering ditanamkan kepada peserta pelatihan Bisukma bahwa kaum petani milenial di Tapanuli Utara harus memiliki kesadaran bahwa media sosial (medsos) bukan tempat untuk tebar pesona dan narsis tapi menjadi wadah untuk aksi nyata membangun masa depan pertanian dan masa depan bangsa dan negara.

(Bisukma berkomitmen mencerdaskan kaum tani untuk masa depan, Foto: Dok. Bisukma)

Hal yang membuat petani harusnya tetap semangat  adalah “hadirnya” pemerintah baik pusat maupun daerah dalam melancarkan pembangunan bidang pertanian di Tapanuli Utara.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar MoU antara petani dengan perhotelan dalam promosi dan pemanfaatan pangan lokal dari komoditas petani Indonesia.

Upaya ini didorong guna memajukan pangan lokal sehingga memiliki nilai tambah dan mendorong pengembangan usaha petani serta menciptakan pertanian yang hasilnya dapat dinikmati semua kalangan, khususnya meningkatkan kesejaheteraan petani.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mengatakan penandatangan MoU dengan pihak perhotelan menjadi salah satu langkah dalam mengedepankan produksi lokal yang ada termasuk pangan lokal yang tersedia.

“Hari ini kami mencoba menembusnya bersama Accor, sebuah asosiasi perhotelan yang mendunia kurang lebih 1000 hotel se- Asia Tenggara ikut bertanda tangan hari ini untuk melakukan kerjasama dalam rangka pertanian Indonesia masuk dalam menyiapkan seluruh kebutuhan pangan mereka," demikian dikatakan Mentan SYL, seperti dinukil JPNN, Sabtu (22/5/21).

SYL menerangkan ke depan nanti seluruh hotel dapat menyediakan korner atau pojok khusus yang menyajikan produk pangan dan minuman lokal khas daerah. Kegiatan ini sudah berlangsung uji coba pada hotel di beberapa daerah dan akan semakin meluas nantinya.

Menurutnya, apa yang dijalankan sejalan dengan perintah Presiden Jokowi dalam memperluas pasar konsumen komoditas pertanian.

Artinya, Pemerintah Pusat sebenarnya telah membuka pintu kerja sama erat antara kaum petani, pengusaha, dan pemerintah. Model-model seperti inilah harus dibangun di Tapanuli Utara.

Nah, khusus untuk Tapanuli Utara, agar memacu lebih cepat dalam pembangunan pertanian ke depan adalah perlunya menjalin kerja sama dengan lembaga riset dan pengembangan  misalnya dengan menggandeng Universitas Sumatera Utara, Universitas Gajah Mada, IPB, IT DEL dan lain-lain.

Dalam hal ini, kerja sama kajian dengan mereka bisa diperluas tidak hanya dalam bidang pertanian saja namun juga meliputi bidang kehutanan, peternakan, tekonologi dan lain-lain.

Dari proses kerjasama tersebut diharapkan menghasilkan produk tambah lainnya seperti lahirnya bibit atau benih unggul yang tepat dan cocok, cara bertani yang baru, pemanfaatan teknologi terkini  guna menghadirkan industri pertanian yang tetap tumbuh dan berkelanjutan  di Tapanuli Utara.

Penulis: Erikson Sianipar

Founder Yayasan BISUKMA BANGUN BANGSA

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli