Netral English Netral Mandarin
21:35wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Mewujudkan Tarutung Bukan Sekadar Kota Destinasi Wisata Rohani Dunia

Rabu, 14-Juli-2021 15:42

Salib Kasih, Tugu Misionaris Nommensen di Tapanuli Utara
Foto : Penaburbenih.blogspot
Salib Kasih, Tugu Misionaris Nommensen di Tapanuli Utara
29

TARUTUNG, NETRALNEWS.COM –  Sektor pariwisata memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan daerah maupun nasional. Di tahun 2019 saja, Pusdatin Kemenpar telah memproyeksikan pariwisata sebagai penyumbang devisa terbesar yakni 24 miliar dollar AS, melampaui sektor migas, batubara, dan minyak kelapa sawit. 

Di tahun 2015, tercatat devisa dari sektor pariwisata adalah sebesar dari 12,2 miliar dollar AS, pada 2016 menjadi 13,6 miliar dollar AS dan pada tahun 2017 naik lagi menjadi 15 miliar dollar AS, tahun 2018 diproyeksikan mencapai 17 miliar dollar AS dan tahun 2019 mencapai 20 miliar dollar AS.

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara juga menunjukkan angka terus melejit. Di tahun 2015 sebanyak 9,7 juta, tahun 2016 menjadi 11,5 juta, tahun 2017 sebanyak 14 juta. Sementara di tahun 2018 saja, tercatat ada 15,8 juta wisatawan mancanegara datang ke Indonesia.

Pertumbuhan di sektor pariwisata diperkirakan akan semakin meningkat jika dibarengi pembangunan secara sistematis. Mengenai hal ini, di tahun 2019 silam, Arief Yahya yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pariwisata telah menggalakkan transformasi menuju pariwisata 4.0.

Dan secara khusus, Arief Yahya berpendapat bahwa kunci pengembangan pariwisata di Indonesia adalah sumber daya manusia (SDM). 

Arief menyebutkan ada lima strategi besar untuk mencapai pariwisata 4.0 yakni: Strategic Theme: Wonderful Indonesia Digital Tourism 4.0; Strategic Imperatives for Transforming Tourism HR to Win Global Competition in Industry 4.0; 5 Technology Enabler; 9 Key Initiatives for Discipline Executions; dan Pentahelix Collaboration Approach.

Dia berharap lima strategi ini dapat menjadi arah kebijakan dan pengembangan SDM pariwisata dalam jangka pendek dan menengah. Targetnya, program SDM ini bisa melibatkan unsur akademisi, industri, pemerintah, komunitas, dan media. 

Memang, memasuki tahun 2020 dan 2021 ada pelambatan akibat pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Penutupan sementara di semua destinasi wisata selama pemberlakuan PPKM Darurat adalah salah satu contoh penyebab pelambatan tersebut. 

Meski demikian, pasca pandemi diprediksi kecenderungan pertumbuhan ke arah positif akan kembali terjadi.  Di sisi lain, Masa pandemi justru menjadi momen penting untuk melakukan pembenahan dan pembangunan. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Sandiaga Uno mendukung penuh penutupan sementara semua destinasi wisata dalam rangkan menghentikan laju penyebaran Covid-19.

Namun di sisi lain, ia juga menggalakkan berbagai program pemulihan ekonomi, seperti Work From Bali, pembukaan Bali Kembali, Wisata Vaksin di Bali, Travel Corridor Arrangement, dan beberapa event wisata yang disesuaikan dengan situasi pandemi.

Ia juga mendorong para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif untuk dapat memanfaatkan digitalisasi. Bukan hanya sebatas berjualan online, tetapi juga menciptakan konten-konten kreatif.

Pariwisata Tapanuli Utara  

Di tengah dinamika sektor pariwisata Indonesia, sejumlah tokoh masyarakat dan pemerhati pariwisata di Tarutung, Tapanuli Utara bebarapa waktu silam berkumpul melalui Webinar bertajuk “Quo Vadis Kota Wisata Rohani Tarutung?” pada Jumat 11 Juni 2021 silam. 

Acara tersebut diselenggarakan secara khusus oleh Yayasan Bisukma Bangun Bangsa dan Komunitas Taput Harus Hebat (THH) melalui kerja sama dengan Pemkab Tapanuli Utara dan Kantor Pusat Gereja HKBP Tarutung. 

Hadir sebagai pembicara antara lain Ephorus HKBP Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Wakil Bupati Tapanuli Utara Sarlandi Hutabarat SH, Agoes Tinus Lis Indrianto PHd (Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya), Dr. Bambang Soetanto, MM ( Mantan Dirut TMII ), Dr.  Paul Lumbantobing (Dosen Program Doktor Riset Manajemen Universitas Pelita Harapan), Mantan Bupati Tapanuli Utara, Dr. RE Nainggolan, Dr. Erikson Sianipar (Founder Yayasan Bisukma Bangun Bangsa ), Simion Harianja (Dosen Institut Agama Kristen Negeri), Pastor Merdin Sitanggang (Pastor Paroki St Maria Tarutung), serta didukung pula oleh Dharma Hutauruk (Taput Harus Hebat) dan Sahat Simorangkir (Perumus) dengan Moderator Pdt. Irvan Hutasoit, M.Th. 

(Bisukma menggelar Webinar dengan tema “Quo Vadis Wisata Rohani Tarutung”)

 

Erikson Sianipar mewakili Host memaparkan bahwa sektor pariwisata memiliki kontribusi relatif besar dalam membangun ekonomi Indonesia. Oleh sebab itu, pembangunan Pariwisata Tapanuli Utara  harus dirumuskan dengan  baik.

Setidaknya ada  4 (empat) hal yang perlu ditransformasi dalam  pengelolaan  pariwisata di Tapanuli Utara, yaitu: Sumber Daya Manusia (SDM), Budaya,  Tata Kelola Pariwisata (SOP, regulasi), hingga masalah infrastruktur. 

“Bisukma dan THH memberi  perhatian khusus tentang bagaimana kesiapan Tapanuli Utara untuk menghadapi tantangan tersebut,” imbuh Erikson saat menjelaskan mengapa webinar yang diselenggarakan Bisukma mengambil tema “Quo Vadis Kota Wisata Rohani Tarutung?”

Kawasan Wisata Tarutung

Bicara mengenai pariwisata di Tapanuli Utara, maka tak bisa dilepaskan dari keberadaan Kota Wisata Rohani Tarutung. Jika kita melakukan search engine dengan keyword “Wisata Rohani” maka Kota Wisata Tarutung akan tampil pada halaman pertama . 

“Ini memberi indikasi sekaligus menjadi peluang , dengan banyaknya keinginan orang dari berbagai tempat untuk mengetahui tentang kota wisata rohani Tarutung,” demikian Erikson Sianipar menyemangati peserta webinar. 

Wakil Bupati Tapanuli Utara, Sarlandi Hutabarat secara khusus membenarkan bahwa sektor pariwisata unggulan di Tarutung adalah Kawasan Wisata Salib Kasih yang secara legal telah memiliki payung hukum.

“Kawasan Wisata Salib Kasih sudah mendapat payung hukum melalui keputusan menteri dan sejumlah peraturan daerah sehingga secara legal sudah kuat keberadaannya sebagai Kawasan Wisata Rohani di Tarutung,” papar Wakil Bupati Tapanuli Utara, Sarlandi Hutabarat.

“Kawasan Wisata Rohani Tarutung dibagi dalam 5 zona yakni zona komersial, zona sejarah, zona rekreasi dan permainan, zona ibadah, serta zona taman margasatwa," tandas Sarlandi.

Peran Nommensen

Lebih jauh lagi, jika kita bicara tentang sebutan “wisata rohani” maka kita tak bisa melepaskan catatan sejarah tempat-tempat di mana dahulu Misionaris Protestan pertama bergumul selama hidupnya dengan masyarakat Tapanuli Utara (suku Batak). 

Misionaris tersebut bernama Ludwig Ingwer Nommensen (biasa disebut juga Ingwer Ludwig Nommensen atau IL Nommensen). Ia berasal dari Nordstrand, Denmark (kini Jerman). 

Tahun 1863, berhasil menembus lebatnya hutan belantara Pulau Sumatera. Pemuda kelahiran 6 Februari 1834 bukan hanya menyebarkan agama Kristen Protestan bagi suku Batak, Sumatera Utara, tetapi di kemudian hari ia juga terbukti berhasil membawa pencerahan.

Ia mendirikan gereja, merintis pendirian sekolah modern, menyelenggarakan pendidikan guru penginjil, membangun rumah para pendeta, dan membangun tempat pengobatan yang kemudian disebut Pargodungan.

Totalitas pengabdiannya tercermin dalam doanya di Lembah Silindung, “Hidup atau mati di tengah-tengah bangsa yang telah Kau tebus inilah saya akan tinggal dan memberitakan firmanMu.”

Sementara dalam kesempatan lain, saat ia berada di Huta Dame, Nonmmensen pernah mengatakan: “Saya hendak mendirikan rumah di tengah-tengah kalian dan akan mengajar setiap orang yang ingin pandai dan berbahagia”.

Nommensen meninggal pada tanggal 23 Mei 1918, pada umur 84 tahun. Ia kemudian dimakamkan di Sigumpar, di tengah-tengah suku Batak, setelah bekerja demi suku ini selama 57 tahun lamanya.

(Ilustrasi Misionaris IL Nommensen, Foto: Dok. Ephorus HKBP)  

 

Gereja HKBP Simorangkir bersama pemerintah setempat kemudian mendirikan sebuah monumen peringatan. Disusul kemudian pada 1985, rombongan pemuda Kristen dari  Nordstrand, desa asal Nommensen yang dipimpin oleh Pdt. Heuck dari Gereja Jerman Nordstrand membangun sebuah salib di Bukit Siatas Barita. 

Salib tersebut menjadi tanda bahwa hingga kini jemaat Jerman dari desa asal Nommensen ikut mengingat pelayanan firman dari seorang warga jemaat mereka di abad 19 di Tanah Batak (Lahir, Berakar dan Bertumbuh di dalam Kristus, Dr J.R. Hutahuruk, HKBP2011, 45-46).

Tak berlebihan bila jejak perjalanan Nommensen kemudian menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya pandangan masyarakat bahwa Kota Tarutung layak mendapat julukan sebagai “Kota Wisata Rohani.”

Julukan tersebut sebenarnya memiliki makna dan konsekuensi yang tak semudah memberikan label di atas kertas. Ada pesan spiritualitas yang dalam di balik sebutan itu. 

“Kota Wisata Rohani Tarutung memiliki makna sejarah tentang Jalan Tuhan di Tanah Batak. Misi Misionaris Nommensen bukan sekadar penyebaran agama tapi merupakan wujud pelayanan  holistik yang meliputi Gereja sebagai sumber  spiritualitas, sekolah sebagai sumber kepintaran, rumah sakit sebagai wujud menghidupi kesehatan, dan bangunan atau rumah sebagai persekutuan keluarga,” kata  Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Robinson Butarbutar.

Lebih jauh, Ephorus HKBP mengungkapkan bahwa di Tanah Batak, Firman Tuhan sudah ditanam dan semestinya bisa menjadi berkat bagi dunia.

“Di Tapanuli Utara, Firman Tuhan telah ditanam, Firman Tuhan sudah bertumbuh, Firman Tuhan sedang berbuah, dan semestinya menjadi berkat bagi dunia,” kata Ephorus.

“Untuk menjadi berkat bagi dunia, perlu saling menopang. Gereja harus menguatkan spiritualitas dalam kehidupan warga, masyarakat menjadi pemelihara budaya dan menjaga lingkungan yang aman, pemerintah memenuhi ketersediaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, dan pemenuhan regulasi, ormas harus membantu mengedukasi dan memberdayakan warga, pegiat usaha peduli pemberdayaan ekonomi dan promosi, serta lembaga pendidikan mendukung dalam penelitian pengembangan wisata dan edukasi,” tandas Ephorus. 

Agar Mendunia

Wisata Tarutung menyajikan objek mulai dari bangunan bersejarah, lokasi bersejarah, kisah sejarah, tradisi, bahasa, keindahan alam, air soda, hot spring hingga kuliner. Semua itu  menjadi satu-kesatuan yang hendaknya dikembangkan sebagai objek wisata secara holistik. 

“Selain identik dengan wisata rohaninya, tak bisa diragukan bahwa Tarutung merupakan The Beautiful Land di Sumatera Utara. Didukung pula oleh wisata Rura Silindung, pemandangan gunung dan sungai yang indah, hingga wisata Air Soda Parbubu,” kata Mantan Bupati Tapanuli Utara 1999-2004 dan Sekda Provinsi Sumatera Utara periode 2008-2010, RE Nainggolan. 

“Potensi sumber dayanya unik  sehingga bila dikelola secara terpadu akan mendunia,” imbuh RE Nainggolan.

Senada dengan RE Nainggolan, Pendiri Yayasan Bisukma Bangun Bangsa, Erikson Sianipar juga menggarisbawahi bahwa bila wisata Tarutung dikelola secara terencana dipastikan akan memberikan kontribusi besar bagi pendapatan daerah Tapanuli Utara.

“Potensinya sangat besar dan pengelolaannya sebenarnya tidak sulit mengingat Wisata Rohani Tarutung memiliki kondisi demografis dengan homogenitas yang tinggi,” kata Erikson Sianipar saat bicang-bincang dengan Netralnews di luar Webinar, Selasa 13 Juli 2021. 

(Visi Tarutung sebagai Kota Wisata Rohani, Dok: Ephorus HKBP)

 

Wisata Rohani Tarutung saat ini telah didukung juga dari sisi accessibility yang mudah. Sudah ada bandara udara Internasional Silangit sehingga waktu tempuh menuju Tarutung cukup hanya 40 Menit.

“Nah, untuk memaksimalkan potensi Wisata Rohani Tarutung, setidaknya  ada beberapa persoalan yang harus diperjelas antara lain soal positioning Kota Wisata Rohani Tarutung ada di mana, problem aset sejarah yang belum terdokumentasi dengan lengkap,  adanya persoalan perilaku yang tidak mencerminkan nilai spiritual, infrastruktur jalan belum ideal, ketersediaan jaringan internet, air bersih, dan spot-spot wisata pendukung,” terang Erikson.

Dalam mengatasi persoalan tersebut tentunya dibutuhkan kerjasama yang baik antara segenap unsur masyarakat di Tapanuli Utara khususnya.

“Perlu dibentuk team work atau tim khusus transformasi  menuju Kota Destinasi Wisata Rohani Dunia yang  Terpadu  seperti yang diharapkan.  Oleh sebab itu, dari Pemkab Tapanuli Utara, Gereja, akademisi, media, pengusaha harus bahu-membahu. 

Menetapkan Calendar of Event Wisata Tahunan yang menjadi salah satu magnet untuk mendatangkan banyak wisatawan. 

“Dengan kolaborasi bersama, didukung investasi yang baik, serta ditopang tata kelola yang profesional dan berintegritas, kita  yakin Kota Tarutung benar-benar menjadi Kota Wisata Rohani bagi dunia,” tandas Erikson.

Kota Rohani, Didiami Orang Rohani?

Persoalan lain yang tak bisa diremehkan lainnya menurut Erikson Sianipar adalah faktor kultural masyarakat di Tapanuli Utara. 

Beberapa bulan yang lalu, Tarutung menjadi sorotan publik sebab kota yang identik sebagai Kota Wisata Rohani dengan simbol Salib Kasih yang megah berdiri di Bukit Siatas Barita ternyata ditemukan fenomena ironis.

Suasana religius mulai terusik dengan maraknya praktik judi toto gelap (togel) di tengah-tengah masyarakat Tapanuli Utara. Muncul pula berbagai lapo (warung kopi-red) yang ramai pengunjung yang di sana-sini asyik membahas bagaimana bisa tembus nomor jitu togel. 

Ini hanyalah salah satu contoh bagaimana pemandangan ironis mulai menggejala di tengah identitas Tarutung sebagai Kota Wisata Rohani. 

Sebab, percakapan seputar togel dalam pergaulan sehari-hari sebagian masyarakat Tarutung sudah cukup menjadi indikasi berbahaya adanya perikehidupan yang ditopang oleh pola pikir, impian, dan harapan sejahtera seolah hanya bergantung pada menang undian togel.

Menjadi semakin kontras bila hal ini terus didiaman. Di satu sisi ingin menyuguhkan “Wisata Rohani” sebagai produk unggulan, namun di sisi lain justru disuguhkan oleh fenomena yang berbeda 180 derajat. 

Anggapan “masa bodoh” tak bisa dibiarkan sebab dengan sendirinya, fenomena tersebut juga akan menghancurkan citra aparatur, tokoh masyarakat, dan lambat laun bisa meruntuhkan cita-cita Tarutung sebagai Kota Wisata Rohani tingkat dunia.

(Quo Vadis Kota Wisata Rohani Tarutung? Dok: Bisukma)

 

Menanggapi fenomena tersebut, Dr. Ir. Paul Lumbantobing, M.Eng, Dosen Program Doktor Riset Manajemen Universitas Pelita Harapan mengajak semua pihak, khususnya masyarakat di Tapanuli Utara, agar mau bertanya diri, apa sebenarnya arti dari kota (Wisata) Rohani.

A culture is a society’s personality.  A culture of a city, is a city’s personality. City’s personality is accumulated by city’s history and collective values of its people. Kota rohani adalah kota yang didiami oleh orang-orang yang rohani,” papar Paul Lumbantobing.

“Disebut kota rohani namun ternyata masih terjadi rumah misionaris dikonversi menjadi bangunan baru misalnya rumah Bernhauser di Sigompulon, Pemakaman Misionaris di Pearaja dipugar ‘dengan kasar’ sehingga  identitas para martir jadi hilang, Museum HKBP tidak beroperasi, drainase tidak mengalir dan air minum kurang higienis, hingga persoalan adanya fenomena suara motor memekakkan telinga,” imbuhnya. 

Dari sisi kehidupan yang tak mencerminkan religiositas itulah, Paul Lumbantobing menyarankan adanya upaya serius untuk memulihkan Tarutung sebagai “kota rohani.”

“Kota Rohani berarti artefaknya rohani dan warganya secara kolektif harus bersifat rohani. Di dalamnya terdapat semacam lumbung manusia yang cinta dan takut akan Tuhan, jujur, berintegritas, serta menggarami dunia,” papar Paul Lumbantobing.

Sebagai masyarakat yang mayoritas Kristen Protestan, spiritualitas Protestan diharapkan juga mewujud dalam karya nyata.

“Etos kerja Protestan seharusnya membuat warga Tarutung memiliki sikap melayani tamu yang lebih kreatif. Dari sini semestinya bisa menjadi model pelayanan Pemkab Tapanuli Utara. Sebab, dalam Protestan, Kota Rohani adalah gambaran Kerajaan Allah, City of God. Maka siapapun yang berkunjung ke Tarutung seharusnya menikmati kehadiran dan kebaikan Kristus, serasa di tengah keluarga Allah,” pungkas Paul Lumbantobing.

Senada dengan Paul Lumbantobing, Dosen Institut Agama Kristen Negeri, Simion Harianja juga menggarisbawahi hakikat nilai Kristiani di dalam membangun Kota Wisata Tarutung. 

“Mau ke mana Tarutung sebagai wisata rohani? Arah pembangunan kota Tarutung hendaknya senantiasa berpegang teguh pada kekristenan. Kekristenan harus menjadi landasan pokok,” tegas Simion Harianja.  

Demikian halnya dengan Pastor Paroki St Maria Tarutung, Pastor Merdin Sitanggang, ia pun sepakat bahwa Tarutung sebagai kota wisata rohani jangan sampai kita justru menjadi “budak” untuk pariwisata, namun “kerohanian” yang harus menjadi tujuan dari pariwisata.  

Ia juga menegaskan arti penting Tarutung sebagai pusat HKBP. Secara umum dunia mengetahui bahwa Tarutung adalah pusat dari Kristen Batak. Maka, semua pihak harus ingat tentang nilai yang ditanamkan oleh tokoh pendiri HKBP. 

“Bukan hanya Salib Kasih, bukan Hanya Gereja Damai, tapi bagaimana kita semua sebagai pewaris dari Nommensen tetap mengenang, tetap mengikuti jejak dan cara hidup beliau, kita hidupi dan biasakan sebagai habitus dan akhirnya akan membentuk peradaban. Dalam hal ini, Gereja Katolik siap mendukung dan akan ikut membangun,” pungkas Pastor Merdin.  

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli