Netral English Netral Mandarin
08:58wib
Sebanyak 75,6 persen warga menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Joko Widodo secara umum dalam survei yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto minta lakukan peningkatan kapasitas tempat tidur untuk pasien Covid-19 di rumah sakit sebesar 30-40 persen.
Minta Otak Intelektual Bom Ditangkap, MUI Harap Tak Dikaitkan dengan Motif Ini

Minggu, 28-Maret-2021 18:22

Wakil Ketua Umum MUI, Buya Anwar Abbas,
Foto : Istimewa
Wakil Ketua Umum MUI, Buya Anwar Abbas,
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pihak keamanan seperti kepolisian lekas menindak pelaku sehingga terbongkar motif dan latar belakang pengeboman yang terjadi di depan Gereja Katedral Makassar.

“MUI meminta pihak aparat mencari dan menangkap pelaku dan atau otak intelektual dan pihak-pihak yang ada di balik peristiwa ini dan  membongkar motif dari tindakan yang tidak terpuji tersebut," ujar Wakil Ketua Umum MUI, Buya Anwar Abbas, Minggu (28/3/2021).

Dia meminta, kejadian ini tidak membuat orang-orang mendekatkan motif peledakan ini dengan ajaran agama maupun suku tertentu. Sebab, bila itu yang terjadi, maka akan memperuncing keharmonisan hubungan antaragama dan suku di Indonesia yang sudah lama terjalin. 

“MUI meminta supaya masalah ini jangan dikaitkan dengan agama dan atau suku tertentu di negeri ini, karena hal demikian akan membuat semakin rumit dan memperkeruh suasana," minta dia.

Lebih lanjut dia mengutuk aksi terorisme yang terjadi di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, pagi ini. Aksi terorisme itu menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kekhawatiran di masyarakat. 

"MUI mengutuk keras peristiwa (ledakan terorisme) pagi ini yang telah membuat ketakutan di tengah-tengah masyarakat dan telah membuat jatuhnya korban jiwa," ujar Buya Anwar.

Dia mengatakan, aksi terorisme seperti itu tidak bisa diberikan toleransi. Sebab, tindakan keji itu tidak manusiawi dan melanggar nilai ajaran agama manapun. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli