Netral English Netral Mandarin
14:25wib
TNI Angkatan Udara melayangkan permintaan maaf atas peristiwa kekerasan yang dilakukan dua oknum prajuritnya terhadap warga sipil di Merauke, Papua, Senin. Pemerintah Amerika Serikat kembali mengimbau kepada para penduduk dan pemukim kembali mengenakan masker guna mencegah infeksi virus corona (Covid-19) varian Delta.
Miris! Krisis Kemanusiaan di Yaman, Ade Armando: Semoga Dunia Bisa Hentikan Kebiadaban Arab

Kamis, 27-Mei-2021 09:40

Ilustrasi Anak-anak di Yaman dan Ade Armando
Foto : Kolase Netralnews
Ilustrasi Anak-anak di Yaman dan Ade Armando
18

LJAKARTA, NETRALNEWS.COM - Prihatin dengan kondisi rakyat Yaman yang membuat miris hati, Ade Armando menyuarakan haraoannya semoga dunia bisa hentikan kebiadaban Arab kepada rakyat Yaman. 

“Akibat gempuran Arab Saudi dan sekutunya, sudah 230 ribu rakyat sipil Yaman tewas. Semoga dunia bisa segera menghentikan kebiadaban Arab ini,” kata Ade Armando, 27 Mei 2021.

Sebelumnya diberitakan, Yaman tetap menjadi negara dengan krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Sebab, hampir 80 persen atau lebih dari 24 juta penduduk Yaman membutuhkan bantuan dan perlindungan kemanusiaan.

Kantor kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan lebih dari 13 juta orang penduduk Yaman berada dalam bahaya kelaparan hingga kematian.

Vanessa Huguenin, seorang petugas informasi publik di kantor Urusan Kemanusiaan PBB, dalam sebuah wawancara mengutip survei baru yang menunjukkan bahwa 16.500 orang hidup dalam kondisi seperti kelaparan, angka yang diperkirakan akan meningkat hampir tiga kali lipat pada Juni 2021.

"Secara keseluruhan, 13,5 juta orang di Yaman saat ini berisiko mati kelaparan atau berjuang untuk mendapatkan cukup makanan untuk memberi makan keluarga mereka di tengah konflik yang sedang berlangsung," terang Huguenin, mengutip survei oleh Integrated Food Security Phase Classification (IPC).

Survei tersebut, yang dikeluarkan oleh badan pangan PBB (FAO), mengatakan bahwa pada Juni 2021, jumlah ini mungkin telah meningkat sebesar 3 juta, yang berarti bahwa lebih dari separuh negara mungkin hidup dalam kelaparan akut.

"Mencegah kelaparan adalah prioritas utama saat ini. Setiap orang harus melakukan apa saja untuk mencegah kelaparan," ujar Huguenin, dilansir Cirebon.Pikiran-Rakyat.com dari Anadolu Agency pada Selasa, 12 Januari 2021.

"Kami sudah tahu bagaimana menghentikan kelaparan di Yaman, karena kami melakukannya dua tahun lalu ketika dunia memilih untuk ikut membantu," imbuhnya.

Ia mengatakan itu membantu menyelamatkan jutaan nyawa, termasuk puluhan ribu anak-anak dengan gizi buruk.

Huguenin menyatakan Covid-19 menjadi beban tambahan di Yaman pada sistem kesehatan mereka yang rapuh, di mana hanya sekitar 50 persen fasilitas yang berfungsi.

Hal itu menurutnya membuat penduduk enggan untuk mencari pengobatan untuk penyakit mereka, dan kondisi mematikan lainnya.

Kantor kemanusiaan mengatakan bahwa pada akhirnya, menyelesaikan krisis di Yaman akan membutuhkan solusi politik.

"Juga membutuhkan dukungan yang bisa diandalkan untuk ekonomi Yaman yang terpukul. Sementara itu, jutaan orang membutuhkan bantuan kemanusiaan agar bisa bertahan hidup," ucap Huguenin.

Dia mencatat kata-kata kepala kemanusiaan PBB Mark Lowcock saat memberi pengarahan kepada Dewan Keamanan di New York pada 11 November.

"Gencatan senjata nasional, seperti yang telah lama kami anjurkan, akan sangat membantu melindungi warga sipil," lanjutnya.

Hal itu juga akan membantu menghentikan kemerosotan menuju kelaparan, karena menurut data yang ada kelaparan terparah terjadi di daerah yang terkena dampak konflik.

Yaman telah dilanda kekerasan dan kekacauan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi yang berpihak pada Iran menguasai sebagian besar negara, termasuk ibu kota Sana'a.

Krisis meningkat pada 2015 ketika koalisi pimpinan Saudi meluncurkan kampanye udara yang bertujuan untuk mengambil kembali daerah teritorial yang dikuasai Houthi.

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, konflik di Yaman sejauh ini telah merenggut nyawa 233 ribu orang.

Pada 30 Desember tahun lalu, setidaknya 22 orang tewas dalam tiga ledakan yang mengguncang bandara di kota pelabuhan selatan Yaman, Aden, segera setelah anggota pemerintah yang baru dibentuk tiba di ibu kota sementara.

Dalam sebuah pernyataan Kementerian Dalam Negeri Yaman mengatakan sedikitnya 50 lainnya terluka dalam serangan tersebut.

Sementara anggota pemerintah Yaman selamat dari serangan itu tanpa cedera.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli