Netral English Netral Mandarin
05:11 wib
Polisi akan mengumumkan hasil gelar perkara kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan (prokes) dalam acara yang dihadiri oleh selebriti Raffi Ahmad pada Kamis (21/1). Komisi III DPR menyetujui penunjukan Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri, setelah mendengarkan pendapat fraksi-fraksi dalam rapat internal Komisi III DPR.
Misteri Bekas PG Jenar-Purworejo, Setiap Buka Usaha Disusul Kematian

Jumat, 08-January-2021 20:00

Misteri Bekas PG Jenar-Purworejo, Setiap Buka Usaha Disusul Kematian (Foto pabrik di masa Kolonial)
Foto : Tropenmuseum
Misteri Bekas PG Jenar-Purworejo, Setiap Buka Usaha Disusul Kematian (Foto pabrik di masa Kolonial)
13

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – Lokasi persisnya berada di Desa Plandi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. PG Jenar atau Pabrik Gula Jenar pernah berdiri megah setidaknya  selama beberapa puluh tahun.

Dalam kajian Lengkong Sanggar Ginaris Mahasiswa S2 Ilmu Arkeologi, FIB, Universitas Gadjah Mada berjudul Permukiman Emplasemen Pabrik Gula Purworejo (1910-1933), ternyata di bekas PG Jenar ini menyisakan banyak misteri.

PG Jenar sendiri berdiri pada 1910 seiring zaman keemasan Pemerintah Kolonial Belanda di Tanah Jawa. Di abad 20 adalah masa dimana puncak kejayaan kolonial. Pembangunan di mana-mana setelah jalur transportasi, terutama kereta api “mengalungi” pulau Jawa.



Purworejo sendiri di masa itu masuk dalam Karisednan Kedu di mana hanya ada dua pabrik gula yakni di Jenar dan Permbun (sekarang masuk Kabupaten Kebumen).

Menurut jurnal dagang De Indische Mercuur, "N.V. Suikeronderneming Poerworedjo" seperti dikutip Lengkong, secara resmi dibentuk pada 4 Desember 1908 dan merupakan perusahaan hasil patungan antara dua perusahaan, Patijn van Notten Co. dan Wurfbain Son.

Dewan direksi pertamanya terdiri dari S.C. van Musschenbroek (mantan pejabat Nederlandshce Handel-Maatschappij), F.M. Delfos, Ph. L. von Hamert, Abram Muller, J.W. Ramaer, Jam A. R. Schuurbeque Boeye, dan mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jhr. C. H. A. van der Wijck.

Pabrik ini kemudian beroperasi setidaknya hingga tahun 1933. Tidak jelas secara pasti apa yang menyebabkan pabrik gula ini kemudian tutup di tahun 1933. Dalam penelusuran Netralnews, justru mendapat  pernyataan salah satu narasumber di lokasi bekas pabrik gula yang justru berbeda.

Dalam memori Suparman (67), ia masih ingat bahwa kedua orang tuanya pernah menceritakan secara detail bagaimana gambaran Pabrik Gula Jenar. Menurutnya, pabrik tersebut baru berhenti beroperasi  saat proklamasi kemerdekaan.

“Ibu saya dahulu mengasuh anak-anak Tuan Suzenaar, salah satu pemilik pabrik gula. Bahkan putranya sendiri yang pernah diasuhnya, pernah datang kemari. Hingga kini saya masih selalu komunikasi dengan beliau,” tutur Suparman.

Dalam ingatannya, pabrik gula tersebut telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak karyawan yang mayoritas berasal dari daerah Yogyakarta.

“Mayoritas berasal dari Yogyakarta. Mereka tinggal di konpleks karyawan. Di sebelah Utara para pejabat tinggi dan di bagian selatan, pejabat rendahan,” kata Suparman kepada Netralnews, Kamis (7/1/21).

“Pabrik ini terus beroperasi hingga peristiwa proklamasi. Pihak Belanda tidak ikhlas wilayah pabrik gula diambil alih pasukan repubublik, maka sebelum ditinggalkan kemudian dibom oleh mereka. Semua dihancurkan tapi ada yang masih berdiri. Tiga rumah pegawai rendahan dan satu rumah dinas,” imbuhnya.

Dalam kesaksian Suparman, bekas pabrik gula yang menghampar di area sekitar 85 hektar ternyata sangat angker.

“Di bekas wilayah pabrik gula banyak sekali kejadian aneh. Bahkan, setiap orang yang pernah membuka usaha di lokasi ini tak lama kemudian meninggal,” katanya.

Rupanya, setelah pabrik gula tutup, di area ini pernah berdiri pabrik penggilingan padi, pabrik tekstil, hingga kayu. Semuanya tak berumur panjang.

“Saat pabrik tekstil dibangun, empat karyawan meninggal. Ada yang terjatuh dan ada yang kecelakaan. Pemiliknya sendiri tak lama kemudian meninggal juga,” tutur Suparman.

Suparman sendiri berulang kali mengalami kejadian mistis.

“Saat mengolah lahan sawah bekas pabrik gula, mesin traktor melompat. Ternyata di bawah lumpur ada beton sisa makam. Anehnya, malam harinya saya kedatangan tamu sosok arwah yang mengaku jasadnya dikubur di makam beton di sawah yang saya garap,” kenang Suparman.

Sosok itu mendatangi rumahnya, mengetok pintu dan menyatakan dirinya sebagai orang Yogyakarta yang dikubur hidup-hidup oleh orang Belanda.

“Di zaman itu, banyak orang yang jika dinyatakan melanggar aturan dihukum mati dengan dikubur hidup-hidup dalam adonan semen dan dicor. Bisa masuk dalam beton pondasi bangunan. Tujuannya, agar yang lain jera tak melanggar peraturan. Kan di zaman itu banyak kerja paksa, kerja Rodi,” tutur Suparman.

Pengakuan serupa juga disampaikan oleh Wignyo Mulyono (63), seorang penggarap sawah yang dulu juga menjadi wilayah pabrik gula.

“Saya pernah diminyta tinggal di rumah di area pabrik gula, tapi saya tolak. Istri saya juga tidak mau. Terlalu banyak gangguannya, Mas,” kata Wignyo.

“Saya pernah melihat sendiri, saat membangun sumur, tiba-tiba muncul potongan tangan dan bergerak. Sontak membuat geger karyawan penggilingan. Saat itu masih ada usaha penggilingan (setelah pabrik gula tutup, red),” imbuhnya.

Dalam pandangan penulis, kisah-kisah misteri dan fenomena gaib yang diungkap dua warga yang kini tinggal di kawasan bekas PG Jenar adalah jejak dan memori masa lalu yang terkubur di balik keemasan pabrik gula hingga keruntuhannya.

Bisa jadi, benar adanya bahwa praktik tanam paksa masih tetap dijalankan di masa pembangunan pabrik dan telah memakan korban jiwa bagi masyarakat pribumi yang posisinya serba lemah dan tak berdaya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto