Netral English Netral Mandarin
04:50wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
Misteri di Balik Senyum dan Tak Pernah Marah Soeharto, Kejam?

Selasa, 08-Juni-2021 17:41

Mantan Presiden RI, Soeharto
Foto : Intisari
Mantan Presiden RI, Soeharto
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Bagi kalian yang masa hidupnya pernah merasakan masa pemerintahan Presiden Soeharto, pasti memiliki kenangan yang hampir sama. 

Beliau adalah sosok yang murah senyum dan jarang ada liputan wartawan mampu merekam  bagaimana ia marah. Hanya satu atau dua wartawan pernah merekam peristiwa peristiwa langka itu. 

Meski demikian, di balik senyumnya, ia ternyata juga disebut-sebut sejumlah sejarawan terlibat dalam aksi kekejaman. 

Soeharto Marah

Dalam kesaksian sejumlah wartawan, Soeharto pernah terekam sempat marah usai acara jumpa pers dengan Perdana Menteri Australia Malcolm Fraser. 

Mendadak, aparat militer berbaju preman mengejar rombongan wartawan. Satu per satu wartawan yang hadir dalam jumpa pers di peternakan Tapos, yang terletak di kaki Gunung Salak, Jawa Barat, itu dimintai keterangan. 

Semua mendapat pertanyaan yang sama, "Siapa wartawati yang bertanya tadi?" Demikian catatan menurut  Dudi Sudibyo, salah satu wartawan foto Harian Kompas yang saat itu ikut hadir di Tapos. 

“Tak seorang pun yang menyebut nama wartawati itu. Padahal semua tahu yang tanya itu Annie Bertha Simamora, wartawan Sinar Harapan, yang duduk sederet dekat saya,” ujar Dudi seperti dilansir detikx.com. 

Rupanya, Annie sempat menyampaikan pertanyaan jahil sebelum kunjungan Malcolm Fraser. Ia melontarkan pertanyaan “Apakah bantuan sapi itu untuk peternakan Tri-S di Tapos atau untuk negara?”

Uniknya, kemarahan Soeharto tak satupun tahu sebab saat ia menjawab pertanyaan tersebut, ia tetap dengan kebiasaannya yakni murah senyum dan menjawab santai tanpa ada raut amarah di wajahnya.

Namun Dudi, sebagai orang Jawa paham kalimat yang diucapkan Soeharto berbeda, "Dari kalimat yang dia pakai untuk menjawab, meski tuturnya halus khas orang Jawa, kami tahu Bapak (Soeharto) marah," ujar Dudi saat menceritakan peristiwa yang terjadi pada 10 Oktober 1976 itu.

Tapos merupakan bekas perkebunan N.V. Cultuur Maatschappij Pondok Gedeh. Hak guna usaha kawasan ini kemudian dialihkan ke Perusahaan Negara Perkebunan XI saat masa nasionalisasi perusahaan Belanda pada 1957. 

Namun, pada 1973, berdiri PT Rejo Sari Bumi (RSB), yang dipimpin putra kedua Presiden Soeharto, Sigit Harjojudanto. HGU kemudian dialihkan ke perusahaan itu.

Masih terkait Tapos dan kemarahan Soeharto.  Dalam catatan wartawan senior Toeti Kakiailatu menuliskan pengalaman terkait Tapos lainnya dalam artikel di buku 34 Wartawan Istana Bicara tentang Pak Harto. 

Alkisah, sekitar tahun 1974, Soeharto mengundang banyak wartawan ke Tapos, termasuk Toeti, yang waktu itu meliput untuk harian Pelopor Baru. 

Saat acara, Soeharto mengajak juga putra ketiganya, Bambang Trihatmodjo.  Di akhir acara, Soeharto mendadak memerintahkan semua ajudannya mencari seorang wartawati. 

Rupanya wartawati itu dianggap lancang karena telah membuat Bambang Trihatmojo tersinggung dan mengadu ke ayahya usai ditanyakan, "Anda masih muda kok sudah punya tanah seluas ini. Uangnya dari mana?" 

Kekejian dan Kebengisan

Lain lagi dalam catatan sejarawan Jess Melvin bila ditanya bagaimana catatannya tentang Soeharto. Ia sempat mengaku tidak menduga bahwa apa yang ia dapat saat melakukan penelitian tentang pembunuhan massal pasca G30S 1965 pada 2010 silam.

Kisah kekejian terhadap manusia terpapar jelas dari segepok dokumen yang berisi catatan tentang aktivitas militer di Aceh. Catatan itu seakan membuka kotak pandora tentang tragedi kelam pada 1965-1966 itu.

Peneliti Australia itu mencatat dan mengkonfirmasi temuan-temuannya itu. Hasilnya kemudian dijadikan buku berjudul "The Army and the Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder". 

Dalam bukunya Melvin berpendapat pembunuhan massal 1965-1966 di Indonesia bukanlah hasil aksi spontan rakyat yang marah terhadap PKI.

Dari dokumen sebanyak hampir 3.000 halaman tersebut, Melvin sampai pada kesimpulan bahwa pembunuhan massal 1965-1966 itu tersentralisasi secara nasional di bawah kendali pemimpin Angkatan Darat saat itu Mayor Jenderal Soeharto.

Dalam reportase Vindry Florentin seperti dilansir Tempo.co, Melvin menyatakan sudah banyak peneliti dan masyarakat Indonesia yang menduga peran militer dalam peristiwa ini. Namun tak ada bukti yang memperkuat keyakinan tersebut. Selain itu, selama 50 tahun terakhir, militer menyangkal terlibat.

Jess Melvin bukanlah satu-satunya sejarawan yang menyatakan bahwa Soeharto diduga kuat telah melakukan “genosida politik” saat mengambil alih kekuasaan dari tangan Soekarno. 

Lembaran sejarah di era 1965-1966 hingga kini seolah tak pernah berakhir dan selalu menjadi lembaran penuh kontroversi.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli