Netral English Netral Mandarin
08:02wib
Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) mengaku sudah menyelesaikan 24 masalah yang tertunda ke Badan Anti Doping Dunia (WADA). Pemerintah berencana memberikan vaksin Covid-19 booster pada masyarakat.
Misteri Penampakan Sosok Perempuan Pembawa Kendi, Terkait G30S PKI?

Jumat, 24-September-2021 17:15

Ilustrasi penemuan mayat di Bengawan Solo dalam Film Jembatan Bacem karya Yayan Wiludiharto
Foto : Istimewa
Ilustrasi penemuan mayat di Bengawan Solo dalam Film Jembatan Bacem karya Yayan Wiludiharto
22

SOLO, NETRALNEWS.COM – Bukan mahasiswa progresif  bila hari-hari menjelang lengsernya Presiden Soeharto tidak ikut turun ke jalan. Demo sudah menjadi kegiatan wajib di banyak kampus baik di Jakarta maupun di Solo.

Laksana menjelang sakratul maut, segala langkah Pemerintah dianggap salah oleh mahasiswa. Ukuran mahasiswa sederhana, bila sembako (sembilan bahan pokok) masih sulit di dapat di pasar dan harga masih selangit, berarti pemerintah masih gagal. 

Sementara nilai dolar terhadap rupiah telah meningkat dari ribuan menjadi belasan ribuan. Situasi ekonomi tak menentu.

Terbongkarnya tindak kekerasan dari pembunuhan hingga pemerkosaan warga Aceh yang dilakukan oknum militer Indonesia selama pemberlakuan DOM Aceh semakin menambah wajah buram pemerintahan Orde Baru. Mahasiswa menuntut perubahan.

Tak bisa dibendung. Massa mahasiswa tak hentinya menggedor benteng kekuasaan Soeharto. Gedung DPR diduduki mahasiswa dan disusul rangkaian kerusuhan, pembakaran mal dan pertokoan dan tidak kekerasan lainnya. Maka, tumbanglah Orde Baru pada 21 Mei 1998.

Di tengah hiruk pikuk aksi politik yang dilakukan mahasiswa dan masyarakat di masa reformasi, ada sepenggal kisah unik yang dialami Stefani (43).

“Lelah namun tetap semangat selama ikut demonstrasi kala itu. Rasanya sudah menjadi kewajiban mahasiswa untuk ikut menuntut perubahan. Namun, kelelahan itu ternyata masih bersambung dengan kejadian-kejadian misterius selama pulang dari aksi demo,” tutur Stefani kepada Netralnews, Kamis 23 September 2021.

Stefani yang kala itu masih duduk di semester 7 Fakultas Ilmu Sosial di salah satu  universitas di Solo mempunyai pengalaman misteri namun juga kental berbau politik.

“Tahun 1998, di masyarakat umum, masih tabu istilahnya membahas soal komunis dan PKI (Partai Komunis Indonesia, red). Hanya sejumlah mahasiswa yang berani membaca dan mempelajari rangkaian peristiwa kelam sejak malam berdarah 30 September 1965 yang disusul dengan pembunuhan terhadap banyak anggota PKI,” kata Stefani.

Stefani rupanya merupakan salah satu mahasiswi yang sering ikut bergabung dalam kegiatan penelitian sejarah seputar tragedi 1965.

“Alasannya sederhana. Saya ngekos di salah satu rumah yang pemiliknya dahulu merupakan rumah  kepala desa atau lurah setempat yang juga menjadi korban gonjang ganjing politik tahun 1965,” kata Stefani.

Selama indekos di rumah itu, Stefani ternyata berulangkali melihat penampakan misterius. Ia sering melihat penampakan sosok perempuan membawa kendi, penampakan genangan darah, teriakan perempuan menangis, hingga penampakan sosok leki-laki paruh baya di salah satu ruangan di rumah itu.

“Dari penelusuran yang saya lakukan, ternyata pemilik rumah joglo, pemilik rumah kos yang saya tempati merupakan Lurah. Ia juga seorang ketua Barisan Tani Indonesia (BTI). BTI kala itu dianggap sebagai organisasi afiliasi PKI sehingga Pak Lurah ikut diciduk,” kenang Stefani. 

“Saya sempat nangis waktu diceritakan bagaimana kejadian yang menimpa keluarga lurah tersebut. Kebetulan saya bertemu kerabat Pak Lurah. Dari situlah saya memperoleh kisahnya,” imbuh Stefani dengan wajah muram.

Sesuai penuturan Stefani, di suatu sore, Pak Lurah didatangi sejumlah tentara dan diminta ikut bersama para tentara. Sang istri lurah yang masih muda dan cantik serta sangat menyayangi suaminya lari tergopoh-gopoh.

Antara takut dan tak ingin ditinggal suaminya, ia  bawakan air kendi berisi teh kesukaannya. Pak Lurah langsung menenggak air kendi tersebut sampai habis. Pak Lurah sempat berpesan kepada istrinya agar jangan pergi ke mana-mana, tunggu sampai ia pulang.

Sang istri tahu bahwa di Jakarta ada kekacauan dan suaminya cepat atau lambat akan terkena imbasnya. Namun ia tak menyangka bahwa kepergian suaminya dijemput tentara adalah awal dari prahara kehidupan keluarga dan anak-anaknya.

Pak Lurah tak pernah kembali sejak pergi sore itu. Sesuai perintah suaminya, Sang Istri setia menunggu di rumah. Namun, hari demi hari situasi semakin tak menentu. Terdengar sejumlah orang anggota PKI telah dibunuh.

Hingga suatu malam, kebiadaban baru terjadi lagi. Sekitar pukul 22.00, rumah istri lurah digedor sejumlah pria beringas. Empat pria masuk. Salah satu pria membawa samurai berlumuran darah dan di bajunya banyak bercak darah.

Istri Pak Lurah gemetaran. Keempat pria memaksa dilayani semua permintaanya  dengan ancaman jika tak menuruti, suaminya akan dibunuh. Istri Pak Lurah tak kuasa dan tak berdaya. Semua harga dirinya direnggut keempat pria secara bergiliran.

Keempat pria beringas dikabarkan merupakan para algojo yang ditugaskan untuk mengeksekusi mereka yang dituduh anggota PKI. Istri Pak Lurah dianggap sebagai “hadiah” usai menjalani aksinya.   

Ternyata peristiwa malam itu terus berulang di malam-malam berikutnya. Dalam ketakutan dan kesendiriannya, istri Pak Lurah semakin terpukul dan depresi. Tak ada tetangga yang datang sekadar bertanya apa yang dialami apalagi membantu. Boro-boro tetangga, kerabatnya saja ketakutan kalau sampai disebut terkait dengan BTI atau PKI.

“Istri Pak Lurah lama kelamaan mengalami depresi hebat. Ia tak mau makan minum dan badannya semakin hari semakin kurus. Hanya perutnya saja yang membengkak namun bukan karena hamil. Beruntung 3 anaknya yang masih kecil kemudian diambil dan diasuh saudaranya. Dalam kepedihannya dan menunggu suaminya tak kunjung pulang, istri Pak Lurah kemudian meninggal,”tutur Stefani.

Mengenai Pak Lurah, hingga istrinya meninggal, keberadaannya juga tidak diketahui di mana. Ada kabar samar-samar bahwa Pak Lurah sempat ditahan di Balai Kota kemudian tak lagi diketahui.

“Ada yang menyebutnya kemungkinan ikut dalam rombongan yang ‘dibon’ lalu dibunuh dan jasadnya dibuang di Bengawan Solo sehingga tak pernah ditemukan jasadnya hingga kini,” kata Stefani.

“Itu sepenggal kisah yang saya peroleh dari kerabat Pak Lurah. Kisah itu nyata namun yang saya alami di kos-kosan adalah kisa berbau misteri. Sebab, saya tak hanya sekali tapi sering melihat penampakan sosok perempuan berbaju putih membawa kendi di malam hari. Ia sering berjalan dari dapur ke arah depan rumah namun saat saya pergoki, tak ada seorang pun. Kejadian sering di atas jam 00.00,” tutur Stefani.

“Pernah saat saya lelah pulang dari demo, sekitar pukul 21.00, muncul juga suara tangisan perempuan dari arah ruang dapur. Saat saya datangi tak ada siapapun,” imbuh Stefani.

Namun, Stefani tak berani menyimpulkan bahwa sosok misterius yang menampakkan diri dan dilihatnya dipastikan terkait dengan Pak Lurah dan istrinya yang menjadi korban dalam rangkaian tragedi 1965.

“Saya tak bisa menjawabnya. Sampai saya wisuda, pertanyaan di balik pengalaman misterius itu tak pernah terjawab. Saya hanya menyimpannya sebagai kenangan saat muda. Bersyukur pernah mengalami masa reformasi dan juga mengalami kejadian mistis,” pungkas Stefani. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto