Netral English Netral Mandarin
23:30wib
BMKG menyatakan gempa yang terus berlangsung di wilayah Ambarawa Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga merupakan jenis gempa swarm dan perlu diwaspadai. Sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, mengeluhkan soal aplikasi PeduliLindungi serta harga tes PCR yang dinilai mahal.
Moderasi Beragama untuk Mencari Titik Temu Antara Kelompok Ekstrem dan Lunak

Jumat, 08-Oktober-2021 21:00

Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas
Foto : Istimewa
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas
4

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan pentingnya toleransi dan moderasi dalam memperkuat negara bangsa.

Menurutnya, moderasi dan toleransi secara subtansi tidak jauh berbeda yang bertujuan mengarahkan perilaku beragama umat beragama di Indonesia untuk berada di jalur tengah atau moderat.

Hal itu disampaikan Menag saat menjadi pembicara dalam gelaran Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP) Angkatan 9 Sekolah Pemimpin Muda Indonesia secara daring, Kamis (7/10/2021).

"Kita akui ada fakta dalam kehidupan sehari-hari ini, ada orang yang memaknai agama itu di satu sisi sangat ekstrem dengan tidak mentolelir orang yang berbeda keyakinan agama dengannya," kata Menag seperti dikutip dari laman Kemenag.

"Bahkan dengan jamak, kita temukan orang dengan mudah mengatakan bahwa orang yang berbeda dengannya itu dianggap musuh dan oleh karena itu harus diperangi secara ideologi dan politik," sambungnya.

Di sisi lain, lanjut Menag, ada juga sekelompok orang yang skeptis dengan agama dan merasa tidak perlu lagi ada agama. Kelompok ini memandang agama sebagai jalan buntu daripada jalan keluar. 

"Nah, Moderasi Beragama mencari titik temu antara kelompok yang sangat ekstrem dan kelompok yang sangat lunak itu. Keduanya dipertemukan di tengah sehingga mereka merasa bahwa agama itu sangat penting dan perlu," ujarnya.

Menurut Gus Yaqut, sapaan akrab Menag, seorang umat beragama boleh berkeyakinan kuat dan merasa agamanya paling benar. Di saat yang sama ia mesti menghargai keyakinan orang yang berbeda agama dan keyakinan dengannya.

"Hal begini tidak bisa disampaikan hanya dengan cara-cara konvensional dan harus beradaptasi. Di Kemenag kami sudah melakukan banyak langkah dalam melakukan transformasi digital atas pelayanan yang dilakukan secara konvesional. Termasuk mengkampayekan moderasi beragama melalui sebuah aplikasi yang dalam waktu dekat ini akan diluncurkan," paparnya.

Dengan upaya ini, tambah Gus Yaqut, umat beragama akan bisa menjalani kehidupan beragama lebih baik dari sebelumnya. “Poinnya, di dalam dunia yang bergerak dengan cepat dan terus mengalami perubahan, kita sudah dituntun ke arah adaptasi dalam menyampaikan gagasan moderasi beragama,” tegasnya.

Selain Moderasi Beragama, dalam forum tersebut, Gus Yaqut juga memaparkan kemandirian pesantren yang masuk dalam program prioritas Kementerian Agama. Peran pemuda dalam menyongsong masa depan bangsa juga tidak lepas dari perhatian Menag Gus Yaqut. 

"Pemuda adalah masa depan dan masa depan itu adalah pemuda. Pemuda hari ini akan menentukan masa depan. Pemuda sekarang harus tangguh dan memiliki kemampuan dalam menghadapai tantangan yang jauh lebih sulit kedepannya. Pemuda menjadi tulang pungung bangsa," pungkas Menag.

Diketahui, Hadir dalam gelaran webinar Course Leader Kader Bangsa Fellowship Program, Dimas Oky Nugroho dan jajaran.Webinar ini juga diikuti ratusan peserta yang berasal dari tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pimpinan organisasi kepemudaan. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wahyu Praditya P