Netral English Netral Mandarin
01:23wib
Dua laga babak 16 besar Euro 2020 (Euro 2021) sudah diketahui dengan mempertemukan Italia vs Austria dan Wales vs Denmark. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) khawatir rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya kolaps di tengah lonjakan kasus Covid-19.
Muannas ke Novel Baswedan: Takut Hilang Jabatan Jangan Pakai Istilah Disingkirkan

Senin, 17-Mei-2021 13:00

Novel Baswedan
Foto : Istimewa
Novel Baswedan
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid mengomentari cuitan penyidik senior KPK Novel Baswedan yang menyebut tes wawasan kebangsaan (TWK) adalah alat untuk menyingkirkan 75 pegawai KPK yang kritis dan berintegritas.

Menurutnya, Novel Baswedan tak perlu menggunakan istilah 'disingkirkan' padahal sebenarnya takut kehilangan jabatan di KPK.

"Takut hilang jabatan jangan pakai istilah disingkirkan," tulis Muannas di akun Twitternya, @muannas_alaidid, Minggu (16/5/2021).

Sementara soal pernyataan Novel bahwa pegawai KPK yang mau disingkirkan adalah mereka yang kritis, Muannas berpendapat bahwa sikap kritis bisa di lakukan di manapun tanpa harus menduduki jabatan tertentu.

"Jabatan itu amanah dan titipan, kalau niatnya kritis bisa di luar," kata politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu.

Lagipula, lanjut Muannas, kritis dan integritas itu lebih tepat disematkan kepada orang-orang bersih, bebas kasus, dan berani bertanggung jawab atas tuduhan kriminal pembunuhan yang disangkakan padanya.

Diduga pernyataan Muannas itu terkait kasus dugaan penganiayaan pencuri sarang burung walet di Bengkulu pada 2004 silam yang menyeret Novel Baswedan.

Dalam kasus tersebut, Novel yang saat itu berdinas di Polres Bengkulu, dinilai tak bertanggung jawab atas kasus pencurian sarang burung walet yang mengakibatkan kematian maupun cacat permanen terhadap pelaku.

"Mereka yang kritis dan berintegritas itu hanya bisa disematkan kepada orang bersih, bebas kasus, dengan berani bertanggungjawab atas tuduhan kriminal pembunuhan yang disangkakan padanya," ungkap Muannas Alaidid.

Sebelummya diberitakan, sebanyak 75 pegawai KPK termasuk Novel Baswedan dinonaktifkan karena tidak lolos TWK. Hal itu berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan KPK Nomor 652 Tahun 2021.

SK itu berisi tentang penetapan keputusan pimpinan KPK atas hasil asesmen TWK yang tidak memenuhi syarat dalam rangka pengalihan pegawai KPK menjadi ASN.

Dalam surat tersebut, pegawai KPK yang tidak memenuhi syarat diminta untuk menyerahkan tugas dan tanggung jawabnya kepada atasan langsung sampai ada keputusan lebih lanjut.

Mengomentari hal itu, Novel Baswedan menilai, TWK adalah alat untuk menyingkirkan 75 pegawai KPK yang kritis dan berintegritas. Bahkan, ia berpendapat bahwa tes wawasan kebangsaan merupakan upaya terakhir untuk mematikan KPK.

"TWK alat untuk singkirkan 75 pegawai KPK yang kritis & berintegritas. Ini upaya terakhir untuk mematikan KPK," tulis Novel di akun Twitternya, @nazaqistsha, Minggu (16/5/2021).

Karenanya, lanjut Novel, protes dari 75 pegawai KPK yang tidak lulus TWK merupakan bentuk perlawanan terhadap upaya untuk mematikan KPK.

"Alasan utama 75 pegawai protes karena setiap upaya untuk matikan KPK harus dilawan, dan memberantas korupsi adalah harapan masyarakat," tegas Novel.

Menurut Novel, upaya mematikan lembaga antirasuah itu dilakukan oleh pimpinan KPK sendiri. "Ironi, karena ini dilakukan oleh Pimpinan KPK," cuitnya. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli