Netral English Netral Mandarin
20:53wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Musni Sebut Giring Serang Anies karena Belum Punya Elektabilitas Sebagai Bakal Capres

Rabu, 22-September-2021 23:18

Rektor Universitas Ibnu Chaldun sekaligus Sosiolog Musni Umar
Foto : Istimewa
Rektor Universitas Ibnu Chaldun sekaligus Sosiolog Musni Umar
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sosiolog Musni Umar ikut mengomentari pernyataan Plt Ketua Umum PSI Giring Ganesha yang menuding Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai pembohong, pura-pura peduli dengan penderitaan warga yang terdampak pandemi Covid-19, hingga ego maju sebagai calon presiden di Pilpres 2024.

Menurut Musni, Giring yang telah mendeklarasikan diri sebagai bakal capres di Pilpres 2024 sebaiknya fokus memasang baliho agar dikenal masyarakat, ketimbang menyerang Gubernur Anies.

"Sebagai bakal Capres 2024 yang sudah pasang Baliho yang besar diberbagai sudut di JKT terus saja pasang baliho," tulis Musni di akun Twitternya, Selasa (21/9/2021).

Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) itu menilai, Giring menyerang Anies lantaran tak punya elektabilitas sebagai bakal capres.

"Jangan karena belum punya elektabilitas serang Anies. Memang serang Anies bisa hadirkan simpati publik?" cuit Musni.

Lebih lanjut, Musni mengatakan bahwa pernyataan Giring soal Anies pembohong bisa dibawa ke ranah pidana. "Sebut Anies pembohong pidana," pungkasnya.

Sebelumnya, Giring Ganesha menyebut Gubernur Anies sebagai pembohong karena yang disampaikan ke publik tidak sesuai dengan kebijakan yang dibuat.

Giring mengatakan, Anies kerap membuat pernyataan di media bahwa dia peduli dengan penderitaan rakyat yang dilanda pandemi Covid-19. Ia menilai, apa disampaikan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu cuma pura-pura.

"Anies di hadapan media selalu menampakan diri peduli dengan penderitaan rakyat karena pandemi. Tapi apakah dia peduli?. Pura-pura peduli adalah kebohongan Anies Baswedan di tengah pandemi dan penderitaan orang banyak," kata Giring dalam video yang diunggah di akun media sosial PSI, Senin (20/9/2021).

Pasalnya, di satu sisi, Giring menilaiGubernur Anies justru menggunakan uang rakyat demi egonya untuk menjadi calon presiden di Pilpres 2024 mendatang.

“APBD Jakarta yang begitu besar dia belanjakan untuk kepentingan ego pribadi untuk maju sebagai calon presiden 2024," tuturnya.

Sebagai contoh, Giring menyebut sikap Anies yang ngotot menggelar Formula E dan mengabaikan tekanan publik agar ajang balap mobil listrik itu dibatalkan.

"Dia mengabaikan tekanan rakyat yang meminta dia membatalkan rencana balap mobil Formula E dan menggunakan Rp 1 triliun uang rakyat untuk acara tidak berguna itu,” ujarnya.

Mirisnya, ungkap Giring, uang muka Formula E dibayar Anies pada saat pemerintah secara resmi mengumumkan negara dalam keadaan darurat karena pandemi.

“Uang sebanyak itu dihabiskan Anies di tengah penderitaan rakyat yang sakit, meninggal dunia, dan hidupnya susah karena pandemi," ucap mantan vokalis grup band Nidji itu.

"Uang Rp 1 triliun dia keluarkan padahal rakyat terlantar tidak bisa masuk rumah sakit yang penuh. Rakyat kesulitan makan karena kehilangan pekerjaan," tandas Giring.

Padahal, tambah Giring, Anies pernah mengaku bahwa DKI tidak punya dana untuk mengatasi Covid-19 dan meminta pemerintah pusat mengambil alih penanganan pandemi di Jakarta.

"Di tengah semua penderitaan rakyat Anies mengatakan 'menyerah, tidak bisa mengatasi situasi'. Dia mengaku tidak ada dana untuk mengatasi Covid dan minta pemerintah pusat mengambil alih penanganan Covid rakyat Jakarta," imbuhnya.

Karena itu, mantan vokalis grup band Nidji ini berkesimpulan bahwa Gubernur Anies bukanlah contoh pemimpin yang jujur dan mampu mengatasi krisis.

Pasalnya, tambah Giring, dalam menghadapi situasi krisis, seorang pemimpin adalah panglima yang mengambil tanggung jawab dan menyampaikannya kepada publik secara transparan situasi dan pilihan-pilihan yang diambil dalam merespon situasi.

"Saya percaya kejujuran adalah resep penting untuk keluar dari krisis. Situasi genting akibat pandemi ini memerlukan keterbukaan dan transparansi. Karena hanya dengan itu kita bisa mengidentifikasi masalah dengan benar dan mencari jalan keluar dari krisis," paparnya.

"Dalam situasi krisis, seorang pemimpin sejati harus berupaya keras mungkin untuk menyelamatkan rakyat, menyelamatkan kepentingan yang lebih besar. Gubernur Anies bukanlah sebuah contoh orang yang bisa mengatasi krisis,” jelas Giring.

Lebih jauh, Giring mengatakan rekam jejak Anies itu penting dijadikan bahan pertimbangan di Pilpres 2024 mendatang. Ia mengingatkan agar jangan sampai Indonesia dipimipin oleh Anies.

"Rekam jejak pembohong ini harus kita ingat sebagai bahan pertimbangan saat pemilihan nanti di 2024. Jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan pembohongan, jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan Anies Baswedan," pungkasnya.  

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli