Netral English Netral Mandarin
21:53wib
Enam belas tim telah memastikan lolos ke babak 16 besar Euro 2020 (Euro 2021) usai berlangsungnya matchday terakhir penyisihan grup, Kamis (24/6) dini hari WIB. Sejumlah daerah di provinsi Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta masuk kategori zona merah atau wilayah dengan risiko tinggi penularan virus corona (covid-19) dalam sepekan terakhir
Nadiem Sowan ke PBNU Minta Maaf, Mardani Ali: Jangan Seenaknya Mengubah Sejarah

Jumat, 23-April-2021 06:00

Politisi asal PKS, Mardani Ali Sera
Foto : Istimewa
Politisi asal PKS, Mardani Ali Sera
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Mendikbud Nadiem Makarim berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta dan ditemui oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Dalam kunjungan tersebut, Nadiem melakukan tabayun terkait kontroversi Kamus Sejarah Indonesia yang diterbitkan Kemendikbud sejak 2017.

Menyoroti kunjungan Nadiem, politisi asal PKS, Mardani Ali Sera angkat bicara. Mardani mengatakan, masih banyak saksi sejarah yang masih hidup.

Ia pun mengingatkan jangan seenaknya mengganti Pancasila dan mengubah sejarah. Mardani pun mempertanyakan menguatnya propaganda tragedi tahun 1965.

"Saksi sejarah kita masih banyak yg hidup, ulama dan agama juga menguat, pembela Pancasila mayoritas. TNI selalu mengingatkan waspada bahaya laten komunis," kata Mardani dalam akun Twitternya.

"Jadi, jangan seenaknya ingin ganti Pancasila dan mengubah sejarah. Propaganda 65 menguat ?" lanjut Mardani dalam akun Twitternya.

Dalam cuitan lainnya, Mardani juga menanggapi fakta hilangnya KH Hasyim Asy'ari dalam buku sejarah. Kasus tersebut adalah hal besar, jadi tak cukup hanya dengan meminta maaf.

Dirinya mengusulkan perlu adanya investigasi menyeluruh, terkait motif hilangnya pahlawan nasional, yang juga pendiri NU tersebut.

"Fakta hilangnya KH Hasyim Asyari dalam buku Sejarah adalah perkara besar. Tidak boleh selesai dengan minta maaf," ujar dia.

"Perlu dilakukan investigasi menyeluruh terkait motif di balik hilangnya nama pahlawan nasional sekaligus pendiri ormas NU tsb," lanjutnya.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Nazaruli