Netral English Netral Mandarin
10:59wib
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan informasi tentang peringatan dini cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia untuk Minggu 1 Agustus 2021. Seluruh gerai Giant di Indonesia resmi tidak lagi beroperasi di Indonesia mulai hari ini, Minggu (1/8/2021).
Naik Turun Harga Sawit Tak Pengaruhi Momentum Calon Emiten

Selasa, 22-Juni-2021 22:00

Ilustrasi Sawit
Foto : Istimewa
Ilustrasi Sawit
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Harga komoditas minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global dalam beberapa waktu terakhir yang mengalami fluktuasi, dinilai tidak mengurangi momentum bagi calon emiten sawit yang ingin melantai di bursa pada tahun ini. 

Hal ini karena penawaran saham perdana dari emiten sawit tetap dinanti investor lantaran menjanjikan kinerja dan prospek pasar yang cerah.

Sempat menanjak hingga harga tertinggi di kisaran 4.000 ringgit per ton sejak akhir tahun lalu, kini harga komoditas minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global mengalami koreksi. Harga CPO global mengalami koreksi hingga 363 poin untuk kontrak Agustus 2021. 

Baca Juga :

Posisi harga CPO kini berada pada kisaran 3.663 ringgit per ton.Lembaga riset Fitch Solutions memperkirakan pada 2021, harga CPO global bakal finish pada kisaran 3.400 ringgit per ton. Angka ini lebih tinggi dibandingkan estimasi yang dikeluarkan Fitch Solutions sebelumnya pada level 3.050 ringgit per ton.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menyampaikan dinamika tersebut masih dalam taraf wajar.

Baca Juga :

Sebab, melesatnya harga CPO sejak akhir tahun lalu dirangsang banyak faktor seiring pandemi yang terjadi sejak 2020. 

Harga yang melesat tinggi, menurut Hans, merupakan imbas perekonomian yang terhenti. Dari sisi distribusi mengalami pukulan berat.

Baca Juga :

“Kalau diamati, [tahun ini] ekonomi mulai jalan tapi bahan baku belum masuk. Selama lockdown ekonomi jalan tapi bahan baku tidak datang, sehingga 2021 waktu mulai jalan lagi ekonomi, kekurangan bahan baku. Karena itu permintaan bahan baku di berbagai negara meningkat makanya demand tinggi mendorong harga naik, tapi yang naik lebih banyak biaya transportasi,” paparnya. 

Hans menilai akan terjadi siklus harga untuk komoditas seperti sawit hingga komoditas energi lainnya antara lain batu bara. Namun, lanjutnya, untuk batu bara akan sulit bergerak karena didera isu lingkungan yang lebih berat dibandingkan sawit.

Di sisi lain, permintaan sawit akan terus ditopang dengan adanya upaya hilirisasi komoditas tersebut. “CPO jadi menarik karena ada isu B20 dan B30. Meski terus ada black campaign dituding tidak ramah lingkungan. Dan lagi, harga CPO paling murah dari 17 minyak nabati,” terangnya.

Walau demikian, hal tersebut tidak mengurangi momentum bagi calon emiten sawit yang berhasrat melantai di bursa pada tahun ini. 

Menurut Hans, IPO dari emiten sawit tetap dinanti para investor karena menjanjikan kinerja dan prospek pasar yang cerah.

“Jadi kalau mau bilang komoditas bagus yang mau IPO kalau memenuhi standar aturan, pembukaan lahan dan lainnya yang sesuai aturan standar, bisa jual harga tinggi dan saham bagus,” tegasnya. 

Sejauh ini, produsen sawit nasional perlahan memperkuat posisi dan rantai pasok domestik seiring proses hilirisasi produk yang tengah berjalan kencang. Permintaan domestik produk

Reporter : PD Djuarno
Editor : Sesmawati