3
Netral English Netral Mandarin
21:58 wib
Timnas Indonesia U-23 akan berhadapan dengan Bali United dalam laga uji coba yang akan berlangsung hari ini. Pemerintah masih menganggap persoalan di tubuh Partai Demokrat yang berujung pada Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang merupakan persoalan internal partai.
Namanya Diseret Pandji, Thamrin Tamagola Bantah Sebut Muhammadiyah dan NU Elitis

Sabtu, 23-January-2021 13:00

Panji
Foto : Istimewa
Panji
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sosiolog Thamrin Tomagola buka suara setelah namanya terseret dalam pernyataan komika Pandji Pragiwaksono yang membandingkan antara FPI dengan NU dan Muhammadiyah.

Adapun sebelumnya Pandji menyebut Thamrin Tomagola pernah mengatakan bahwa FPI dekat dengan rakyat dan kerap memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, sementara NU dan Muhammadiyah disebut jauh dari rakyat karena terlalu tinggi dan elitis.

Menanggapi hal itu, Thamrin Tomagola menyatakan, konteks pembicaranya dengan Pandji kala itu adalah membahas kondisi kehidupan kelompok miskin kota (Miskot) di perkampungan kumuh miskin (Kumis) Jakarta.

"Tanggapan saya, konteks pembicaran saat itu adalah membahas kondisi kehidupan kelompok miskin kota (Miskot) di perkampungan kumuh miskin (Kumis) Jakarta," tulis Thamrin di akun Twitter-nya, Jumat (22/1/2021).

Menurut Thamrin, saat itu ia berbicara bahwa NU dan Muhammadiyah kurang menyambangi dan mendampingi meringankan beban kehidupan ummat kelompok miskin kota di perkampungan kumuh miskin Jakarta. Kekosongan itulah kemudian diisi oleh FPI.

"Kekosongan pendampingan itu kemudian diisi oleh FPI. FPI punya konsep "Kiyai Kampung" yang pintu rumahnya terbuka 24 jam untuk ummat kelompok Miskot di perkampungan Kumis Jakarta; sama seperti terbukanya 24 jam pintu rumah para Kiai NU di pedesaan Jawa dan Kalimantan," jelas @tamrintomagola.

Sementara soal pernyataan Pandji yang mencatut nama 'rakyat' hingga menuding NU dan Muhammadiyah "elitis", Thamrin menyatakan tak tahu menahu soal itu.

“Penggunaan kata 'rakyat' dan 'elitis' sebaiknya ditanyakan kepada Sdr. Pandji sendiri," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, nama komika Pandji Pragiwaksono sempat ramai diperbincangkan gara-gara pernyataannya yang menyoroti pembubaran FPI oleh pemerintah dalam video berjudul "FPI Dibubarin Percuma? Feat Afif Xavi & Fikri Kuning" yang diunggah di kanal YouTube-nya pada (4/1/2021) lalu. 

Dalam video itu, Pandji membahas banyak hal tentang FPI. Salah satunya ia menilai percuma membubarkan FPI, karena ormas bentukan Habib Rizieq Shihab (HRS) itu bisa hadir lagi dengan nama yang berbeda. 

"Ngebubarin sih percuma kayak nutup situs bokep, mau sampai kapan, entar juga kebuka lagi aja, nggak ada ujungnya gitu," kata Pandji. 

Pandji menyebut bahwa sosiolog Thamrin Amal Tomagola pernah mengatakan jika FPI dekat dengan rakyat dan kerap memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, sementara NU dan Muhammadiyah disebut jauh dari rakyat.

"Pak Thamrin Tomagola bilang bahwa FPI itu hadir gara-gara dua ormas Islam yang gede itu udah jauh sama rakyat, itu Muhammadiyah dan NU, jauh ke bawah, mereka itu elit-elit politik. FPI waktu itu dekat ke rakyatnya," ujarnya. 

Pandji kemudian memberikan contoh bagaimana FPI membantu rakyat seperti yang didengarnya dari Thamrin Amal Tomagola. 

"Ini gue dengar dari Pak Thamrin Tomagola, dulu nih FPI nih tahun 2012, kalau misalnya ada anak mau masuk di sebuah sekolah, kemudian nggak bisa masuk, itu biasanya orang tuanya ke FPI minta surat. Dibikinin surat dari FPI, dibawa ke sekolah, itu anak bisa masuk, terlepas dari surat itu menakutkan bagi sekolahnya, tapi nolong warga gitu,” cerita Pandji. 

"Kalau misalnya ada yang sakit, ini sering kejadian nih, ada warga yang sakit mau berobat, nggak punya duit, ke FPI, kadang-kadang FPI ngasih duit, kadang FPI ngasih surat. suratnya dibawa ke dokter jadi diterima," sambungnya. 

Pandji kembali mengatakan jika warga lebih memilih meminta bantuan ke FPI karena NU dan Muhammadiyah terlalu tinggi dan elitis. Ia menyebut bahwa apa yang disampaikannya itu berdasarkan obrolannya dengan Thamrin.

"Tapi kenapa bisa seperti begitu, karena kata Pak Thamrin Tomagola pintu rumahnya ulama-ulama FPI kebuka untuk warga, jadi orang kalau mau datang bisa. Nah, yang NU dan Muhammadiyah karena terlalu tinggi dan elitis, warga tuh nggak kesitu, warga justru ke nama-nama besarnya FPI," ucap dia. 

Pandji menambahkan, kebanyakan kelompok masyarakat kelas menengah berusaha menghindar ketika ada rakyat kecil yang ingin meminta bantuan. Hal tersebut, lanjutnya, berbeda dengan yang dilakukan FPI.

"Kebanyakan kelas menengah kalau ada yang assalamu'alaikum, lu pura-pura kagak ada di rumah, assalamu'alaikum nggak lu buka pintunya, gue aja kadang-kadang kayak gitu. Ada yang mau minta duit gue tutup pintunya," paparnya.

"Nah ini ada masyarakat lagi butuh bantuan, kita tutup pintu kita, elitis tutup pintu, yang ngebuka siapa? FPI. Makanya mereka pada pro FPI. Makanya FPI ada ketika mereka butuhkan," terangnya.

Untuk itu, Pandji menilai, pembubaran FPI tidak menyelesaikan masalah lantaran FPI menyediakan bantuan bagi rakyat yang membutuhkan.

"Makanya gue pernah bilang, bubarin FPI itu gampang tapi nggak menyelesaikan masalahnya. Karena FPI menyediakan bantuan ketika rakyat lagi butuh. Selama lu nggak ngasih bantuan ketika rakyat lagi butuh maka rakyat kecil ini akan selalu nyari ormas lain untuk cari bantuan," jelas Pandji.

Menurutnya, jika ingin ormas seperti FPI tidak menjadi besar, maka masalah sosial harus diselesaikan. "Jadi kalau lu nggak mau ormas itu nambah terus kekuatan dan nggak mau itu tambah gede ya lu juga harus menyelesaikan masalah sosial yang ada di lingkungan lu. Karena ketidakpedulian lu terhadap masalah sosial akan berbalik dalam bentuk permasalahan sosial lagi," tandasnya.

Pandji juga berpendapat bahwa membubarkan ormas itu gampang, namun yang gampang biasanya merupakan solusi yang salah. Ditegaskannya, hal yang sulit dilakukan ada peduli pada masyarakat sekitar seperti yang dilakukan FPI.

"Jadi bubarin ormas itu gampang, karena gue selalu bilang yang gampang itu biasanya solusi yang salah, yang susah adalah yang benar. Yang gampang adalah bubarin ormas, yang susah adalah peduli pada masyarakat sekitar, sebagaimana FPI peduli sama lingkungan terdekat," pungkas Pandji.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati