Netral English Netral Mandarin
23:31wib
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan keputusan pemerintah untuk menggelontorkan dana triliunan rupiah ke perusahaan-perusahaan produsen minyak goreng dinilai sudah sangat tepat. Komisi Pemberantasan Korupsi mengembangkan kasus korupsi proyek infrastruktur di Kabupaten Buru Selatan 2011-2016.
Ngeri! Tiga Malam Rawat Inap Ditemani Pocong

Sabtu, 15-January-2022 20:24

Ilustrasi ruangan rawat inap
Foto : Kasih Group
Ilustrasi ruangan rawat inap
0

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – Nadjla (18) mengusap wajahnya sambil tersenyum gembira. Namun, sebulan lalu, boro-boro ia bisa ketawa-ketiwi bersama teman-temannya.

Nadjla baru sembuh dari operasi pasang ring di ginjalnya. Ia sempat dirawat di sebuah Rumah  Sakit yang baru beroperasi di kotanya. Sayangnya, kepada Netralnews.com, ia tak mau menyebutkan nama rumah sakitnya, karena takut, katanya.

Gadis yang baru lulus SMA itu mengaku masih sering merinding jika mengenang saat ia berobat dan menginap di rumah sakit. Selain karena menahan sakit, ia juga harus menahan dari rasa takut selama tiga malam menginap di rumah sakit.

“Ngeri Mas. Ada penampakan pocong berkali-kali mengganggu saya saat rawat inap. Selama tiga malam dua kali penampakan. Pertama sedang terbaring di samping tempat tidur yang saya gunakan, kedua tiba-tiba muncul dan jalan di lorong bangsal. Saya melihatnya dari balik jendela. Semua kejadian selalu lewat tengah malam,” kata Nadjla melalui  sambungan telpon kepada Netralnews, Jumat (14/1/ 2022).

Menurut penuturannya, di malam pertama, Nadjla nyaris tak bisa banyak bergerak karena ia sedang sakit-sakitnya. Ia divonis mengalami gangguan fungsi ginjal gegara sejak kecil lebih sering mengonsimsi minuman berwarna ketimbang air putih.

Mengenai kebiasaan tersebut, ia mengaku kapok dan akan merubah pola hidupnya  dengan lebih banyak mengonsumsi minuman air putih.

“Malam pertama, saya hanya bisa menangis. Ibu saya sudah tidur di bawah tempat tidur saya. Bangsal masih sepi, karena rumah sakit kan masih baru operasi dan belum ramai. Mungkin hanya sekitar tiga pasien menginap di bangsal saya. Bisa dibilang, saya dan tiga pasien lain itu adalah pasien rawat inap perdana di rumah sakit yang baru beroperasi itu,” tutur Nadjla.

Ia mengaku melihat sosok pocong terbujur dan membelakangi dirinya di samping tempat ia terbaring menahan sakit. Ia tak bisa gerakkan badan dan kaki karena sakit sekali. Akhirnya, ia pukul-pukul besi penahan tampat tidur untuk membangunkan ibunya karena saking takutnya.

“Tangan kanan saya diinfus. Saya takut bengkak, maka tangan kiri saya yang saya pukul-pukulkan ke besi penahan di samping kiri tampat tidur. Mama pun bangun. Ia terkejut karena melihat saya menangis. Saya tak bisa berkata apa-apa karena ada dua hal yang saya tahan. Pertama menahan sakit, kedua ketakutan melihat pocong. Dan, Mas mau tahu nggak, begitu saya pukulkan tangan saya ke besi dan ibu saya bangun, pocong itu menghilang persis saat saya menengok ke kanan lagi (tempat tidur di samping Nadjla, red),” kenang Nadjla.

Hari kedua, Nadjla menjalani operasi pemasangan ring. Malam kedua ia sudah bisa merasakan badanya lebih enak ketimbang malam pertama. Ia juga sudah bisa bercerita tentang malam pertama. Namun, ibunya hanya terbengong sementara ayahnya malah tak percaya dan meminta agar Nadjla tak takut.

Meski demikian, Nadjla masih saja dihinggapi rasa was-was dan malam harinya ternyata benar-benar  kembali terjadi. Ia menyaksikan kembali penampakan pocong berjalan di atas lantai tanpa kaki di lorong bangsal.

Nadjla kali ini berteriak memanggil-manggil mamanya. Mamanya terbangun dan berusaha menenangkan Nadjla. Sayangnya Nadjla tak bisa membuktikan apa yang dilihatnya kepada ibunya. Sosok pocong itu tak terlihat lagi di balik jendela.

Alhasil, malam kedua, Nadjla dan mamanya menghabiskan malam dengan tak sekejab pun bisa terlelap.  Nadjla dan ibunya akhirnya habiskan waktu dengan membaca doa dan sejumlah ayat suci Alquran melalui gawai yang mereka bawa.

“Dari jam 02.00 dini hari sampai hari terang akhirnya saya dan mama tak bisa tidur lagi. Saya baru terlelap sekitar jam 07.00. Bangun ketika dokter datang mengontrol kondisi saya sekitar pukul 10.00,” kata Nadjla.

Merasa tidak tenang, orangtua Nadjla akhirnya  meminta pindah ruangan dengan penjelasan apa adanya. Mungkin karena ingin memberikan pelayanan yang baik di awal beroperasi, permintaan itu dikabulkan. Selain itu, mereka juga mempertimbangkan psikologi Nadjla agar bisa tenang dan beristirahat.

Di malam ketiga, barulah Nadjla bisa istirahat dengan tenang. Namun dalam tidurnya, Nadjla mengaku bermimpi ia dituntun oleh sesosok kakek berbaju putih. Nadjla merasa seolah sedang berjalan di pematang sawah yang tinggi dan di samping kirinya terdapat sungai dengan arus deras dan penuh batu-batu besar.

“Sempat mimpi Mas. Saya dituntun seorang kakek berbaju putih, hingga sampai di rumah. Saat sampai di rumah, ada Mama dan Papa menjemput saya. Namun lucunya, selama dalam mimpi, tak ada sepatah kata pun muncul dari mulut sikakek maupun dari mulut mama dan papa,” tutur Nadjla.

Di hari keempat, Nadjla sudah diperbolehkan untuk pulang. Selanjutnya ia diminta rawat jalan.

Kenangan menjadi pasien rawat inap yang pertama tersebut sangat berarti buat Nadjla.

“Saya dah kapok. Maunya tak pernah rawat inap lagi. Takut. Juga kepada teman-teman, saran saya, seringlah minum air putih dan jangan terlalu sering mengonsumsi minum-minuman botolan berwarna seperti *** (Nadjla menyebutkan beberapa merek minuman, red). Saya menyesal karena terbukti akhirnya ginjal saya bermasalah,” demikian pesan Nadjla kepada para pembaca melalui Netralnews.  

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto

Berita Terkait

Berita Rekomendasi