• News

  • Cantik & Gaya

Lebaran Tak Lengkap Tanpa Baju Koko, Ini Maknanya

Lebaran tak lengkap tanpa baju koko.
Wow Keren
Lebaran tak lengkap tanpa baju koko.

JAKARTA, NETRALNEWS.COMBaju muslim pria biasa disebut baju koko kini hadir tidak monoton, baik dalam ragam desain dan motif. Perancang Itang Yunasz, rumah mode busana muslim ekslusif Shafira, ikut merancang baju busana muslim pria menyambut Idul Fitri 1440 H. 

Baju koko telah lama dikenal di kalangan muslim pria. Tampilan baju koko cukup khas, yaitu: atasan longgar, lengan panjang, tanpa kerah atau biasanya hanya kerah Shanghai, variasi ornamen pada leher dan bagian bagian dada. Baju koko dengan kerah model Shanghai telah lama dikenal di kalangan muslim. Biasanya baju memakai bahan katun sehingga nyaman dipakai. 

Kaum pria muslim di Indonesia, biasanya memakai baju koko ketika menunaikan sholat, di acara-acara agama, hari besar muslim seperti di bulan Ramahdan, Idul Fitri, Idul Adha dan lain-lain. Namun, kini baju koko banyak dipakai di kantoran, walaupun biasanya dipakai di hari Jumat saja.

Pengamat mode Ichwan Thoha mengatakan menilik sejarah diperkirakan baju koko merupakan baju pria di daratan Tiongkok.Baju ini telah beradaptasi dengan masyarakat Indonesia sejak dulu. Kerajaan Islam sudah banyak berhubungan dengan bangsa Tiongkok. Baju tersebut masuk ke Indonesia dibawa saat orang-orang Tiongkok berdagang.

“Walau sebenarnya, sebelum kerajaan Islam berdiri, kerajaan-kerajaan di Nusantara seperti Sriwijaya dan Tarumanegara diketahui sudah berhubungan dengan bangsa Tiongkok,” ujar Ichwan pada Netralnews, Senin (3/6/2019).

Pendapat lainnya, baju koko ini digunakan identitas masyarakat Tiongkok yang menjadi muslim di Indonesia. Saat penjajahan Belanda, mereka tidak suka melihat kedekatan orang Indonesia dengan Tiongkok karena dikhawatirkan dapat menimbulkan perlawanan. Untuk menyiasatinya, orang Tiongkok muslim ini memakai baju koko saat ke masjid dan menjadi ‘tanda’ bagi mereka. Dari sinilah busana Tiongkok ini perlahan dipakai sebagai busana muslim pria Indonesia. 

 

Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?