• News

  • Cantik & Gaya

Keindahan Kain Songket Nusantara

Kain songket tidak harus dikenakan sebagai kain, melainkan busana siap pakai. (Dok:Kainnusantara)
Kain songket tidak harus dikenakan sebagai kain, melainkan busana siap pakai. (Dok:Kainnusantara)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Memakai  kain songket untuk pesta merupakan hal yang biasa. Namun bagaimana dengan memakai gaun dari bahan songket, Anda akan terlihat berbeda. 

Suatu hari di sebuah perhelatan pengantin Palembang tampak demikian mewah. Warna keemasan mendominasi pesta yang digelar di hotel bintang lima. Bukan hanya kedua mempelai dan orangtua pendamping mereka yang mengenakan songket, para tamu pun kebanyakan datang dengan kebaya yang dibalut kain tersebut, dan tidak sedikit yang mengenakan gaun atau sekedar bolero dari bahan songket. 

Gambaran di atas menunjukkan betapa kain songket sudah sangat memasyarakat. Para sosialita dengan bangga mengenakan ‘garis’ songket kemana-mana.  Termasuk menjemput anak ke sekolah, mal, menghadiri gathering, arisan sampai pesta-pesta pernikahan dan lainnya.  Mereka memadukan songket bukan sekedar sebagai kain tapi jadi rok dan blus, dress atau bolero.  

Sejak dahulu kala hingga kini, songket adalah pilihan populer untuk busana adat perkawinan di Sumatera, Melayu pada umumnya, dan Palembang menjadi yang sangat terkenal. Mengapa songket Palembang? Perancang Chossy Latu yang kerap mengembangkan songket menjadi busana modern ini mengaku buatan bumi Sriwijaya masih terbaik dibandingkan daerah lain. Karena itu dia tertarik membuat gaun anggun dari songket. Agar benang emas yang melekat pada kain tidak banyak terbuang, dia meminta pembuat songket untuk mengikuti desain pakaian yang akan dirancangnya. 

Tanpa menghilangkan ciri khas dari kain songket Palembang itu, Chossy  membuat aneka dress, juga blazer yang elegan. Perpaduan gaun brokat dengan cardigans songket, serta gaun sutera dengan long coat panjang juga menjadi koleksi rancangan desainer tersebut.

Memang sulit dicari asal-usul kapan kain songket pertama kali dibuat, untuk apa, dan di mana. Bisa jadi kain ini dibuat pertama kali di kerajaan Sriwijaya, mengingat bahwa kerajaan ini merupakan pintu masuk budaya yang beragam dan perdagangan dari berbagai negara. Namun, kalau dilihat lebih seksama dari motif yang ada, unsur-unsur yang mendominasi dalam kain tenun songket adalah  budaya Tiongkok dan India. 

Tentu saja hal  ini diperkuat lagi dengan  penampilannya yang gemerlap hiasan  benang emas. Bahkan yang biasa dikenakan kaum bangsawan benar-benar emas dan kainnya dari bahan sutra. Konon ketika itu, setiap kelompok bangsawan memiliki corak motif masing-masing, untuk membedakannya dari kelompok yang lain. 

Kalau kita lihat kilas balik lahirnya Pelambang yang merupakan titisan dari peninggalan kerajaan Sriwijaya sangat kaya dengan emas dan berberbagai logam mulia lainnya.  Sebagian emas tersebut dikirim ke Negeri Siam (Thailand) untuk dijadikan benang emas yang kemudian dikirim kembali ke Sriwijaya. Oleh para perajin benang emas tersebut  ditenun dengan menggunakan benang sutra berwarna yang pada masa itu diimpor dari Siam (Thailand), India dan Tiongkok. Perdagangan internasional membawa pengaruh besar dalam hal pengolahan kain songket terutama dalam memadukan bahan yang akan digunakan sebagai kain songket.

Untuk tradisi di Palembang, kain ini sering diberikan oleh pengantin laki-laki kepada mempelai wanita sebagai salah satu hantaran persembahan perkawinan. Kain songket untuk raja dan keluarganya tentu memerlukan bahan dan pengerjaan yang lebih dominan emasnya. Benang sutra yang dilapisi emas menjadi bahan paling menonjol dalam pembuatannya. Di masa kini, busana resmi laki-laki Melayu pun kerap mengenakan songket sebagai kain yang dililitkan di atas celana panjang atau menjadi destar, tanjak, atau ikat kepala. Sedangkan untuk kaum perempuannya songket dililitkan sebagai kain sarung yang dipadu-padankan dengan kebaya atau baju kurung. 

 

Editor : Sulha Handayani