• News

  • RS Corner

Jokowi-Prabowo Harus Mengganyang Tujuh ‘Setan’ Penghambat Kemajuan Indonesia

Pengusaha nasional, Ricky Sutanto
dokumen NNC
Pengusaha nasional, Ricky Sutanto

JAKARTA, NNC - Sebagai negara besar, Indonesia memang memiliki tantangan dan masalah yang tak sedikit. Bila diklasifikasikan, ada sekian masalah yang belum berhasil dituntaskan.

Untuk itulah, para capres hendaknya benar-benar mencermati semua masalah itu. Siapapun nanti yang terpilih dan menjadi orang nomor satu di negeri ini, harus menuntaskannya.

Menyitir pemikiran Ricky Sutanto dalam bukunya, 2015 Kita Terkaya No 5 (2004), paling tidak ada tujuh "setan" yang selalu mengincar dan merongrong Indonesia. Bila tidak dituntaskan, tujuh “setan” itu akan terus melahirkan dosa yang harus ditanggung anak cucu kita.

Ricky Sutanto, pendiri Blossom Group dan NNC pernah memperkirakan Indonesia mampu menjadi negara terkaya ke-5 di dunia. Namun karena bayang-bayang tujuh “setan” itulah, untuk menuju negara terkaya nomor lima, masih membutuhkan waktu lagi.

Senada dengan Ricky Sutanto, Stephen R. Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People (1989), juga menyebut ada tujuh dosa yang dilakukan pemimpin negara-negara berkembang untuk bisa mewujudkan negara yang ia pimpin menjadi kaya dan sejahtera.

Apa saja tujuh “setan” itu? Berikut ini, garis besar tujuh “setan” yang akan terus merongrong Indonesia.

Pertama, kaya tanpa kerja (wealth without work). Sifat ini dapat dilihat dari tingginya kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme. Di zaman Orde Baru, “setan” KKN pernah benar-benar menggurita.

Mentalitas ingin kaya tanpa kerja menjangkiti setiap generasi seperti penyakit menular. Saat reformasi meletus, “setan” ini ingin dimusnahkan namun hingga kini  belumlah berhasil dibersihkan.

Kedua, kesenangan tanpa hati nurani (pleasure without conscience). Hasrat menjadi kaya tanpa kerja keras, juga menghantui masyarakat Indonesia. Kalau sudah kaya, maka ingin foya-foya. Mentalitas ini membawa hasrat berpesta pora tanpa kerja keras.

Ini pula yang menjangkiti politisi akhir-akhir ini. Tatkala kaya dan tahta diraih, dorongan pesta menjerumuskannya ke dalam dunia narkoba dan prostitusi.

Ketiga, pengetahuan tanpa karakter (knowledge without character). Ilmu pengetahuan dan teknologi mutlak diperlukan. Sebagai negara yang menjunjung demokrasi, kita bebas mengaksesnya. Namun tanpa karakter kuat, manusia Indonesia justru akan rusak oleh karenanya.

Untuk itu, jiwa Pancasila harus benar-benar diresapi dan diamalkan sebagai identitas yang membentengi arus budaya yang merusak di balik ilmu pengetahuan dan teknologi.

Keempat, bisnis tanpa moralitas (business without morality). Bisnis mempunyai tugas utama untuk menciptakan kesejahteraan dunia. Akan tetapi, seringkali berbelok semata untuk memperkaya diri dalam kerakusan tanpa kendali.

Atas nama bisnis, lingkungan alam sering diabaikan. Pencemaran akibat usaha produksi dilalaikan. Dan kerusakannya harus ditanggung oleh masyarakat bangsa.

Pelaku bisnis harus dituntut bertanggung-jawab bagi kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Bila tidak, kepincangan ekonomi dan kesenjangan miskin-kaya yang terlalu lebar niscaya akan melahirkan konflik dan rentan menciptakan kekacauan (chaos).

Kelima, ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kemanusiaan (science without humanity). Ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan tidak sedikit yang mengabaikan prinsip-prinsip mendasar yang menjamin hak asasi manusia dan kemanusiaan.

Atas nama kepentingan tertentu, senjata dan bom perusak massal dimainkan dalam perang yang masih saja digunakan sebagai model penyelesaian masalah. Seolah tak bisa lagi diselesaikan dengan cara-cara damai dan beradab.

Teknologi juga telah membuka celah bagi bahaya di balik praktik kloning manusia, pornografi di media elektronik, penyebaran paham terorisme, dan lain sebagainya.

Keenam, agama tanpa pengorbanan (religion without sacrifice).  Bangsa Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Akan tetapi banyak sekali orang fasih dan berbicara dengan atas nama agama, tetapi miskin praktek.

Sementara di sisi lain, pandangan agama justru digunakan untuk memberangus kelompok lain yang tidak sepaham. Kehidupan gotong royong, bertetangga dengan damai, kerjasama dirusak oleh praktik keagamaan yang sempit.

Ketujuh, politik tanpa prinsip (politic without principle). Untuk meraih kekuasaan, kadang menempuh segala cara. Hoaks pun tak jarang digunakan untuk memukul lawan dan menarik massa.

Seharusnya politik digunakan sebagai alat untuk menyejahterakan bangsa namun seringkali terhenti hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya semata. Kecenderungan politik yang tidak beretika akan merusak proses pembangunan watak bangsa, pembangunan sumber daya manusia, maupun pembangunan secara fisik .

Itulah tujuh “setan” yang harus dilawan oleh bangsa Indonesia, khususnya calon pemimpin negeri ini. Prabowo maupun Jokowi harus mengganyangnya. Sekali lagi, siapapun yang nanti menang dalam pemilu, bertanggung jawab melawan tujuh “setan” tersebut.

Editor : Taat Ujianto